Saat kita tidak lagi menjadi generasi “termuda” yang diharapkan

Bismillahirrahmanirrahiim
puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan yang tiada terhitung. Salah satunya nikmat umur yang membuat saya masih bisa menulis di blog ini dan mambuat anda juga dapat membaca tulisan aneh saya.

Setelah baca tulisannya si fikri di sini, entah tiba-tiba jadi nyadar en bikin cengar-cengir sendiri. Lucu juga merasakan bahwa diri ini sekarang sudah tidak menjadi “yang dulu”. Ada perasaan berbeda dilihat dari tanggapan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Misalnya saja saat jalan-jalan ke jawa (ini bahasa lainnya “pulang kampung” / mudik) beberapa waktu lalu. Kalo dulu, ketika pulang kampung & ketemu sodara-sodara, diri ini lah yang menjadi pusat perhatian. Masih ingat rasanya ketika menjadi orang yang selalu diperhatikan oleh kakek, nenek, pa’de, bu’de, om, bu’le, sepupu yg lebih tua. Apa-apa yang kita lakukan menjadi perhatian mereka: makan diperhatiin, lari diperhatiin, main mobil-mobilan, mancing, main game, mandi, nonton tipi, dan seterusnya yang membuat seolah dunia ini bener-bener berharap pada si anak kecil yang mondar-mandir dengan ingusnya itu.

Entah ya,,, sekarang semua terasa berbeda. “Generasi-generasi pengganti” mulai “terlahir ke dunia” yang disebabkan oleh sepupu-sepupu saya, dan mereka pun mulai menggeser posisi saya dahulu sebagai “orang yang diharapkan”. Yah,,, memang lucu juga sih ternyata saya pun ikut mengambil bagian sebagai orang yang berharap pada mereka agar mereka bisa lebih baik daripada diri ini.

Lantas sekarang posisi kita bagaimana? Apakah harapan orang-orang dahulu kepada diri ini sudah teralihkan kepada generasi yang lebih kecil & sirna begitu saja dari kita? Wah, kalo gini mah bisa-bisa Cuma jadi perputaran harapan yang tak kunjung datang dong. Orang yang lebih tua berharap pada anak kecil yang baru lahir, ketika anak itu udah mulai tumbuh ia malah berharap kepada anak kecil lainnya, dan seterusnya. Masa’ harapannya cuma selesai di umur 20 ini lalu memindahkan “beban harapan” itu ke anak kecil? Semoga tidak…

The Next Generation
We are the Next Generation

Yah,,, pada akhirnya hanya bisa mengutip kata-kata yang sering diucap saat ulang tahun “tua itu kepastian, dewasa itu pilihan”. Semoga harapan orang-orang yang berada di sekitar saya ±15 tahun lalu itu tak berhenti di sini.  Mungkin harapan yang dulu ada itu tidak tervisualisasi dalam perhatian mereka ke kita sekarang, mungkin harapan itu hanya dipendam di hati, namun saya yakin harapan itu memang masih ada di setiap orang agar diri ini bisa “berbuat sesuatu” di masa depan nanti. Bahkan saya yakin harapan “generasi yang lebih tua” kepada mereka pun juga masih ada dalam dirinya masing-masing, dan setiap kita sedang menunggu untuk mewujudkan harapan-harapan itu. Sekarang inilah saatnya harapan generasi terdahulu yang dibebankan kepada kita mulai kita wujudkan….

Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat,
serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta

2 thoughts on “Saat kita tidak lagi menjadi generasi “termuda” yang diharapkan

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s