Mimpi, Lari, Jatuh

Baru baca-baca forum di rileks. Nyari-nyari thread yg OOT ternyata seru juga isinya. Dan baru nyadar setelah membaca salah satu yg membahas tentang mimpi.Hmm,,, saya cukup jarang bermimpi & bukan ahli mimpi. Biasanya kalo tidur yang dilakukan setelah aktivitas yg cukup berat membuat tidurnya ga pake mimpi. Mimpi biasanya terjadi kalo saya tidurnya sudah “melebihi jatah” yang seharusnya & kalo bobo ga dimulai dengan doa “bismika allahumma ahya wa bismika amut”.

Yang dimimpiin bisa hal yg macem-macem & aneh-aneh. Kadang mimpinya lagi tidur & dalam tidurnya itu mimpi yg lain (haha,, double dream packet). Mimpi tentang kuliah; lagi di kelas, bareng temen, lagi belajar, lagi ulangan ngeliat temen nyontek & dicontek, lagi ujian dapet jelek, dsb (yang sebagian besarnya memang terjadi di kenyataan 😀 ). Kadang juga waktu mimpi tuh kita nyadar kalo itu mimpi & pengen segera bangun, tapi entah mengapa mmpinya malah ga selese-selese padahal dah nyubit diri sendiri (cem di kartun gitu, kalo mimpi suruh temen nyubit biar bangun)

Tapi dari sekian banyak pengalaman mimpi yg pernah dirasakan, ada beberapa hal yang ga bisa dilakukan; lari & jatuh. Continue reading

Advertisements

View in the morning

IMG_1222

Wah,,,, hari ini bisa bangun pagi, alhamdulillah,,,,

Jalan-jalan di sekitar sabuga, truz nemu view yg cukup Ok. Langsung aja dijepret! Manstab lah…. Eh, ngapain ya gw jalan-jalan di sabuga hari senen gini?

Ya ya,, namanya juga nasib kuliah hari senin jam 7. I really hate this. Kuliah senin jam 7 pagi & jumat sampe jam 5 sore emang waktu kuliah yg paling ga enak. Kalo hari senin pagi pikirannya ,“duh,, kok udah masuk lagi sih” & kalo hari jumat sore ,“wah, besok libur,, cepet selese dong kuliahnya”[hehe,, yg ky gini jangan dicontoh yak! 8) ]

Dan ternyata kedua kutukan itu terjadi di semester ini. Senin jam 7-10 ada kuliah pengendalian kualitas, juga jumat jam 15-17.30 ada kuliah perencanaan strategis. Weleh-weleh,,,

Udah ah ngeblog-nya,, mw ngerjain tugas lagi…. Semangka…….

Oia, tadi pagi subuh di batan & Cuma ada 3 orang,,, wahaha kurang kerjaan amat awak y?

Continue reading

Saat kita tidak lagi menjadi generasi “termuda” yang diharapkan

Bismillahirrahmanirrahiim
puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan yang tiada terhitung. Salah satunya nikmat umur yang membuat saya masih bisa menulis di blog ini dan mambuat anda juga dapat membaca tulisan aneh saya.

Setelah baca tulisannya si fikri di sini, entah tiba-tiba jadi nyadar en bikin cengar-cengir sendiri. Lucu juga merasakan bahwa diri ini sekarang sudah tidak menjadi “yang dulu”. Ada perasaan berbeda dilihat dari tanggapan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Misalnya saja saat jalan-jalan ke jawa (ini bahasa lainnya “pulang kampung” / mudik) beberapa waktu lalu. Kalo dulu, ketika pulang kampung & ketemu sodara-sodara, diri ini lah yang menjadi pusat perhatian. Masih ingat rasanya ketika menjadi orang yang selalu diperhatikan oleh kakek, nenek, pa’de, bu’de, om, bu’le, sepupu yg lebih tua. Apa-apa yang kita lakukan menjadi perhatian mereka: makan diperhatiin, lari diperhatiin, main mobil-mobilan, mancing, main game, mandi, nonton tipi, dan seterusnya yang membuat seolah dunia ini bener-bener berharap pada si anak kecil yang mondar-mandir dengan ingusnya itu.

Entah ya,,, sekarang semua terasa berbeda. “Generasi-generasi pengganti” mulai “terlahir ke dunia” yang disebabkan oleh sepupu-sepupu saya, dan mereka pun mulai menggeser posisi saya dahulu sebagai “orang yang diharapkan”. Yah,,, memang lucu juga sih ternyata saya pun ikut mengambil bagian sebagai orang yang berharap pada mereka agar mereka bisa lebih baik daripada diri ini.

Lantas sekarang posisi kita bagaimana? Apakah harapan orang-orang dahulu kepada diri ini sudah teralihkan kepada generasi yang lebih kecil & sirna begitu saja dari kita? Wah, kalo gini mah bisa-bisa Cuma jadi perputaran harapan yang tak kunjung datang dong. Orang yang lebih tua berharap pada anak kecil yang baru lahir, ketika anak itu udah mulai tumbuh ia malah berharap kepada anak kecil lainnya, dan seterusnya. Masa’ harapannya cuma selesai di umur 20 ini lalu memindahkan “beban harapan” itu ke anak kecil? Semoga tidak…

The Next Generation
We are the Next Generation

Yah,,, pada akhirnya hanya bisa mengutip kata-kata yang sering diucap saat ulang tahun “tua itu kepastian, dewasa itu pilihan”. Semoga harapan orang-orang yang berada di sekitar saya ±15 tahun lalu itu tak berhenti di sini.  Mungkin harapan yang dulu ada itu tidak tervisualisasi dalam perhatian mereka ke kita sekarang, mungkin harapan itu hanya dipendam di hati, namun saya yakin harapan itu memang masih ada di setiap orang agar diri ini bisa “berbuat sesuatu” di masa depan nanti. Bahkan saya yakin harapan “generasi yang lebih tua” kepada mereka pun juga masih ada dalam dirinya masing-masing, dan setiap kita sedang menunggu untuk mewujudkan harapan-harapan itu. Sekarang inilah saatnya harapan generasi terdahulu yang dibebankan kepada kita mulai kita wujudkan….

Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat,
serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta

Kriteria calon umi,,,, (eh, bukannya dulu udah, mas?)

Sambil terus berpikir tentang nasihat orang-orang, sepertinya saya memang harus meralat & “menurunkan level” kriteria calon umi yg dulu pernah diposting di sini. Memang terlalu kompleks & hampir ga mungkin nemu yg selengkap itu, bisa-bisa awak malah ga nikah2 seperti yg dibilang bung kasyfi. Apa yah? Mungkin cukup satu aja deh kriterianya: MAU! [weqs,,, koq jadi jauh banget, seolah gw ini kaga ada yg mau aja. hahaha]. Oke kita skip dulu aja soal ini deh,, mulai dari prolog nya dulu aja ya….

Hmm,,,lagi-lagi postingan tentang cinta. Ga bermaksud untuk meningkatkan stats blog ini (walaupun efek sampingnya sie ya itu 8) ), hanya saja memang akhir-akhir ini hati ini sedang berbunga-bunga [cie elah,, cem taman kota aja]. Ternyata musim nikah yg dimulai awal tahun ini belom selesai juga. Setelah jadi panitia di walimahnya dika-trian, terus bermunculan undangan-undangan pernikahan dari temen-temen lainnya. Mulai dari milis FF yang ramai membicarakan akh Verry PL’05 & Inna TL’05 yang akan melangsungkan nikahnya bulan depan. mba asti latifa (UI’05, dah lulus pula) & mas nuryazid (ppsdms jakarta) [link] yg ngundang lewat blog tentang nikahnya bulan maret ini. Gil**g & k**ti*a yang juga nikah walopun cuma lewat pesbuk [liat aja statusnya,, makin banyak aja orang bikin sensasi lewat pesbuk,, huehehe]. Juga beberapa angkatan 2005 lainnya di tempat lain yang tak disebut disini. Ya memang itulah titik tekannya, ada pada kata “angkatan 2005”. Ya Allah,, temen seangkatan awak tuh dah pada “menempuh hidup baru” nih,, kapan giliran saya yah???. (nb: mohon maaf ya buat yg bukan angkatan 2005 yg ga disebut disini macem teh anni sospol & yandri juga akh imron irpani ppsdms jakarta . Yah,, saya mungkin hanya bisa memberikan ucapan selamat kepada semuanya yang tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahannya, moga bisa membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah & membawa perubahan banga ini kepada yang lebih baik. Jangan lupa mengubah statusnya di facebook dari single/it’s complicated/enganged menjadi married ya & di-link ke FB pasangannya [duh apa pula ga penting ginih.dasar FB addicted!]

Oke-oke,, let’s back to main topic. Menurut salah satu kosultan MJDK terbaik sedunia saat ini [secara belum ada lagi yg disebut konsultan MJDK], kita bisa membedakan karakteristik seseorang dari yang sulit diubah/dibuat dengan karakter yang bisa diubah/dibuat setelah pernikahan. Atau mungkin lebih tepatnya kita akan membedakan karakter yang “emang udah dari sononya begitu” dengan karakter yang “bisa dikompromikan”. Postingan ini akan lebih membahas karakter yg pertama itu, sedangkan tentang karakter yg akan dikompromikan masih memakai yg ada di postingan ini dan akan dibicarakan lebih lanjut dengan “si dia” (sesuai poin 5).

Okey, here they are kriteria calon umi dari fulan bin dhimas versi 2.0 :

1. Muslimah
Alesannya sama, karena saya ini masih normal dan lebih menyukai lawan jenis. He777x

2. Extrovert
Ini penting nih,, awak bener2 ga pengen bikin rumah jadi sepi kalo dapetnya yg introvert juga.

3. Tidak punya penyakit yg mungkin diturunkan
Kasian khan anak kita kalo lahir sudah membawa penyakit genetik?

4. Apa yah? Duh bingung. Harus pake AHP kah? Emm,,,, ffff,,,, oia, saya butuh seorang yang bisa mengelola finansial dengan baik. Bukan berarti dia harus ahli dalam pembukuan & pencatatan akuntansi, tapi lebih pada ciri-ciri seperti bisa berhemat, efektif efisien dalam penggunaan financial capital, anti-korupsi, dan sebagainya.

5. Bersedia merencanakan tentang masa depan perjalanan hidup bersama

Udah ah coekoep 5 aja. Sebenernya di postingan ini cuma mau meralat yg dulu aja. Kasian banyak yg pengen tapi jadi mengurungkan niatnya gara-gara baca postingan yg itu 8) . Lagi pula saya juga bukan orang yang sempurna kok. Duh jadi inget lagunya EdCoustiq,, sekalian jadi penutup yaa….


Maafkan aku jika tak bisa sempurna
Kar’na ku bukan lelaki yg turun dari surga
Ketulusan hatimu anugrah hidupku
Doakan langkah kita tak berpisah
untuk selamanya,,,

Duhai pendampingku akhlakmu permata bagiku
buat aku makin cinta
Tetapkan selalu janji awal kita bersatu
bahagia sampai ke surga,,,,,

Malam 1000 lilin & doa ITB

Malam ini (18 Februari 2009) bertempat di Plaza Widya ITB, dilangsungkan sebuah acara untuk mendoakan kepada salah satu saudara kami yang meninggal beberapa saat yang lalu. Massa kampus yang datang mewakili himpunan, unit, dan juga KM ITB memberikan pesan singkatnya secara bergiliran. Serta dilakukan acara dengan menyalakan 1000 lilin dan doa sebagai wujud belasungkawa mahasiswa ITB atas kepergian akhuna Dwiyanto Wisnugroho GD’07, Semoga beliau diterima di sisi-Nya.

Acara ini juga dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa ITB kepada para keluarga wisnu, IMG (ikatan mahasiswa geodesi/himpunan GD), juga kaderisasi kemahasiswaan ITB. Doa juga dilantunkan kepada bagian dari mahasiswa ITB yang mungkin akan disidang karena kasus ini. Mengutip salah satu pesan yang disampaikan oleh seseorang saat acar ini, “sudah satu orang yangkehilangan kesempatan belajar di kampus ITB. kami tidak mengharapkan akan adanya lagi orang yang kehilangan kesempatan belajar di sini“.

Meninggalnya mahasiswa ITB SAAT ospek & Tantangan bagi KM ITB ke depan

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un

Telah berpulang ke rahmatullah saudara kami salah satu mahasiswa ITB, Dwiyanto, Teknik Geodesi 2007. Mari kita doakan semoga amal beliau diterima di sisi-Nya, juga bagi keluarganya semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi ujian ini.

Tentunya para orangtua yang membaca berita ini akan berpikir dua kali untuk mengkuliahkan anaknya ke ITB. Sudah biayanya mahal, hidup sulit, pelajarannya susah, ospek-nya “menyeramkan” pula. Yah,, saya hanya dapat berharap tak ada lagi konotasi pendidikan yg baik selalu diiringi dengan “penderitaan” (walaupun hal ini benar, tapi tidak terkonotasi dengan “penderitaan fisik” saat mengikuti kegiatan kemahasiswaan).

Terlepas dari sangkut pautnya meninggalnya Dwiyanto dengan orientasi / kaderisasi himpunan (FYI, berita yg beredar masih berupa mahasiswa meninggal saat ospek, bukan mahasiswa meninggal karena ikut ospek, tentunya hal ini juga akan berakibat pada kemahasiswaan ITB nantinya. Bagi para aktivis kemahasiswaan ITB, khususnya yang nanti akan bergelut di bidang kaderisasi (wabil khususnya lagi Presiden KM ITB nanti, plus ketua OSKM), hal ini akan menjadi tantangan tersendiri. Semoga diberi kemudahan ketika ingin melakukan kebaikan.

kritik saya kepada para aktivis : janganlah kalian melakukan hal-hal yg ga berguna atwpun kekerasan mengatasnamakan “kaderisasi” & “kemahasiswaan“. kalian benar-benar mengecewakan & mencoreng nama baik “mahasiswa“.

bwt pak Adang : jangan selalu memberi tanggapan dingin & ga bertanggungjawab gitu lah. malu-maluin ITB aja.mbok ya kasih sesuatu yg positif juga gitu misalnya ke keluarga korban.

wallahualam,,

update 10 feb langsung dari sumber yg bersangkutan (IMG/himpunan mahasiswa teknik geodesi) di sini : http://dwinanto.wordpress.com/2009/02/09/meninggalnya-mahasiswa-itb

tambahan kesimpulan: Tidak ada aksi kekerasan & fisik saat Ospek berlangsung juga jangan melebih-lebihkan berita yg beredar

Continue reading