The Journey Begin

Suatu malam, 2 November 1988,,,

9 P.M.

\\……Aku terhimpit di sebuah ruangan yang sangat sempit juga sangat gelap. Dahulu ruangan ini tidak sesempit sekarang, tapi semakin lama terasa semakin menghimpitku. Sepertinya telah empat puluh minggu aku berada di sini. Aku ingin segera bebas dari tempat ini. Aku merasa di luar sana terdapat dunia baru yang lebih luas dan menyenangkan menungguku. Aku sudah bosan, tak ada teman di sini. Lalu aku mulai menggerakkan anggota tubuhku. Aku menggerakkan kakiku, aku menendang-nendang ruangan ini. Berharap tendanganku bisa mengeluarkanku, atau setidaknya memberi isyarat pada seseorang di luar sana untuk membebaskanku dari dunia sempit ini. Namun biasanya, setiap kali ku menendang, aku mendengar teriakan kesakitan dari luar sana. Aku tak tega mendengarnya, namun aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya ini yang bisa kulakukan, aku sudah tidak tahan lagi dan ku terus menerus menendang dinding ruangan ini……..\\

9.30 P.M.

\\…. Kali ini berbeda dengan biasanya. Masih terdengar suara jeritan seorang wanita, tapi kali ini aku dapat mendengar juga ada sesuatu yang lebih ramai dari biasanya. “Pisau! Gunting!’, ucap salah seorang di luar sana, walaupun aku tidak mengerti makanan apakah pisau dan gunting itu. Aku juga mendengar suara gesekan besi. Hmm,, perlahan kurasakan ruangan ini bergerak melebar dari biasanya…..\\

10.10 P.M.

\\…. Wowwww,,,,,,, terang sekaliii. Dunia apakah ini? Apakah ini dunia di balik ruangan sempit itu? Berarti aku sudah terbebas dari sana? Namun ku berpikir dimanakah ruangan sempit itu tadi? Ah, tak usah ambil peduli. Toh aku tak akan mau kembali ke sana. Aku kini berada di dunia yang (kupikir) lebih indah dari tempat sebelumnya…..\\

\\….. Perasaanku sangat gembira sekali. Aku berada di sebuah ruangan yang putih terang. Di ruang yang terang itu perlahan kulihat ada wajah-wajah manusia lain. Akhirnya aku tak sendirian lagi🙂 . Aku melihat beberapa orang berpakaian hijau berdiri mengelilingiku. Mereka tampak puas melihatku berada di dunia ini, seolah mereka telah berhasil melakukan suatu pekerjaan yang sulit.

Lalu aku berpaling lagi mencari ada siapa lagi kah di ruangan itu. Kemudian salah seorang berbaju hijau yang sejak tadi menggendongku memutar diriku dan membuat pandanganku beralih kepada seorang wanita. “Hey, siapakah dia?”, pikirku. Aku melihat seorang wanita yang berbaring, ia tampak sangat kelelahan. Tapi ada yang aneh, kelelahannya itu tertutupi oleh senyuman indah di wajahnya. Ia melihatku dengan sebuah senyuman ikhlas tanda sayang kepadaku. Ah,, melihatnya seperti melihat seorang bidadari dari surga yang sangat baik hati. Sepertinya ia lah yang paling senang ketika diriku berada di sini. Suatu saat nanti aku tahu bahwa aku akan memanggilnya dengan sebutan “Umi”.

Aku coba lagi mengecek keadaan sekitar. Kulihat lagi ada seorang dengan senyuman yang sama, kali ini seorang pria. Ialah ayahku yang sejak tadi menungguku datang ke dunia ini. Terima kasih ayah telah memperhatikanku. \\

\\… Aku sangat bahagia. Namun bukan tawa bahagia yang kulakukan, melainkan sebuah tangisan. Tangisan bahagia karena aku pernah terlahir ke dunia ini. Juga tangisan sedih, karena kutahu dunia ini pastilah menungguku untuk berbuat sesuatu. Selamat datang, Dhimas Lazuardi Noer!!!\\

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s