Sang pendamai yang berada di tengah

Sang pendamai yang berada di tengah

Berbagai kericuhan yang terjadi akhir-akhir ini: insiden monas, FPI vs AKKBB, NU vs FPI (atau lebih tepatnya Gusdur vs Habieb Rizieq), menimbulkan berbagai kegelisahan dan pertanyaan bagi masyarakat, “Apakah Islam memang seperti ini?”. Tentulah kita, sebagai umat muslim yang paham akan agama ini, sudah seharusnya mengerti bahwa Islam itu rahmatal lil alamin. Islam merupakan agama yang membawa dan mengajarkan perdamaian, bukan pertentangan, apalagi pertentangan sesama umat islam itu sendiri.

Lalu, dimanakah posisi kita sekarang sebagai umat muslim? Apakah kita akan memihak salah satu dengan menyalahkan yang lain? Tentunya jika hal ini dilakukan, justru Islam akan terpecah dan masyarakat akan berkata, “Ya, Islam memang seperti ini! Anarkis, saling mengkafirkan antar sesamanya, saling menghina, pukul-memukul, bubar-membubarkan, melecehkan satu sama lain, dsb, dst, dll”. Sedangkan orang-orang kafir di luar sana sedang tertawa-tawa melihat kondisi islam yang semakin kacau.

Permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini pada dasarnya disebabkan perbedaan value yang dimiliki masing-masing orang (kelompok). Ada kelompok yang lebih benci jika aqidahnya dirusak, ada juga kelompok yang lebih membenci penggunaan kekerasan walaupun dengan alasan kebaikan. Pada dasarnya, kedua kelompok memiliki value yang positif, hanya saja prioritas lah yang membuat kedua kelompok ini berseteru satu sama lain. Yang akhirnya menimbulkan perbedaan metoda dalam menyikapi kasus yang ada.

Tentunya, kita menyadari bahwa kekerasan itu bukanlah sesuatu yang baik. Namun, kita juga tahu bahwa penjagaan kemurnian aqidah dan nilai-nilai Islam merupakan bagian penting dari agama ini. Untuk masalah yang pertama, mari kita serahkan pada polisi dan pihak hukum yang lebih berwenang. Sedangkan untuk kasus kedua, di sini lah peran kita sebagai bagian dari umat Islam diperlukan dalam menyikapinya dengan bijak.

SKB Ahmadiyah yang dikeluarkan oleh tiga menteri tentu sudah dipertimbangkan dengan matang. Tak hanya mempertimbangkan pihak yang jelas kontra dengan Ahmadiyah yang menuntut pembubarannya (FPI, dkk.), tapi juga mempertimbangkan pihak yang agak pro dengan Ahmadiyah (anak buah Gusdur misalnya). Keluarnya SKB ini pun tentunya akan mendapat sorotan yang berbeda dari kedua belah pihak, yang nantinya setiap pihak akan menuntut isi dari SKB ini.

Sebagai umat muslim, tentunya kita harus melihat permasalah ini lebih global. Jikalau tadi ada dua sudut pandang (sudut pandang kekerasan dan sudut pandang pemurnian aqidah), mari kita lihat dari sudut pandang yang lain, solidaritas umat.

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(49:10)

Mari kembali kepada masalah utama kita, perdamaian (persaudaraan) sesama muslim. Dapatkah kita bayangkan jika masing-masing pihak menuntut keinginannya masing-masing? Apakah memang solusi terbaik yang akan muncul, ataukah menguntungkan salah satu pihak saja, atau malah semakin memecah belah solidaritas umat muslim?

SKB yang dikeluarkan oleh tiga menteri mengenai Ahmadiyah merupakan sebuah kemajuan yang dilakukan pemerintah, mengingat JAI memang kelompok yang sudah sangat lama berada dan berkembang di Indonesia. Beberapa pihak merasa kurang puas dengan isi dari SKB yang dirasa kurang tegas. Namun, ada juga yang melihat sisi positif dari keluarnya SKB ini. Adanya pengaturan aktivitas Ahmadiyah merupakan kesempatan bagi kita untuk mengawasi dan memastikan bahwa ajaran Ahmadiyah yang menyimpang (pengakuan rasul setelah Muhammad) tidak disebarluaskan lagi. Jikalau ada sedikit saja aktivitas yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah yang jelas menyimpang, maka dengan mudah kita dapat menuntut mereka sesuai dengan hukum yang berlaku (SKB, undang-undang), bahkan menuntut Presiden untuk mengeluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah.

Hanya saja, di sini kita perlu memahami lebih jauh tentang detail teknis dari SKB ini. Seperti apa sajakah aktivitas yang dilarang itu: apakah masjidnya ditutup, sholatnya dilarang, atau hanya pengajiannya saja yang tidak boleh diadakan lagi. Karena ajaran Ahmadiyah yang sudah ada sejak lama ini tentunya sudah tersebar luas dan akarnya dalam, tak bisa diselesaikan dengan mudah seperti ajaran yang baru.

4 thoughts on “Sang pendamai yang berada di tengah

  1. antum mungkin salah tangkep, Sar.
    munculnya pers release dari puskomnas merupakan pernyataan fsldk dalam menyikapi masalah SKB Ahmadiyah secara sigap. Jikalau isinya mungkin ada yg ga sesuai, itu mungkin karena kurangnya persiapan dalam mengkaji isi dan efek dari SKB.

    saya juga tadinya ga sepakat dengan SKB saat ini. Namun, setelah dipertimbangkan baik2 & disyurokan juga dengan berbagai pihak & ormas Islam, maka muncullah tulisan ini.

  2. tentu aja SKB nya gak tegas. SKB itu hanya lah akan jadi bom waktu yang suatu saat nanti akan meledak. cukup sudah, hanya ada satu opsi. BUBARKAN AHMADIYAH. koq nawar-nawar lagi.

    vote : kapan FSLDK ngadain aksi lagi bwt ngebubarin ahmadiyah?

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s