Pelangi & Mimpi?

Belum lama ini nyewa pisidi – bukan saya sie, tapi orang lain, saya mah ikutan nontonnya ajah🙂 – lalu menonton film laskar pelangi (kemane aje Mas baru nonton? Haha). Yah,, emang ga terlalu suka baca novel maupun nonton pelm. Novelnya Fransis* – entah ini nama aslinya atau ini yang nama lainnya Andrea Hirata atau kedua nama ini sama-sama asli atau palsu – ini pun belum pernah aye baca.

Tapi waktu nonton filmnya, ada seorang tokoh yang membangkitkan kenangan masa lalu. Pertama nonton sie ni film biasa aja, bahkan hampir ga ngerti alur ceritanya. Tokoh-tokohnya pun kurang tergambarkan sifatnya – mungkin karena terlalu banyak “orang penting” yang ingin diceritakan – sehingga ga sempet nangkep setiap karakter masing-masing orang. Tapi ketika adegan yg termasuk di bagian akhir film ini, ada sesuatu yang menarik, mengingatkan masa kecil dulu, karena hampir sangat persis kejadiannya.

Memenangkan lomba cerdas cermat karena salah seorang anggota team yang melakukan clean sheet – begitulah istilah pengganti saya menyebutnya – setiap soal matematika yang diberikan seolah tanpa perlu menghitung. Bukan hanya itu, adegan berikutnya dimana orang ini menjawab dengan benar namun disalahkan oleh sang juri benar-benar mirip dengan kejadian yang pernah dialami dahulu. Tak cukup sampai di sana kemripan kisah ini, setelah disalahkan sang juri, ada seorang penonton yang membenarkan jawaban sang anak. Ia menyatakan bahwa jawaban si anak benar dan meminta si juri memeriksa ulang. Dan berakhir dengan pernyataan ralat dari sang juri, juga sebuah kemenangan lomba. Oh,,,,,,, that’s really something in my childhood memories.

Tapi, bukan karena ingatan itulah yang membuat diri ini menulis notes ini. Tapi dikarenakan nasibnya – si tokoh dalam cerita itu – berbeda dengan saya. Memang ga terlalu nangkep akhir ceritanya, tapi yang saya rasakan ialah bahwa saya dan dia adalah orang yang sama namun saya diberikan nasib yang jauh lebih baik. Bukan hanya karena perbedaan lingkungannya, tempat ia tumbuh besar, keluarga, kehidupan sosial, perjuangannya ke sekolah (kecuali satu kemiripan lagi dimana saat SMA dulu berangkat ke sekolah pukul 5 pagi), bertemu makhluk ganas dan seorang misterius, kayuhan sepeda 40 km di belantara pedesaan, dan sebagainya. tetapi juga karena masa depannya – yang ditentukan oleh nasib di hari yang sama ia memenangkan lomba itu – dan membuat ia menjadi sangat berbeda dengan saya. Ia yang tak dapat meneruskan pendidikannya setelah itu, sedangkan diri ini menjadi seorang yang dapat menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai di sebuah kampus terbaik di Indonesia, dimana tak satupun teman SD saya yang sampai di sini (kecuali saya sudah tak mengenali mereka, namun kemungkinan hipotesis saya benar masih lebih besar karena saya tahu sebagian nasib teman-teman perjuangan saya dahulu).

Hanya saja masalahnya, setelah ini apa yang harus dilakukan? Jika ia – sang tokoh dalam novel tersebut – berada di posisi saya saat ini di sini, apakah yang sedang ia pikirkan? Rasa sedih karena melihat banyak orang bernasib tak sebaik diri ini bertambah dengan rasa bingung karena harus bertanggungjawab terhadap amanah “nasib baik” yang diberikanNya kepada hamba. Sementara di sini, saat ini, diri ini merasa (lagi-lagi) kehilangan arah untuk sementara dan belum tahu dimana atau bagaimana mencari jawabnya. Tentunya saya yakin jawabannya bukanlah menyerahkan harapan masa depan ke anak saya, bisa-bisa hal ini hanya akan menjadi menjadi roda perputaran harapan yang tak kunjung datang. Seperti sebuah paradoks life hope cycle dimana semua orang tua menaruh harapan dan cita-citanya pada anaknya, anaknya berharap pada anaknya lagi setelah ia berkeluarga, dan seterusnya.

Yah,, memang pernah beberapa kali diri ini berfikir bahwa jalan hidup yang dilaluinya sangatlah indah. Seolah tanpa halangan berarti untuk menjadi apapun yang ia mau. Hanya saja seringkali kesempatan ini seolah tak ia optimalkan penggunaannya, bahkan ia lalaikan…..

Ya Allah, jika ini jalanku, maka mudahkanlah!

Jika ini bukan jalanku, maka jadikanlah ini jalanku! Amin,,,,

_seorang yang bimbang, belum tahu apa yang dunia harapkan pada dirinya_

*)didapat dari salah satu sumber terpercaya yang bertemu dangan penulis
novel ini saat ia kuliah di Belanda. Penulis novel merupakan seorang yang
sering terlihat di masjid – mengaji, tidur, belajar – seorang yang
berambut panjang, pernah ikut liqo, tingal di Bandung, dan berbagai
ciri-ciri lainnya yang tidak dapat tergambar di sini.

4 thoughts on “Pelangi & Mimpi?

  1. assalamu ‘alaikum akh
    afwan, sebelumnya ane minta maaf. Ane nggak bermaksud menjadi plagiator dengan menciptakan blog (http://ceritaktivis.blogspot.com). Ane buat blog itu sebelum menemukan blog ceritadk.blogspot.com, itu pun di bilangi ma ikhwah KAMMI BAndung.

    Ane hanya ingin mewujudkan mimpi, ada sebuah blog yg menghimpun segala cerita pengalamn para aktivis dakwah, bukan hanya ADK.

  2. Pingback: The Dreamers « ~ Continuous Improvement ~

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s