Percaya Diri yang “berlebihan” dari bapak anggota DPR kita :)

Berbagai hal unik terjadi pada acara pelantikan anggota DPR hari ini. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah kejadian pada saat gladi resik yang dilakukan oleh bapak Roy Sukro Suryo. Berikut yang saya kutip dari berita di detik.com pagi ini.

Kasus interupsi salah alamat ini berlangsung dalam gladi pelantikan anggota DPR dan DPD, Rabu (30/9/2009). Interupsi dilontarkan oleh Roy Suryo, anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Demokrat (PD).

Di saat gladi akan dimulai, Roy yang duduk di baris ke tiga dari depan mendadak berdiri dan lantang berkata, “Peraga presiden tidak ada, ini tidak boleh terjadi. Peraga presiden harus ada, kalau tidak harus bertanggung jawab bila terjadi kesalahan. Gladi bersih tidak boleh salah!”

Interupsi ini spontan mendapat sambutan meriah dari sesama anggota baru DPR. Tepuk tangan meriah seketika membahana dalam Ruang Nusantara Gedung DPR, Jakarta, tempat berlangsungnya acara gladi pelantikan.

Setelah segala kemeriahan itu mereda, baru petugas protokoler Sekretariat DPR yang bertindak sebagai pembawa acara memberi tanggapan. Dia menjelaskan bahwa khusus gladi yang sedang dilangsungkan saat itu tidak memerlukan adanya peraga Kepala Negara.

“Tadi kita sudah melaksanakan gladi yang dihadiri Presiden RI dan ada peraga presiden-nya. Sekarang kita mencoba gladi bila Presiden RI tidak hadir, jadi tidak ada peraga presiden-nya,” jelasnya.

Mendengar penjelasan ini langsung saja gelak tawa terpingkal-pingkal memenuhi ruangan. Sementara Roy Suryo hanya menggangguk-anggukan kepala dengan raut tersipu-sipu. Apakah Roy Suryo datang terlambat? Eh.. ternyata tidak. Roy Suryo datang ke ruangan itu tepat waktu.

Mungkin pak Roy Sotoy Suryo harus terlebih dahulu mengecek metadatanya apakah gladi ini asli atau tidak 🙂 . Supaya dia bisa meyakinkan kepada bapak anggota DPR yang lain bahwa beliau adalah “yang paling benar” dan tidak pernah salah.

Selain kasus RS, ada satu hal lucu lagi pada saat gladi yang kali ini menimpa pak Marzuki Alie. Beliau disuruh pindah dari tempatnya saat sedang menjajal kursi ketua DPR.

Entah karena semangat yang berlebih atau karena memang “belum biasa” jadi orang penting, kesalahan seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi jika bapak DPR kita bisa lebih serius dalam bersidang. Doa saya semoga kinerja bapak-bapak DPR kita sekarang lebih baik lagi dibanding periode sebelumnya.

Advertisements

Hari Ied yang kelam

Hari raya Ied ternyata meninggalkan lebih banyak duka dibanding hari-hari biasa. Diberitakan bahwa ada 472 orang meninggal saat mudik 1430 H. Jumlah ini bahkan lebih besar daripada korban tewas ledakan bom dari teroris, juga lebih banyak daripada umumnya jumlah korban bencana alam. Apakah memang rakyat kita punya mental “siap syahid”, “bosan kehidupan duniawi”, “ingin segera menuju surga”, atau jangan-jangan ini hanya “mati konyol”?

Memang sie jumlah ini sudah berkurang dibanding tahun lalu yang mencapai 500an orang korban meninggal. hey, it’s 500. Gw berbicara 500 nyawa manusia. Gile banget ga sih? Apa nyawa manusia udah sebegitu ga berharganya? Berapa banyak sudah korban akibat “terorisme tahunan” ini?

Lantas yang disalahkan siapa? Pemerintah? Rakyat? Polisi? Pengguna jalan? Supir bis & pengendara motor yang ngebut? Jalanan yang licin? Perusahaan pembuat jalan? Perusahaan supplier aspal? Perusahaan pengambil minyak yang nantinya diolah menjadi aspal? Si pembuat minyak (baca: dinosaurus)? Ibunya dinosaurus? Walah,, ga akan ada habisnya nih

Ga jauh berbeda dengan hari raya iedul adha. Ratusan jamaah haji meninggal di Arab. Saya yakin, walaupun yang meninggal adalah para jemaah haji, pemerintah ga akan pernah bilang, “alhamdulillah, hari raya iedul adha kali ini telah mensyahidkan seratus sekian orang dari Indonesia. Ratusan mujahid lainnya tersebar dari berbagai negeri lain. Walaupun jumlah mujahid turun dari tahun lalu……

Apakah memang orang yang meninggal saat Hari Raya itu akan menjadi syahid? Wah, kalau saya jadi malaikat, terus boleh mem-vote seorang itu meninggal menjadi syahid atau mati konyol, mungkin saya akan memilih pilihan yang kedua. *untung gw bukan malaikat*. Tapi maksud saya adalah bahwa pekerjaan rutin tahunan Malaikat Izrail ini bukanlah perkara yang boleh kita anggap sepele.

Kita ga boleh cukup berpuas diri dengan berkurang seratus nyawa tahun ini. Masih ada kesempatan tahun depan siapa tahu kita yang menjadi korbannya (semoga tidak. Amin). Manajemen hari raya harus terus diperbaiki sehingga zero defect dapat tercapai (baca: jumlah orang meninggal karena “kegiatan hari raya” menjadi 0 orang). Mulai dari improving resque process, tol & pantura maintenance, sampai pemudik & supir education (penyuluhan mengenai mudik aman).

Semoga hari raya yang kelam ini tidak terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya……

Menjalin Hubungan dalam Berbisnis untuk Mendapatkan dan Mempertahankan Status Suplier Kunci

0001104659-06-040435_G132981BA05I003

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, para akademisi dan praktisi mengakui bahwa hubungan baik antara pembeli dengan penjual adalah sebuah keunggulan kompetitif. Literatur pemasaran di tahun 1980an juga mengatakan akan perlunya memanaje hubungan (relationship) sebagai aset strategis. Sejak saat itu, banyak dilakukan penelitian mengenai keuntungan dari adanya hubungan penjual-pembeli dan potensinya dalam mencapai hasil yang super.

Para pelanggan mengkonsolidasi basis suplai dan merancang suplai program. Konsekuensinya, para suplier akan semakin menghadapi alternatif status mereka; entah itu sebagai key supplier status (suplier utama) atau terpaksa menjadi backup supplier (suplier cadangan). Hubungan pembeli-penjual menyebabkan kualitas dan harga barang tidak lagi menjadi indikator penting. Para vendor pun mencari cara untuk membedakan dirinya dengan yang lain dalam hubungan pembeli-penjual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan nilai dalam hubungan pembeli-penjual dalam berbisnis. Penulis (Ulaga) mendapatkan bahwa dukungan layanan dan interaksi personal sebagai inti pembeda, diikuti oleh pengetahuan suplier dan kemampuannya untuk meningkatkan customers time to market. Kualitas produk dan kinerja pengiriman, serta biaya akuisisi dan biaya operasional, menampilkan potensi yang sedang untuk membantu perusahaan mendapatkan status suplier utama. Sedangkan harga menjadi pembeda yang terlemah. Continue reading

Pengaruh bentuk gelas pada volume penuangan minuman

Journal Review
Journal of Consumer Research
Bottoms Up! The Influence of Elongation on Pouring and Consumption Value
Brian Wansink
Koert Van Ittersum

Pengaruh dari bentuk benda pada persepsi (perasaan) manusia sudah diteliti secara luas. Contoh yang dihasilkan misalnya benda berbentuk segitiga dipersepsikan lebih luas dibanding benda berbentuk segiempat, benda berbentuk segiempat dipersepsikan lebih luas dibandingkan benda berbentuk lingkaran, dan benda yang elongated (diperpanjang) lebih besar dibanding benda yang less elongated. Padahal benda tersebut bervolume sama.

Raghubir dan Krisna menunjukkan bahwa elongasi berpengaruh positif pada persepsi mengenai kapasitas pada gelas. Mereka juga menunjukkan bahwa terjadi pengaruh pada volume penuangan minuman pada gelas karena orang berpersepsi bahwa gelas yang terelongasi memiliki volume lebih besar. Rasionalisasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa elongasi membuat ekspektasi pada volume lebih besar, dimana hal ini tidak disadari/dipengaruhi oleh pengalaman mengkonsumsi minuman.

Ada tiga penelitian yang dilakukan untuk menguji hal ini. Penelitian ingin mengetahui pengaruh elongasi pada penuangan minuman yang dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa, dan bartender, serta bagaimana persepsi (perasaan) mereka tentang volume minuman yang dituangkan.

Study dilakukan dengan metode experimental design. Beberapa orang sesuai kriteria penelitian (anak-anak, dewasa, dan bartender) diminta untuk menuangkan minuman di gelas yang berbeda. Gelas pertama adalah gelas tinggi langsing (tall-slender), sedangkan gelas kedua adalah gelas pendek gemuk (shrot-wide), yang keduanya memiliki volume sama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode ANOVA.

Hasil yang didapat ialah sebagai berikut:

Kesimpulan :

–          Studi membuktikan bahwa memang terjadi pengaruh baik pada anak-anak, orang dewasa, maupun bartender, walaupun bias-nya berbeda-beda.

–          Hal ini merupakan salah satu penerapan keilmuan psikologi dalam marketing. Dimana kita memanfaatkan persepsi konsumen tentang volume minuman dengan merekayasa bentuk gelas

–          Pengaruh yang dapat dimanfaatkan oleh produsen atau pedagang berdasarkan hasil studi ini ialah dapat membuat pelanggan lebih puas dengan merekayasa bentuk gelas menjadi tinggi-langsing.