Penguasaan Teknologi Menuju Negeri Kaum Muslimin yang Mandiri

Penguasaan Teknologi Menuju Negeri Kaum Muslimin yang Mandiri

Dhimas Lazuardi Noer

Banyaknya negara muslim ternyata tak sebanding dengan tingginya kemakmuran dunia. Hal ini aneh, karena seharusnya Islam membawa masyarakat menuju kemakmuran. Tetapi, mengapa kemiskinan terjadi dimana-mana, bahkan di negeri muslim itu sendiri.

Islam telah ada di berbagai penjuru dunia. Sejak zaman khalifah Umar bin Khattab, agama Islam telah menyebar di hampir sepertiga belahan dunia. Pada zaman itu, terbentuk suatu masyarakat yang egaliter. Masyarakat yang terdiri dari berbagai agama seperti Islam, Nasrani, dan Yahudi, berada di bawah naungan sistem pemerintahan yang islami. Masyarakat yang ada pada waktu itu merupakan masyarakat yang makmur dan damai. Mereka hidup mandiri tanpa ketergantungan dengan masyarakat lain. Mereka juga dapat bertoleransi meskipun berbeda agamanya.

Masyarakat Islam pun terus hidup dan ada sampai sekarang. Sudah banyak negara dengan mayoritas penduduk Islam di dunia, seperti Indonesia, malaysia, dan juga negara-negara Arab. Kekayaan negeri islam itu pun sangat melimpah. Misalnya saja negara Arab. Negeri Timur Tengah ini merupakan negara penghasil minyak terbesar di dunia. Walaupun tampak gersang di luar, namun di dalam buminya terdapat cadangan minyak yang sangat berlimpah. Contoh lain ialah negeri kita sendiri, Indonesia.. bangsa kita, dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam yang melimpah. Dari luasnya lautan Indonesia, lebatnuya hutan tropis, sampai daerah pegunungan yang subur ada di Indonesia. Segalanya merupakan suatu nikmat yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba yang beriman.

Ketika kekayaan yang melimpah dipadukan dengan jumlah SDM yang banyak, seharusnya dapat terbentuk satu negeri muslim yang kokoh. Namun, realita yang terjadi justru sebaliknya. Negara kaum muslim malah menjadi negara terbelakang. Dunia menjadi tunduk pada adidaya negara barat yang ideologinya bertentangan dengan Islam. Akibatnya, banyak negeri dengan penduduk terbelakang semakin terbelakang. Apalagi negeri muslim, karena dianggap sebagai “teroris” bagi barat, maka kemajuan negara muslim pun “dihambat” dengan berbagai macam dalih. Seperti kasus yang terjadi pada negara Iran. Negeri kaum muslim ini ingin mengembangkan kemampuannya di bidang teknologi nuklir. Namun, apa yang terjadi ialah adanya hambatan dari negara barat akan larangan tentang pengembangan nuklir. Padahal, mereka sendiri memiliki teknologi tersebut. Negara muslim lainnya pun tak dapat berkutik ketika AS sudah menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Iran. Bahkan Indonesia pun “takluk” dan berpasrah ketika keputusan PBB tentang penjatuhan hukuman kepada Iran dibicarakan dalam rapat Dewan Keamanan PBB.

Mengapa negeri muslim lain seolah-olah menjadi tunduk dan memihak kepada barat. Hal ini terjadi tak lain dan tak bukan karena ketergantungan kita (negeri kaum muslim) terhadap barat. Kita “tak punya apa-apa”, sedangkan “apa-apa” dikuasai oleh barat. Mereka menguasai segi perekonomian dunia. Sedangkan kita, negeri kaum muslim, malah menjadi konsumen produk barat. Inilah perbedaan masyarakat islam yang sekarang dengan yang dulu. Masyarakat mandiri yang ada pada zaman kekhalifahan telah berubah menjadi masyarakat yang berketergantungan.

Yang perlu dipertanyakan sekarang ialah kemana kah hasil kekayaan alam kita? Mengapa dengan kekayaan alam dan SDM yang melimpah kita masih tak dapat menguasai perekonomian? Ternyata kuncinya bukanlah pada kuantitas, tetapi pada kualitasnya. Kualitas SDM kita yang buruk menyebabkan kualitas SDA yang dihasilkan pun buruk. Di sini lah peran penting penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi timbul. Selama ini, IPTEK dikuasai oleh bangsa barat. Sehingga yang kita lakukan ialah mengekspor mentah-mentah hasil kekayaan alam kita ke barat. Hasil ekspor kita itu kemudian diolah dengan teknologi yang mereka (barat) miliki. Lalu hasil olahan itu diekspor kembali dan dikonsumsi oleh negeri kaum muslim. Tentunya barang hasil olahan teknologi berbeda dengan barang mentah yang belum diberi nilai tambah. Sehingga kita (pengekspor awal) akan mengalami “kerugian” secara tak langsung.

Kesimpulan yang dapat kita ambil ialah perlunya langkah agar kaum muslim dapat menguasai teknologi pengolahan SDA. Teknologi ini merupakan teknologi manufaktur yang biasa dimanfaatkan pada perindustrian. Dengan penguasaan teknologi manufaktur, kita tak perlu lagi “bersusah payah” mengekspor hasil alam kita untuk diolah di negara barat. Kita akan memiliki kemandirian ekonomi seperti masyarakat muslim pada zaman kekhalifahan dulu. Dengan memiliki kemandirian ekonomi, kita tak perlu lagi “tunduk” pada Amerika. Negara muslim dengan penguasaan perekonomian akan menjadi negara adidaya yang mandiri dan tak perlu lagi bergantung pada bangsa lain. Sesuai dengan hadis, bahwa muslim yang kuat lebih dicintai Allah dibanding muslim yang lemah. Begitu juga dengan negara muslim yang kuat tentunya lebih baik dibanding negara muslim yang lemah. Wallahu alam bish showab.

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s