Satukan Tanggal Hijriah….

bagus nie… seperti yang biasa dibahas pak musholli.

diambil dari Pikiran Rakyat

UIN, ITB Tentukan Akhir Ramadan BANDUNG, (PR).-
Pemerintah mengharapkan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN) dan Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menuntaskan persoalan awal dan akhir Ramadan. Untuk itu, diharapkan Jurusan Astronomi ITB menjalin kerja sama dengan pihak terkait untuk bisa menayangkan secara langsung detik-detik pergerakan bulan dan proses mengamati hilal dan rukyat.

“Tentunya kita prihatin setiap tahun selalu mengalami persoalan perbedaan menentukan awal dan akhir Ramadan. Ujung-ujungnya selalu saja dinyatakan agar kita saling menghormati perbedaan. Nggak ada kemajuan kita ini, padahal kita punya UIN, Astronomi ITB, dan para pakar ilmuwan maupun agamawan,” kata Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Prof. Dr. H. Muhammad Nuh dalam ceramah silaturahmi di aula kampus UIN SGD Bandung, belum lama ini.

Dikemukakan Muhammad Nuh, fenomena alam seperti di planet itu sesungguhnya mutlak atau tidak ada standar ganda. Artinya, fenomena bisa diamati dan tidak akan ada perubahan sebagaimana fenomena sosial. Oleh karena itu, sangatlah memungkinkan televisi pemerintah atau televisi swasta menayangkan langsung proses pengamatan hilal kepada masyarakat luas.

“Demikian halnya pada 28 Agustus 2007 saat terjadi gerhana bulan. Sebaiknya momentum ini dimanfaatkan oleh televisi pemerintah atau swasta untuk menayangkannya secara live (langsung-red.) sehingga masyarakat menjadi cerdas,” tuturnya menambahkan.

Berkaitan dengan peradaban umat Islam, Muhammad Nuh mengatakan, saat ini umat Islam mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan. Sepatutnya umat Islam punya otoritas di bidang keilmuan sehingga bisa “didengar” dan mencerahkan berbagai pihak.

“Jadikanlah masa muda sebagai masa mencari dan meningkatkan otoritas keilmuan. Dengan otoritas ilmu, dakwah pun akan semakin berkualitas. Ia mencontohkan, Muhammad Yunus dari Bangladesh yang menerima Nobel Perdamaian. Dia punya otoritas ilmu, sehingga apa yang disampaikannya walaupun mungkin klise, tetap didengar dan diperhatikan banyak pihak,” ujarnya menjelaskan.

Dalam konteks ini, Muhammad Nuh mengharapkan, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. Untuk pencerahan itu, jelas diperlukan rasionalitas, pencarian data, dan informasi. Selanjutnya, diperlukan wisdom atau kemampuan melihat di balik fenomena.

“UIN SGD hendaknya meningkatkan sarana teknologi informasi (TI)-nya. Untuk itu, bisa saja mengajukan proposal. Hasilnya nanti sampaikan kepada DPRD, DPR RI, dan instansi terkait lainnya,” tutur Muhammad Nuh. (A-44)***

Semoga persatuan umat islam dapat diwujudkan.

Kalo menit imsakiyah aja bisa, masak hari raya ga bisa.

Teknologi 4/ a better future…

Kalo Hari Raya aja udah beda-beda, gimana khilafah mau ditegakkan? Ya ga??

Carilah pemersatu, bukan perbedaan. Karena perbedaan bukanlah rahmat….

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s