Kini ku berdamai dengan “kompeni”

350 tahun lamanya – sejumlah itulah yang disampaikan semua guru sejarah saya di sekolah dulu – Belanda mendjadjah negeri ini. Pelajaran ini pun selalu diulang berulang kali yang semakin diulang maka semakin “percaya diri”lah para murid yang dapat menghafalnya (padahal ia adalah bagian dari bangsa yang terjajah itu). Lalu saya mulai menyadari bahwa ada sedikit kesalahan pemahaman sejarah ketika melihat film-film tentang perjuangan pahlawan kita di masa lalu, bahwa mereka (tokoh di film itu) lebih sering menyebut Belanda dengan sebutan “kompeni”.

Banyak anak kecil yang diajari pelajaran sejarah di sekolah dasar, termasuk saya, menganggap bahwa pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia. Padahal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) – yang saya hanya tahu arti kata terakhirnya yang berarti perusahaan (company; dibaca: kompeni) – mereka lah yang berperan besar dalam “menguasai” SDM & SDA negeri ini di masa lalu. Walaupun dalam bayangan saya sebagai seorang teknik industri – jika saya sebagai orang Belanda – maka saya akan menganggap apa yang saya lakukan di negeri Indonesia adalah “memberikan lowongan pekerjaan kepada penduduk setempat”, sebuah pekerjaan yang sangat mulia tentunya🙂 .

Tetapi bukanlah sejarah masa lalu yang coba saya bahas di sini. Tiga setengah abad lamanya kompeni menguasai perekonomian di Indonesia haruslah menjadi pelajaran – tak hanya sejarah – bagi bangsa ini. Kita dapat lihat bahwa banyak kemajuan yang diberikan para pengelana eropa ketika mereka mencapai daratan Indonesia. Pertama ialah bangunan, yang masih sangat banyak karya yang dibuat oleh Belanda masih bertahan hingga saat ini, menjadi museum dan gedung pemerintahan. Gedung Sate, Istana Bogor, dan lain sebagainya menjadi contoh bangunan megah yang pembuatannya “diajarkan” para kompeni kepada Indonesia dengan sistem learning by building. Mereka juga telah mengilhami perubahan rumah kayu yang biasa terlihat di jaman kerajaan Syailendra & Majapahit, menjadi rumah berbahan beton & semen. Sebuah karya sipil yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia.

Selain bangunan, kita juga melihat suatu karya sipil lain yang masih dipakai sampai sekarang. Jika kembali mengingat sejarah Daendles beserta jalannya, maka sekarang kita mengenal jalur pantura sebagai alternatif jalur terbaik yang dipilih jutaan warga Indonesia pada saat menjelang lebaran. Bayangkan jika Daendless dahulu tidak membangun jalan pantura ini, mungkin kemacetan saat mudik akan jauh lebih parah dari sekarang. Lihat saja kondisi manajemen perhubungan dan transportasi yang sangat banyak buruknya (ups, maaf. Bukan bermaksud menyalahkan menhub, tapi inilah yang saya lihat).

Juga kita tahu bahwa sistem pendidikan (sekolah) yang kita kenal saat ini berasal dari Belanda. Institut Teknologi Bandung, tempat saya berada sekarang ini, juga salah satu “kampus belanda” yang dahulu dikenal dengan nama Technische Hooge School te Bandoeng (THS) . Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan? Sudah saatnya bangsa Indonesia membuka diri dan “berdamai dengan kompeni Belanda” di era globalisasi ini. Aku ingin studi di Belanda dan akan kembali menjadi Soekarno-Soekarno baru di negeri ini.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://al-amien.ac.id/2008/12/30/menjadi-indonesia-merumuskan-identitas-kebangsaan-dengan-diskursus-pascakolonia
http://delapanlima.wordpress.com/2008/04/09/sejarah/

3 thoughts on “Kini ku berdamai dengan “kompeni”

  1. Pingback: Facts Behind “Belanda” « ~ Continuous Improvement ~

  2. kalau kita baca sejarah lebih teliti, dihitung 350 tahun itu sejak Cornelis de houtman dateng ke banten tahun 1596. ditahun 1600-an, VOC baru punya wilayah sedikit di batavia dan maluku, lalu kemudian makassar.. jawa sendiri sebagai sentral nusantara baru benar2 kehilangan pengaruhnya sejak perjanjian giyanti dan salatiga di tahun 1755 dan 1757. Aceh baru jatuh ke tangan belanda di awal abad ke-20…

    So, saya sebenernya kurang senang dengan pandangan bahwa kita telah dijajah selama 350 tahun!! coba kalau daerah2 di luar jawa pada merdeka sendiri2, pasti catatan sejarah masa dijajahnya oleh belanda jauh lebih sebentar😀 toh lagipula pas cornelis de houtman dateng ke banten, belum perang dulu, perangnya pas perebutan batavia, lalu intervensi kerajaan banten (jadi belum menjajah namanya di awal2 itu).

    Btw, kritik sedikit, VOC memang ibarat KADIN-nya Belanda, tapi juga tidak benar bahwaVOC-lah yang melulu menjajah kita. Sejak kebangkrutan resmi VOC tahun 1799, praktis kekuasaan VOC diambil alih oleh pemerintah kerajaan belanda. Adapun adanya TH te Bandoeng (dulu di draft pendirian nama awalnya adalah ITH-Indische Technishe Hoogeschool) dikarenakan ada efek dari kemenangan kelompok liberal di belanda yang meguasai pemerintahan…

    (Adi Onggoboyo, FI99)

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s