Menghitung Probabilitas Milad di Facebook

untuk datanya ada di bagian bawah postingan ini

Pertanyaan

Jika anda memiliki sejumlah 723 friends di Facebook, maka:

  1. Berapakah probabilitas tidak ada yang berulang tahun hari ini?
  2. Berapa kemungkinan ada lebih dari satu orang yang milad besok?
  3. Berapa harikah dalam satu bulan kemungkinan ada yang berulang tahun?
  4. Berapa teman yang dibutuhkan agar kemungkinan hanya terdapat satu hari dari satu tahun anda tidak memiliki teman yang berulang tahun?

Asumsi:
jumlah hari dalam satu bulan = 30
jumlah hari dalam satu tahun = 365
semua friends menampilkan tanggal miladnya

-hayooo,, inget-inget pelajaran SMA dan kuliah dulu 😀 ->

Advertisements

Pelangi & Mimpi?

Belum lama ini nyewa pisidi – bukan saya sie, tapi orang lain, saya mah ikutan nontonnya ajah 🙂 – lalu menonton film laskar pelangi (kemane aje Mas baru nonton? Haha). Yah,, emang ga terlalu suka baca novel maupun nonton pelm. Novelnya Fransis* – entah ini nama aslinya atau ini yang nama lainnya Andrea Hirata atau kedua nama ini sama-sama asli atau palsu – ini pun belum pernah aye baca.

Tapi waktu nonton filmnya, ada seorang tokoh yang membangkitkan kenangan masa lalu. Pertama nonton sie ni film biasa aja, bahkan hampir ga ngerti alur ceritanya. Tokoh-tokohnya pun kurang tergambarkan sifatnya – mungkin karena terlalu banyak “orang penting” yang ingin diceritakan – sehingga ga sempet nangkep setiap karakter masing-masing orang. Tapi ketika adegan yg termasuk di bagian akhir film ini, ada sesuatu yang menarik, mengingatkan masa kecil dulu, karena hampir sangat persis kejadiannya. Continue reading

Bubarkan Himpunan…..????

Bubarkan Himp

Kalo di-klik ada diskusi yg lebih seru

Saya bukan orang yang tahu apa yang terjadi saat wisuda sabtu kemarin. saya juga tidak tahu siapa saja pihak yang terlibat di sana, serta tidak tahu kronologis kejadiannya. Yang pasti, saya ga akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja,bagaikan angin lalu atau bagai khafilah yang digonggong anjing, tanpa adanya pertanggungjawaban dari pihak-pihak terkait.

Foto yang diambil dari rileks di atas merupakan foto di gedung oktagon ITB dengan radix dan daud sebagai tokoh utama (sorry bro masang poto ente-ente, hehe. Habisnya kerekam sie 🙂 ). Tapi saya ga lagi ngebahas si daud (begitu juga dengan radix), karena saya bukan tukang gosip, (haha,, apa-apan sih ni. 😆 )

Okey, kembali serius sekarang! Bersama ini saya memohon kepada pihak yang bertanggungjawab agar meminta maaf kepada pihak yang sudah (dan akan) dirugikan. Tindakan yang kalian lakukan bukanlah perkara yang sepele dan jangan harap pula akan dimaafkan begitu saja di akhirat sana.

Kepada himpunan, tak hanya yang tertulis di gedung itu melainkan semua himpunan yang terlibat, saya meminta sedikit kebesaran hati anda untuk meminta maaf kepada seluruh massa kampus, para alumni yang diwisuda kemarin (kalian telah mengacaukan hari bersejarah mereka kawan), juga kepada jajaran rektorat dan pihak kampus lain. Ulah kalian menimbulkan banyak keresahan di hati mereka.

Kepada para pencoret-coret, baik si hitam yang merupakan korban pemukulan (turut berbela sungkawa), ataupun si kuning yang bermaksud membela tapi menggunakan cara yang juga kurang sopan (hati-hati dengan kata-katamu, Nak), mohon pula dengan keikhlasan hati kalian meminta maaf kepada para pembersih gedung akibat ulah kalian (saya ga tau siapa saja yg bersihin gedung itu, kynya kongres deh).

Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Terakhir saya turut meminta maaf karena telah berpartisipasi dalam membesar-besarkan masalah ini. Karena jika dibiarkan lalu begitu saja, maka di masa depan masalah ini akan terus berulang dan berulang kembali tanpa ada pembelajaran bahwa hal ini salah. Tak ada maksud untuk membubarkan suatu himpunan atau apa karena memang bukan itu solusinya. Hanya ingin melihat orang-orang berani bertanggungjawab atas perbuatannya yang (sangat) merugikan orang lain. Setidaknya jika tak ada permintaan maaf, mohon pada kegiatan-kegiatan bersama berikutnya (seperti wisuda ini), himpunan yang bersangkutan meminta izin terlebih dahulu. Bagi pihak yang tahu saya harus berkata ke mana, silahkan kopipes link artikel ini, terima kasih.

_pemerhati kebersihan ITB. Tak hanya kebersihan fisik (gedung), tapi juga kebersihan hati_

Facts Behind “Belanda”

  • Belanda itu sebutan dari orang Indonesia kepada negara Netherlands.
    Jadi jika anda bertanya kepada orang Belanda di Belanda, “Are you Belanda’s?”, kemungkinan mereka ga ngerti. Kata Belanda diambil dari bahasa Portugis Holanda -> olanda -> wolanda -> bolanda -> “Belanda“. Jauh banget ga seeh? Haha
  • Percayalah, sebagian besar orang Indonesia lebih mengenal Ajax Amsterdam daripada Ibukota Belanda.
  • Technische Hooge School te Bandoeng (THS) merupakan bahasa Belanda yang berarti : Institut Teknologi Bandung (ITB) 😀 . Dan ada sekitar 20ribu orang sedang menuntut ilmu di sini (termasuk saya 🙂 )
  • Jika pakai name generators, kurang lebih nama Belanda saya akan menjadi Dhimas Van Der Zuardinur (Dhimas Lazuardi Noer). Atau lebih mudahnya ingatlah coklat bermerk Van Houten
  • Jika anda mencari kata “Belanda” di en.wikipedia, maka akan ditemukan artikel ini :
    Belanda Bor is an ethnic group of Southern Sudan. They speak the Belanda Bor language, however most are bilingual in Belanda Viri. They number around 33,000 and follow mostly traditional religions.
    Jadi,,,, Belanda itu seharusnya berada di Sudan. 🙂
  • Tulip itu berasal dari asia, namun mengapa bisa terkenal di Belanda? Ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?
  • Percaya ga percaya, orang Belanda menempuh puluhan ribu kilometer perjalanan laut hanya untuk lada, bawang merah, dan konco-konconya. Padahal jika kita lihat di globe, maka Belanda itu berada sekitar 1800 dari Indonesia alias mereka pergi ke negeri terjauhnya untuk bahan dasar bumbu dapur itu. luarrr biasaa!!!
  • Jika mendengar kata “Dutch”, saya langsung ingat kepada “the flying Dutchman”, salah satu tokoh di SpongeBobSquarePants.

Yah,, itulah beberapa point tentang Belanda yang saya ketahui. Cukup banyak keunikan untuk sebuah negeri kecil di daerah eropa itu. Masih banyak misteri di luar Indonesia sana yang ingin kita jamah dan menarik untuk diketahui bersama.

Netherlands, yang secara harfiah berarti “tanah rendah”, dimaksudkan untuk sebuah negeri yang letaknya berada di bawah permukaan laut. Namun mengapa mereka bisa bertahan sedangkan di Indonesia malah terjadi musibah hanya karena tanggul sebuah bendungan yang jebol?.

Kita (Indonesia) haruslah banyak belajar dari negeri lain. Pergi ke luar negeri janganlah hanya dijadikan hiburan pariwisata ataupun membangun diplomasi politik saja, tapi juga perlu dijadikan kesempatan untuk belajar dan menerapkan ilmu yang didapat. Tentunya agar bangsa Indonesia ini tak hanya jalan di tempat karena tertutup dari komunitas global, melainkan haruslah menjadi inovator-inovator baru peradaban untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Tak banyak orang yang saya kenal pernah belajar di Belanda. Di ITB ada dua orang dosen yang pernah menuntut ilmu di negeri tulip itu. Yang pertama ialah Bu Rajesh, dengan nama lengkap Rajeshri Govindaraju. Seorang keturunan India yang ahli di bidang sistem informasi. Beberapa kali beliau berbagi pengalaman tentang studinya di Belanda dan memang cukup menarik, karena beliau dan saya memiliki interest yang mirip yaitu teknik industri dan informatika.

Orang kedua yang saya kenal ialah Pak Elfahmi, dengan nama lengkap Elfahmi, dan nama panggilan Elfahmi (boleh diteruskan dengan; nama depan, nama belakang, nama tengah, dst yang memberikan kombinasi huruf yang sama,, 😀 ). Beliau adalah seorang dosen farmasi yang saya juga cukup dekat dengannya. Kalau Bu Rajesh lebih mengenai studi di Belanda, pak Elfahmi lebih sering bercerita tentang keadaan lingkungan di Belanda. Bagaimana pergaulannya, sistem pemerintahan, kondisi masyarakat yang liberal, dan berbagai pengalaman unik lainnya.

Saya berharap dengan banyaknya studi di luar negeri, khususnya Belanda, dapat menjadikan sebuah tiket menuju komunitas global. Komunitas global bagi saya bukanlah sebuah komunitas yang tersekat-sekat lagi antar warga negara, ras, suku, wilayah, dan sebagainya. Sudah saatnya kita menjalin sebuah hubungan internasional antar seluruh manusia di Bumi ini.

.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://image.com.com/gamespot
http://en.wikipedia.org
http://itb.ac.id

Kini ku berdamai dengan “kompeni”

350 tahun lamanya – sejumlah itulah yang disampaikan semua guru sejarah saya di sekolah dulu – Belanda mendjadjah negeri ini. Pelajaran ini pun selalu diulang berulang kali yang semakin diulang maka semakin “percaya diri”lah para murid yang dapat menghafalnya (padahal ia adalah bagian dari bangsa yang terjajah itu). Lalu saya mulai menyadari bahwa ada sedikit kesalahan pemahaman sejarah ketika melihat film-film tentang perjuangan pahlawan kita di masa lalu, bahwa mereka (tokoh di film itu) lebih sering menyebut Belanda dengan sebutan “kompeni”.

Banyak anak kecil yang diajari pelajaran sejarah di sekolah dasar, termasuk saya, menganggap bahwa pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia. Padahal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) – yang saya hanya tahu arti kata terakhirnya yang berarti perusahaan (company; dibaca: kompeni) – mereka lah yang berperan besar dalam “menguasai” SDM & SDA negeri ini di masa lalu. Walaupun dalam bayangan saya sebagai seorang teknik industri – jika saya sebagai orang Belanda – maka saya akan menganggap apa yang saya lakukan di negeri Indonesia adalah “memberikan lowongan pekerjaan kepada penduduk setempat”, sebuah pekerjaan yang sangat mulia tentunya 🙂 .

Tetapi bukanlah sejarah masa lalu yang coba saya bahas di sini. Tiga setengah abad lamanya kompeni menguasai perekonomian di Indonesia haruslah menjadi pelajaran – tak hanya sejarah – bagi bangsa ini. Kita dapat lihat bahwa banyak kemajuan yang diberikan para pengelana eropa ketika mereka mencapai daratan Indonesia. Pertama ialah bangunan, yang masih sangat banyak karya yang dibuat oleh Belanda masih bertahan hingga saat ini, menjadi museum dan gedung pemerintahan. Gedung Sate, Istana Bogor, dan lain sebagainya menjadi contoh bangunan megah yang pembuatannya “diajarkan” para kompeni kepada Indonesia dengan sistem learning by building. Mereka juga telah mengilhami perubahan rumah kayu yang biasa terlihat di jaman kerajaan Syailendra & Majapahit, menjadi rumah berbahan beton & semen. Sebuah karya sipil yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia.

Selain bangunan, kita juga melihat suatu karya sipil lain yang masih dipakai sampai sekarang. Jika kembali mengingat sejarah Daendles beserta jalannya, maka sekarang kita mengenal jalur pantura sebagai alternatif jalur terbaik yang dipilih jutaan warga Indonesia pada saat menjelang lebaran. Bayangkan jika Daendless dahulu tidak membangun jalan pantura ini, mungkin kemacetan saat mudik akan jauh lebih parah dari sekarang. Lihat saja kondisi manajemen perhubungan dan transportasi yang sangat banyak buruknya (ups, maaf. Bukan bermaksud menyalahkan menhub, tapi inilah yang saya lihat).

Juga kita tahu bahwa sistem pendidikan (sekolah) yang kita kenal saat ini berasal dari Belanda. Institut Teknologi Bandung, tempat saya berada sekarang ini, juga salah satu “kampus belanda” yang dahulu dikenal dengan nama Technische Hooge School te Bandoeng (THS) . Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan? Sudah saatnya bangsa Indonesia membuka diri dan “berdamai dengan kompeni Belanda” di era globalisasi ini. Aku ingin studi di Belanda dan akan kembali menjadi Soekarno-Soekarno baru di negeri ini.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://al-amien.ac.id/2008/12/30/menjadi-indonesia-merumuskan-identitas-kebangsaan-dengan-diskursus-pascakolonia
http://delapanlima.wordpress.com/2008/04/09/sejarah/

Gantungan kuncinya HP, gantungan HP-nya kunci

Cukup banyak orang berkomentar hinga saat ini tentang HP saya – atapun tentang kunci saya – yang sebenarnya dimaksudkan untuk satu benda yang sama. “Wow, gantungan kunci kamu semahal handphone sony!” Atau kalau dibaca dari setengah bagian gelas kosongnya menjadi “Wow, gantungan HP kamu senilai sebuah kamar kos!”. Dimana seringkali komentar yang didapat ialah “kalo kuncinya ilang*, HP-nya juga ga bisa dipake dong? Kalo HP-nya ilang, ga bisa ke kosan dong?”

*)termasuk di dalamnya ketinggalan/lupa taruh

Hmm,, izinkan mengawalinya dengan sebuah soal yang pernah diberikan di salah satu kuliah analisis keputusan;

“Sebuah peralatan elektronik untuk menjaga keamanan mesin sedang dipertimbangkan oleh sebuah perusahaan. Alat tersebut akan mematikan mesin secara otomatis bilaterjadi kondisi emergency. Peralatan terdiri dari 150 komponen elektronik independen yang dirancang dan dibuat untuk 99,5% bekerja untuk setiap komponennya. Buat estimasi besar kemungkinan tingkat keberhasilan sistem keamanan secara keseluruhan!” -itung dulu yaa, baru baca lanjutannya->

The Next KM ITB leaders are….

Barakallahulaka

Ridwansyah Yusuf Achmad PL’05 sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa ITB
&
Benny Nafariza EL’05 sebagai MWA Wakil Mahasiswa

periode 2009/2010*

semoga dapat menjalankan amanahnya dengan baik dan diberkahi Allah SWT

Mari buat Indonesia tersenyum! 🙂

*) hasil akhir perhitungan suara pemira KM ITB:
pasangan #1 Yunus-Ridwan : 1586
pasangan #2 Yusuf-Benny : 2635
pasangan #3 Ilham-Anas : 703

_seorang_anggota_keluarga_mahasiswa_itb_