Mie sedAAp (vs) Mie sedAAAp : Contoh Pertarungan HAKI di Indonesia

  Pernahkah kita menyadari ada dua jenis mie sedap yang beredar di pasaran ; yang satu mie sedaap dengan dua huruf “a”, yang satu lagi mie sedaaap dengan 3 huruf “a”? Mungkin banyak yang ga sadar kalo kedua produk mie sedap itu berbeda dan keduanya berada di pasaran.

Toh yang kita tangkap selama ini melalui iklan-iklan di TV hanyalah kata-kata yang terdengar sebagai “mie sedap”, tanpa membedakan berapa jumlah huruf “a”-nya. Ketika kita membicarakan kedua produk ini pun, juga tak akan terdengar perbedaan panjang harokat dari mie sedaap (yang seharusnya dibaca dua harokat) dan mie sedaaap (yang seharusnya dibaca 3 harokat) {kok jadi kayak lagi di pengajian gini yak? 8) }.

Nah, sekarang kita mulai membicarakan keduanya dari sisi HAKI (Hak Atas kekayaan Intelektual) yang lebih menjurus kepada paten atau trademark (merek dagang) produk mie sedap.

Untuk produk mie sedaap yang pertama, merupakan  produk dengan merek “mie sedap” yang lebih dahulu muncul, dimana perusahaan WINGSFOOD lah yang memproduksinya. Sedangkan pesaingnya, yaitu mie sedaaap adalah yang kedua (merk tiruan) yang diproduksi oleh SUPERMI. Pertanyaan utama yang harus dijawab adalah “kenapa perusahaan pembuat produk bermerk mie sedaap (WINGSFOOD) tidak menuntut kepada perusahaan pembuat produk mie sedaaap (SUPERMI)?”. Padahal, jikalau perusahaan pioneer ini menuntut ke perusahaan imitator, maka persaingan pasar produk bermerek “mie sedap” akan dimenangkan.

Berbagai jawaban muncul ketika dosen menyampaikan pertanyaan ini di salah satu perkuliahan teknik industri (sistem pengembangan produk). Ada yang beragumen kalau sang pioneer menikmati hasil dari iklan yang dibuat perusahaan imitator. Dikarenakan Supermi memang lebih terkenal dan berfokus pada produk mi, maka Wingsfood mendapat keuntungan karena “sedap” diiklankan juga oleh Supermi. — Tapi, bukannya justru akan berbalik yah? Konsumen akan memilih produk yang memang dibuat oleh perusahaan yang lebih terkenal akan produk mie dibanding perusahaan Wingsfood yang baru-baru ini saja membuat produk mie.

Argumen lainnya ialah karena masalah prestise. Wingsfood yang sebelumnya tidak pernah membuat mie, ternyata berhasi menjadi pioner merk dagang mie sedap mengalahkan Supermi. Hal ini menyebabkan Wingsfood tidak menuntut Supermi agar mengharap konsumen “memuja-muja” pioneer. — Tapi apakah benar dengan menganggap ini sebuah prestise lantas Wingsfood membiarkan begitu saja merk dagang nya dicontek? Toh sebagian besar konsumen ga sadar kalo ada dua produk mie sedap di pasaran. Bukannya justru lebih baik Wingsfood menuntut sehingga dia bisa menghilangkan pesaingnya?

Ada pula yang beragumen bahwa Mie Sedaap Wingsfood tak perlu takut menghadapi Mie Sedaaap Supermi karena masalah rasa. Untuk yang ini saya setuju karena bagi saya mie sedaap memang lebih enak dibanding mie sedaaap. — Tapi, masalah rasa ini khan kembali kepada selera/cita rasa konsumen. Bisa jadi konsumen yang lain justru lebih menyukai mie sedaaap-nya Supermi karena lebih terbiasa mengkonsumsi produk supermi dibanding mie dari perusahaan lain.

Berbagai jawaban lainnya muncul, tapi ternyata alasan yang paling mungkin ialah karena pertarungan paten (menurut dosen saya loh, bukan saya). Memang benar Wingsfood merupakan pemilik merk dagang “mie sedap” dan dapat menuntut Supermi. Tapi, apa jadinya jika Supermi menuntut juga kepada Wingsfood? nah lo, emangnya ada yang bisa dituntut oleh Supermi ke Wingsfood? Tentu ada, yaitu masalah paten produknya. Boleh lah Wingsfood punya merk dagang “mie sedap”, tapi khan soal asal muasal mie itu sendiri, yang punya khan si Supermi. Jadi, kalo Wingsfood berani macem-macem nuntut hak merk dagang, maka Supermi akan ngebales dengan menuntut hak paten produk (mie, tepung yang digunakan). Makanya, mendingan damai aja lah ya🙂 !

-wallahualam-

21 thoughts on “Mie sedAAp (vs) Mie sedAAAp : Contoh Pertarungan HAKI di Indonesia

  1. Baru tahu…secara bukan penggemar mi sedap.

    Tapi merunut dikit dari skripsiku,oligopoly antara imitator dg optimizer, justru imitatorlah yg akan mendepak optimizer dr pasar. Kita liat aja:)

  2. kalau konsumen ga ngeliat ini produk mie mana, yg penting rasanya uenak. tp, kalo wingsfood nuntut juga, sy pikir supermi akan berkilah..

    ‘eh, jangan salah jumlah huruf a nya kan beda” heheh. jadi, tetap sj g sama. :)):mrgreen:

  3. Masa siy ga nuntut?
    Dulu waktu kuliah HAKI, gw sempet dapet tugas menganalisis kasus hukumnya (dulu dapet copy berkasnya juga..)
    Kalo alasannya, Wings takut dituntut patennya ma Supermi, memangnya Paten apa yang Supermi punya?
    kalo teknik bikin mi instan, itu dulu dipatenkan oleh Momofuku Ando (penemu mi instan pertama) tahun 1958, jd saat ini masa patennya sudah habis (paten berlaku cuma 20 tahun, paten sederhana 10 tahun)..^_^

  4. Kata “SEDAAP” menurut UU Merek tak dapat didaftarkan menjadi merek alasannya kata tersebut keterangan dari produk, jadi ya mungkin kalau wingfood mendaftarkan ya pasti ditolak. Karena tidak bisa didaftarkan maka tidak dapat menuntut supermi.

  5. sejak munculnya mie sedap dari wingsfood, indofood da mulai goyang, produk indofood tidak di minati lagi kalangan negri nya hingga dy mlakukan go internasional.
    indofood slalu meredam pesaing na dgn apa pun,
    diffren dari mie sedap mie dari wingfood tidak mudah mengembang.
    sdgkn mie indofood kebalikannya.
    indofood mau mrusak kualitas mie sedap dari wingsfood dgn mie yg indofood yg jelek.
    indofood picik, dasar org cina PA.

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s