Upgrading Pendidikan Indonesia dan Inovasi Teknologi pada Industri

Hampir 62 tahun sudah negeri ini merdeka. Telah terlihat perbedaan kehidupan yang terjadi dibanding zaman penjajahan dahulu. Di kota metropolitan, gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan kokohnya, Mall dan supermarket bertebaran melambangkan gaya kehidupan kota yang glamour, ribuan mobil mewah beriringan mewarnai keramaian kota. Merupakan suasana yang tentunya sangat berbeda dibanding sebelum merdeka dahulu. Namun, di balik semua kemegahan yang ada, masih terdapat rakyat-rakyat kecil yang kelaparan. Mereka tak berada jauh dari komunitas orang kota, melainkan sangat dekat, bahkan mereka berada di belakang rumah-rumah orang kota ini. Menurut Badan Pusat Statistik, penduduk miskin Indonesia yang memiliki penghasilan di bawah 2 dollar per hari berjumlah 37 juta jiwa. Jumlah yang cukup banyak mengingat keberlimpahan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Kenapa bisa seperti ini. Ketidakseimbangan telah terjadi antara potensi bangsa dan nilai dari bangsa itu sendiri.

Lalu, bagaimana caranya agar dapat menaikkan taraf perbaikan bangsa. Tentunya hal yang paling utama dimulai dari kemandirian ekonominya. Hutang yang masih triliyunan ini tak akan pernah terbayar sampai kita memiliki suatu aset ekonomi yang strategis. Dan salah satu aset ekonomi yang dapat dikembangkan di Indonesia ialah pada sektor industri riilnya. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah mulai dari laut, pertambangan, hutan, pertanian, juga perkebunan belum dapat teroptimalisasi dengan baik. Bayangkan, kita merupakan negara penghasil minyak bumi yang cukup besar, namun di daerah-daerah sering terjadi kekurangan stok minyak. Negara kita memiliki luas lautan ¾ kali dari luas daratannya, namun potensi laut yang sudah tereksplor sangat sedikit, sampai-sampai garam pun kita mengimpor. Gejala yang aneh bukan? Apakah yang salah dalam memanfaatkan potensi kekayaan alam kita?

Ternyata jumlah sumber daya alam yang banyak tidak cukup untuk dapat menaikkan kekayaan negara. Walaupun secara kuantitas sudah bagus, namun secara kualitas sumber daya alam kita kalah bersaing dengan negara lain. Hal ini disebabkan karena kurangnya penerapan teknologi dalam pengolahan SDA kita. Dapat kita lihat bahwa negara-negara maju sudah terbiasa memanfaatkan teknologi DNA untuk membuat bibit unggul, sementara kita masih berkutat pada hibridisasi tanaman. Atau kita lihat dari teknologi yang digunakan di perindustrian pengecoran besi, ketika Jepang sudah memakai mesin untuk mencetak mesin, kita masih menggunakan tangan untuk membuat besi cor. Dapat dikatakan sesuatu yang sangat ironis. Karena aplikasi teknologi yang kurang baik, mengakibatkan perekonomian bangsa buruk, dan akhirnya merembes kepada ketidaksejahteraan masyarakatnya.

Inovasi teknologi, inilah solusi yang diperlukan dalam mengoptimalkan sumber daya alam kita yang melimpah ini. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat negara berkembang seperti kita mau tak mau harus mulai menjadikan teknologi sebagai tools untuk dipakai dalam segala sisi kehidupan, walaupun teknologi yang dipakai masih teknologi yang berasal dari negara luar. Dan salah satu teknologi yang berkembang pesat saat ini ialah teknologi informasi.

Namun, terdapat sebuah kendala lagi yang mungkin kurang disadari oleh kita. Peningkatan kualitas teknologi harus diseimbangi dengan peningkatan kualitas SDM-nya. Penggunaan teknologi yang “terlalu tinggi” jangan sampai membuat SDM kita malah kewalahan. Bukan merupakan langkah yang bijak misalnya ketika suatu perusahaan yang biasa menggunakan mesin ketik dalam administrasinya, tiba-tiba harus mengadapi laptop ber-windows vista untuk melakukan pembukuan, absensi, analisis kondisi, sampai perhitungan statistik perusahaan. Terlalu mencolok perbedaan teknologi yang digunakan. Kalau seperti ini, maka solusinya ada dua, yang pertama ialah menggunakan teknologi secara bertahap. Yang kedua ialah meng-upgrade SDM yang ada.

Meng-upgrade SDM bagi perusahaan mungkin hanya sebatas memberikan pelatihan di bidang teknologi. Akan tetapi, dalam kancah pengembangan SDM secara nasional, upgrading tak hanya dilakukan saat “dibutuhkan”. Namun uprading SDM yang baik membutuhkan proses yang lama. Dan salah satu solusi yang ditawarkan ialah dengan memanfaatkan sistem pendidikan kita. Dengan menyisipkan pendidikan teknologi pada program wajib belajar 9 tahun di Indonesia, maka dalam jangka waktu yang cukup lama itu akan dapat tertanam nilai-nilai akan pentingnya teknologi pada kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, masih terdapat kendala pada pendidikan kita saat ini. Dua kendala utama ialah dana dan kualitas guru. Untuk menyelesaikan masalah pendanaan, diperlukan peraturan rencana anggaran negara yang tepat dalam memposisikan pendidikan sebagai prioritas pertama pembangunan bangsa. Selama ini, biaya pendidikan yang masih mahal serta fasilitas pendidikan yang kurang menyebabkan pendidikan Indonesia yang selalu tertinggal bahkan dari negeri tetangga kita sendiri. Dengan meningkatkan anggaran belanja negara untuk pendidikan, diharapkan masalah pendidikan di Indonesia dapat diminimalisir.

Yang kedua ialah permasalahan kualitas para pengajar. Kalau di luar negeri, guru adalah sosok yang sangat dihormati. Bukan hanya oleh murid, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakatnya. Sedangkan di Indonesia, gaji guru yang rendah menyebabkan para intelek kita mengalihkan profesinya ke sarana yang lebih profit seperti perusahaan. Solusinya kembali kepada tunjangan pendanaan untuk para guru. Selain itu diperlukan seleksi yang ketat untuk para guru yang akan mengajar di sekolah.

Dengan meningkatkan anggaran belanja untuk pendidikan, serta peningkatan kualitas para guru, diharapkan sistem pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Dan ini akan menghasilkan SDM Indonesia yang berkompetensi. Lalu dengan penerapan teknologi di Indonesia dapat membuat kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan dari SDA pun meningkat. Dari integrasi SDM dan SDA Indonesia ini, maka perbaikan ekonomi pun dapat terwujud dan dapat menciptakan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Artikel Juni 2007, PPSDMS-NF

by Dhimas Lazuardi Noer, Mahasiswa Teknik Industri ITB

dengan tema :”seandainya saya presiden Indonesia…”

3 thoughts on “Upgrading Pendidikan Indonesia dan Inovasi Teknologi pada Industri

  1. Dhimas bilang gini: “Dengan meningkatkan anggaran belanja untuk pendidikan, serta peningkatan kualitas para guru, diharapkan sistem pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.”

    Nambahin, saya belum kepikiran masalah manajemen anggaran dan manajemen sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas guru, gimana Mas?

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s