Dies Emas ITB, nama gedung (LabTek) yang diganti, komersialisasi pendidikan, & Kabinet RI 2004-2009

Wow,, sepertinya bakalan banyak nih. Tapi engga banyak & berat-berat kok, santai aja bacanya.

Dies emas ITB (1959-2009)

Selama sekitar satu pekan ITB merayakan tahun ke-50 nya berada di dunia. FYI: sebenernya kalo kampusnya sendiri udah ada sejak 1920, tapi kalo yg disebut “ITB” secara resmi ada tahun 1959. Dies emas kali ini cukup sayang kalo dilewatkan, secara sudah menghabiskan dana sekitar 4 Milyar rupiah untuk acara ini. Wow, sayang banget khan kalo ga ikut berpartisipasi dalam “penghamburan” uang ini? Haha


Perubahan nama gedung di ITB

Jangan heran kalo ada orang yg dateng ke ITB & bertanya,”gedung panigoro dimana ya?”, atau ada mahasiswa TPB yg sedang ngobrol dengan temannya,”nanti siang kita kuliah di bakrie ya!”. Yah,, beginilah kondisi dari adanya kebijakan baru yg dibuat oleh ,,,(oleh siapa ya? Rektor kah?). membuat nama gedung masing-masing dari labtek V,VI,VII,dan VIII “dijual” seharga 25M. nama-nama labtek tersebut pun berubah menjadi nama dari beberapa alumni ITB (atau nama ayahnya ya?) ; Teddy P Rachmat, Benny Subianto, Yusuf Panigoro, & Achmad Bakrie. Perubahan nama ini juga diresmikan pada saat Dies Emas ITB tanggal 2 Maret hari ini.

[wah,, andai duitnya dipake bwt ngeganti yg terkena musibah lapindo mungkin lebih baik ya? atau jangan-jangan duit 4 M bwt acara dies dianggap sebagai “zakat” yg diitung dari biaya nama gedung? wah wah,,, gimana nih….]. btw, berikutnya gedung mana lagi yg dijual?


Komersialisasi pendidikan

Dua hal di atas bisa jadi merupakan bukti bobroknya sistem pengelolaan ITB saat ini. Entah ini pengaruh dari kebijakan tentang Badan Hukum Pendidikan yang membuat ITB “kekurangan dana” atau memang ITB ingin menghargai & bekerja sama dengan para alumninya. Tapi aneh juga, kalo buat acara band-band ga jelas gini (dimana terdapat super duper sound system yang berisik) kok bisa dengan mudahnya diizinkan & dilakukan pada hari kuliah (kenape ga hari libur aja ye?). ITB juga sampe masang berbagai atribut “dunia fantasi” (jangan heran kalo ngeliat baling-baling warna-warni di gerbang depan & belakang ITB. Itu bukan pengolah energi angin kok, Cuma hiasan aneh yang ga menarik). Sedih juga mengingat beberapa teman ketika ingin mengadakan ta’lim kelas dilarang memakai pengeras suara dengan alasan mengganggu kuliah (yang padahal dipasang pengeras suara pun ga bakal kedengeran dari kelas).


ITB, Jusuf Kalla, & Kabinet RI 2005-2009

Acara dies juga dihadiri oleh wakil presiden RI Jusuf Kalla yang membuat macet jalan tamansari pagi ini. Salah satu kutipan menarik yang beliau sampaikan seperti yang diberitakan di kompas

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, Institut Teknologi Bandung (ITB) bisa dimintai pertanggungjawaban jika pemerintahan saat ini dinilai gagal. Sebab, saat ini, jabatan menteri di Kabinet Indonesia Bersatu mayoritas dipegang alumni-alumni ITB.

“Tujuh dari 32 menteri saat ini berasal dari ITB. Jadi, kalau negeri ini gagal, kita minta saja pertanggungjawaban ITB,” ucap Kalla berkelakar dengan disambut tawa para tamu dan undangan yang hadir di peringatan Dies Natalis Ke-50 (Dies Emas) ITB, Senin (2/3) di Sasana Budaya Ganesha ITB.

hmm,, belum punya tanggapan buat yg terakhir ini. Menarik juga, tapi gimana gitu yah?

________________

tambahan: sumber gambar foto-foto dies dari sini & foto labtek di sini
Sebenernya juga sempet moto-moto sie,, tapi berhubung fotonya pak rinaldi munir lebih “pas” yaa itu aja yg dipake. he2

7 thoughts on “Dies Emas ITB, nama gedung (LabTek) yang diganti, komersialisasi pendidikan, & Kabinet RI 2004-2009

  1. halo pak! salam kenal.

    itu coba agak ditanggapi note kamu di fb yang paling banyak mengundang komentar. jangan lempar wacana sembunyi tangan ajah! ayo, diskusi pak… . hehehe. saya kasih email asli saya tuh, silakan kalo mau ngobrol – ngobrol.

  2. Saya fikir “menjual” nama gedung tidak bisa dikategorikan sebagai komersialisasi pendidikan. Di luar negeri, universitas melakukan hal yang sama untuk meningkatkan “endowment fund” atau dana lestari. Bahkan mereka kadang2 mengabadikan nama si penyumbang sebagai nama jabatan di suatu fakultas/sekolah tertentu. Sebagai contoh di NUS singapore ada jabatan James Riady Distinguished Professor, setelah James Riady memberikan sumbangan besar untuk pembangunan salah satu gedung di sana.

    Well, tidak semuanya tentang duit, tapi kadang2 nama2 diabadikan karena prestasi dan kontribusi juga

    Seandainya anda menulis pembukaan SBM ITB sebagai suatu bentuk komersialisasi pendidikan saya pasti SETUJU dengan tulisan anda !! .. hahahaha

    Salam

    TonSki
    PN 2001

  3. Waduh, dies emas yah? sayang skali ga bisa dateng..
    cumen dapet cerita dari adik yg lg di fttm ajah..
    katanya rame n kampus dipermak abis (apa mirip itb fair’04 y?)

    Dana 4M?? hmm…kykny bisa juga dipake buat dana penelitian mahasiswa TA ato proyek kampus ..
    Diluar daripada itu, saya suka dengan iklan dies emas ini di Metro TV🙂

    Icha Fi’03

  4. Whuaaa parah, orang bisa beli nama gedung kampus terkeren di Indonesia (paling tidak menurut saya). Emang susah ngelawan hegemoni capital, it’s all about “du it”

    jujur soal ini baru tau😛

  5. @uchan:ya ndak papa toh gedung diganti nama…
    jadi dapat pemasukan, daripada kami para mahasiswa dinaikkan SPP…
    hegemoni capital gimana? lah wong para empunya nama ndak menancapkan hegemoninya di ITB kok…
    toh MIT juga punya gedung William Gates (sumbangan Bill Gates)
    Alm.Bu Tien punya mesjid At-Tiin
    ESQ punya gedung ESQ…
    biasa saja toh…

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s