[Tragis]Dilarang memakai jilbab oleh ayah sendiri

Dilarang memakai jilbab oleh ayah sendiri

Di suatu malam, Susi memutuskan bahwa ia akan mulai memakai jilbab mulai esok hari. Ia meminta izin terlebih dahulu kepada ayahnya. Namun, tak ia sangka ayahnya malah melarangnya. Berikut dialog yang terjadi antara keduanya:

Susi        : Pa, Susi ingin bicara…
Ayah     : Ada apa, sayang?

Susi      : Papa, aku ingin memakai jilbab mulai besok
Ayah      : Apa kau bilang, Susi? Papa ga salah denger nih?
Susi        : Aku ingin memakai jilbab, Pa…..
Ayah      : Papa tak setuju. Papa tidak ingin kamu memakai jilbab, Susi sayang.
Susi        : Pa, aku khan ingin tampil seperti teman-teman muslimah di kantorku
Ayah      : Tidak boleh, Susi. Pokoknya tidak boleh. Titik!

Susi        : Papa,, aku khan ingin menjaga kehormatanku. Makanya aku memakai jilbab (dengan nada memelas)
Ayah      : (Mulai emosi) Kehormatan apanya? Pokoknya papa ga suka kamu memakai jilbab. Apa nanti kata tetangga, hah?
Susi        : Pa, suatu saat setiap manusia harus berani untuk berubah. Tak peduli apa kata orang. Karena perubahan itu suatu keniscayaan bagi umat manusia. (dengan nada yakin seperti orator politik berbicara)
Ayah      : Susi, papa sayang sama kamu. Makanya papa melarang kamu memakai jilbab. Jadilah Susi seperti anak papa yang biasa yah sayang…..
Susi        : Tapi, paaaaa…
Ayah      : (tak acuh)

Susi        : Pokoknya Susi mulai pakai jilbab besok. Ga peduli papa mau ngomong apa
Ayah      : (Marah) KALAU KAU TETAP MEMAKAI JILBAB BESOK, JANGAN PERNAH KEMBALI KE RUMAH INI!
Susi        : (Tersentak kaget. Lalu menangis ke kamar) hiks.. hiks..

Ayah      : (Melihat anaknya menangis masuk ke kamar. Ia pun mengikutinya) Susi,,, maafin papa yah?
Susi        : Papa jahat! Kenapa sih papa melarang kebebasanku? Berikan Susi satu alasan kenapa papa ngotot tidak memperbolehkan Susi memakai jilbab!
Ayah      : Susilo, kamu ini khan laki-laki, makanya papa ga setuju kamu pakai jilbab……

Demikianlah kisah Susilo. Akhirnya ia  bertaubat dan memutuskan untuk tidak memakai jilbab. Setahun kemudian, ia bertarung melawan naga raksasa untuk membebaskan sang putri yang cantik dan berjilbab. Lalu ia menikah dengan putri cantik sholehah berjilbab itu dan hidup bahagia untuk selamanya. Sekian….

Hikmah kisah ini:

  1. jadilah anak yang penurut kepada orang tua
  2. jadilah ayah yang baik seperti ayah Susi
  3. kalau menangis sebaiknya di kamar, jangan di tempat umum
  4. carilah istri yang sholehah, cantik, juga berjilbab agar hidup bahagia selamanya
  5. hikmah lainnya silahkan dicari sendiri
  6. hmm,, apalagi ya? oia, hikmah tentang jilbab… ah, lebih baik cari sendiri juga

Advertisements

Menjadi Perguruan Tinggi “Masa Depan”

Jikalau ditanya mengenai perguruan tinggi (PT) idaman, mungkin setiap orang akan punya bayangan yang berbeda. Ada yang bilang perguruan tinggi idaman itu adalah universitas yang masuk list world class university. Sebagian bilang universitas yang kegiatannya melakukan riset terus-menerus. Ada yang (mungkin) bilang perguruan tinggi idaman itu ialah yang mahasiswa drop-out nya pun bisa jadi orang terkaya sedunia (sambil membayangkan jadi Bill Gates & Steve Jobs, kebayang juga Mack Zuckerberg yang ga lulus-lulus tapi duitnya udah bisa ngebail-out sepuluh Bank Century. Hehe). Ada juga sekelompok orang yang ketika ditanya “perguruan tinggi idaman”, maka jawabannya adalah “iTeBe! ITeBe! IiiiiTeBeeee!” (*sambil meneriakkan yell ala OSKM 😀 )

Tak mengapa mempunyai pandangan yang berbeda mengenai bagaimana mendefinisikan perguruan tinggi idaman. Namun pada dasarnya, PT yang baik ialah yang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswanya – sebagai “konsumen” pendidikan di PT tersebut, serta dapat mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jika kita berbicara kriteria PT yang baik, akan ada banyak indikatornya. Pendidikan yang berkualitas, fasilitas yang memadai, dosen yang berkompeten, punya perpustakaan besar, biaya yang terjangkau, banyaknya beasiswa, kepastian pekerjaan setelah lulus, pendidikan hardskill & softskill untuk mahasiswa, dan lain sebagainya. Semua parameter itu dapat dibilang sebuah hal yang “kudu” ada di kampus manapun yang ingin menyandang predikat sebagai kampus favorit. Tapi untuk menjadi perguruan tinggi idaman, terbaik, spesial, maka PT haruslah memiliki sebuah “keunikan” tersendiri – sesuatu yang masih jarang ditemukan di kampus lain.

.

.

The Future University

Salah satu ide yang bisa disiapkan oleh kampus yang ingin menjadi kampus favorit adalah menjadikan dirinya sebagai “kampus masa depan”. Kampus masa depan menyiapkan dirinya untuk menghadapi situasi kebutuhan bangsa di masa depan. The Future University memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada saat ini untuk mulai disolusikan mulai dari level kampus. Beberapa kriterianya menurut saya ialah sebagai berikut:

Eco-Friendly Campus

Kampus masa depan adalah kampus yang ramah lingkungan dan hemat energi. Kita dapat membayangkan sebuah kampus hijau nan asri, di mana pejalan kaki dan pengguna sepeda lah yang mendominasi. Tidak seperti kebanyakan kampus di kota besar yang warganya ingin tampil mewah dengan menggunakan mobil pribadi untuk berangkat ke kampus. Jangan sampai perguruan tinggi malah menjadi kontributor utama polusi di kotanya. PT haruslah menjadi teladan pertama dalam permasalahan lingkungan & energi.

ICT Based Campus

Information & Communication Technology (ICT) akan terus menjadi teknologi yang berkembang pesat di masa depan. Perguruan tinggi haruslah segera tanggap menghadapi hal ini, jangan sampai malah “ketinggalan jaman”. Seminimalnya permasalah administrasi di kampus dapat mulai dikerjakan dengan IT. Bahkan jika memang cocok, e-learning bisa dijadikan metode pembelajaran yang cukup efisien di kampus.

Interaksi sosial warga kampus

Saat ini gap (kesenjangan) antar masyarakat semakin terlihat. Menurut saya, salah satu kriteria plus yang perlu dimiliki perguruan tinggi terbaik ialah adanya hubungan yang baik antara dosen, karyawan, mahasiswa, serta masyarakat. Jangan sampai ada salah satu golongan yang “sok jaim” dan merasa lebih tinggi daripada yang lain. Alangkah indahnya ketika rektor dapat duduk bersama mahasiswanya untuk makan siang bersama, juga suasana keakraban antara dosen dengan masyarakat sekitar kampus.

Kampus sebagai Community Development Center (CDC)

Peran kampus masa depan sebagai pusat pengembangan komunitas di masyarakat sekitar perlu ditingkatkan. Sebagian kampus sudah menerapkan hal ini melalui kegiatan kemahasiswaannya seperti kegiatan pengabdian masyarakat dari BEM maupun himpunan jurusan. Selain untuk membantu masyarakat sekitar, kegiatan CDC juga menjadi ajang latihan bagi mahasiswa menerapkan bidang keilmuannya sesuai jurusan masing-masing. Ada baiknya penyelenggara kampus (rektorat, dosen)juga ikut berpartisipasi dalam program CDC di kampus masa depan.

Research University

Melakukan kegiatan riset (penelitian) merupakan sebuah keharusan bagi PT sesuai tridharma perguruan tinggi.  Perguruan tinggi favorit Indonesia sudah selayaknya memiliki banyak hasil riset dan publikasi, jadi gelar profesor yang banyak didapat di Indonesia tak sebatas digunakan untuk kepentingan “ekonomi pribadi” saja, tapi juga untuk memperkaya kebendaharaan karya ilmiah di negeri ini. Selain banyaknya riset & publikasi ilmiah, satu hal yang perlu ditekankan lagi ialah asas kebermanfaatan dari hasil riset itu. Karena ada pula kampus yang melakukan banyak penelitian namun hasilnya tidak aplicable untuk diterapkan. Riset di sebuah kampus masa depan akan lebih baik jika bermitra dengan para stakeholder kampus; pemerintah, industri, maupun masyarakat.

University of Future Leaders

Poin terakhir yang ingin saya sampaikan mengenai kampus masa depan ialah fungsi utama sebuah perguruan tinggi untuk mencetak alumninya yang berkualitas, tak hanya sebagai “buruh” industri, namun juga sebagai calon pemimpin bangsa. Kampus terbaik adalah kampus yang mencetak para calon pemimpin masa depan di berbagai sektor: pemerintahan, swasta, dan masyarakat. Program-program seperti ini semakin marak terutama dilakukan oleh NGO, berupa program pendidikan “khusus” kepada mahasiswa untuk disiapkan sebagai pemimpin masa depan, seperti PPSDMS misalnya. Pendidikan di kampus ini menghasilkan alumni-alumni yang memiliki kapasitas bagus, bervisi strategis, memiliki komitmen pada moral dan agama yang baik, berintegritas tinggi, serta peduli terhadap bangsa dan negaranya.
Jikalau UII (Universitas Islam Indonesia) ingin menjadi perguruan tinggi favorit Indonesia, keenam hal di atas lah yang perlu dipenuhi.

.

.

Itulah definisi perguruan tinggi idaman menurut saya. Bagaimana dengan anda?

.

.

.

.

.

.

————————————–

Inspirasi:
http://itb.ac.id
http://ppsdms.org
– Link lain yang terkait langsung dapat di-klik pada artikel
NB:
-yang baca wajib komennnnnnn!!!!!
-artikel ini diikutsertakan pada lomba blog UII
-jangan lupa dikomen & dirate. bintang 5 yah kalo bisa 🙂

Ini kampus apa tempat parkir sih?

Kesel ga sih ngeliat sekitar kampus kaya’ begini?
Kok kebanyakan kendaraan?
Pengen pamer atau apa?
Tau gak bandung tuh dah sesek?
ITB, yang katanya pengen jadi world class, tapi sama lingkungan sekitar aja ga perhatian
Berapa banyak energi fosil yang dibuang?
Berapa banyak lahan yang dibuat ga rapi gara2 pemandangan gini?
Berapa besar kemacetan yang ditimbulkan di jalan ganesha & tamansari gara2 ini?
Berapa banyak polusi yang diproduksi? Katanya mau jadi eco-campus? Mimpi kalii

antara TI - sunken
TI-Sunken

tamansari-sumur bandung penuh parkir mobil orang2 itb
Tm.Sari atas

dayang sumbi
Dayang sumbi

ganesha. dekat SR
Ganesha, dekat SR

Parkir SR. tampak dari luar
Parkir SR tampak dari luar

jalan skanda
Jalan Skanda

Boulevard aja jadi tempat parkir
Deket boulevard

parkiran di 4 labtek yang di tengah
Deket labtek IF

deket labtek IF
Deket labtek IF juga

dekat gku & gedung biologi
Depan biologi

sepanjang jalan di tengah2 itb
Sepanjang jalan

.

.

Dan masih banyak lagi lahan parkir lain yang tak terpublish di sini

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kalo dibiarin lama-lama Bandung jadi kaya’ gini gara-gara ITB:

Internet kok disalahin????

Aku mengenalnya sudah sejak lama. Aku tahu ia bukan orang baik-baik, namun Ia begitu perhatian denganku. Aku merasa nyaman di dekatnya. Tapi, suatu saat kami harus berpisah. Hingga sekian tahun kemudian, facebook mempertemukan kami kembali. Ia tampak begitu gagah di fotonya. Aku pun tak mau kalah, maka kupamerkan foto-foto tercantikku. Tak lupa kami berchating ria setiap hari. Kami begitu akrab pada interaksi kami di dunia maya, seperti masa muda kami dahulu. Hingga suatu saat ia mengajakku bertemu di suatu tempat. Yang mana kejadian itu membuat diriku muncul di koran dan berbagai berita pada minggu depannya.

“Mawar (bukan nama sebenarnya), diculik oleh teman Facebook nya………..”

_____________________________________________

Aku seorang guru. Akumengajar di sebuah sekolah. Sekolah tempat ku mengajar adalah sekolah unggulan. Kami mengajarkan pelajaran matematika, biologi, fisika, dan berbagai pelajaran lainnya. Kami menyediakan fasilitas yang cukup untuk kebutuhan belajar untuk meningkatkan kualitas pelajaran sekolah kami. Namun ada satu yang kami lupakan, “pendidikan moral”. Maka dapat kulihat kelakuan murid-muridku yang nakal. Mendidik mereka seperti mendidik calon berandal, terlebih si 4 orang biang kerok itu. Mereka berbicara dengan orang tua, guru, bahkan dengan ustad sekalipun dengan menggunakan kata-kata kotor. Hingga suatu hari, aku tak sanggup lagi menahan emosiku dan melampiaskannya kepada keempat orang itu.

Keesokan harinya, tersebarlah print-out status facebook dari salah satu muridku dan dikomentari oleh tiga murid lain. Di sana tertulis namaku. Disebut-sebut sebagai orang yang ****** (dengan kata-kata kotor).

“Empat orang dikeluarkan dari sekolah setelah menulis  status facebook ……… “

_____________________________________________

Bayiku sangat lucu. Ia bagaikan malaikat yang menemani keluarga kami. Namun suatu saat, ada kamera dari seorang wartawan yang membentur kepala mungilnya. Tentu aku marah. Ia (sang wartawan) pun sadar, namun ia tak meminta maaf sama sekali. Maka malamnya kulampiaskanlah kemarahanku melalui media personalku.

Keesokan harinya…

“Artis X digugat wartawan karena melecehkan di twitter……..”

_____________________________________________

penjarakan internet

HERAN! Internet kok disalahin????????????? Moral bangsa yang semakin rusak malah dibiarin…….. 😦

JANGAN PENJARAKAN INTERNET!!!!!

The Questions of Life

“Masa muda masa yang berapi-api”, itulah kata bang haji Rhoma. Tapi bukan semangat muda yang akan dibahas, tapi mengenai jiwa muda yang sedang mencari jati dirinya.

Kadang kita merenung dan berpikir mengenai “The Questions of Life” – “Pertanyaan mengenai kehidupan”. Setiap orang memiliki “the Questions of Life” yang ingin ia temukan jawabannya. Pertanyaan yang ekstrim mungkin akan berbunyi, “Untuk apa saya hidup?” atau “Mengapa saya dilahirkan?”. Atau pertanyaan lain yang juga cukup berat untuk dijawab, “Apa yang bisa saya lakukan dalam hidup ini?”, “Akan jadi orang seperti apakah saya?”, “Mengapa saya berada di sini saat ini?”, dan yang sejenisnya.

The Questions of Life akan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan seseorang & dapat mengubah kehidupannya. Saat dimana seorang menemukan jawaban dari the question of life dapat menjadi tipping point (meminjam istilahnya om Malcolm Gladwell) di kehidupannya masa depan. Ketika seorang telah menemukan jawabannya, ia dapat melakukan segalanya untuk meraihnya. Bahkan mungkin meninggalkan harta, tahta, dan keluarganya. Dan mereka tak akan menyesal melakukannya.

Berbagai jawaban dari questions of life pun bermunculan setelah melalui perenungan yang cukup. Dan setiap orang mungkin memiliki jawaban yang berbeda; “Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya”, “Saya akan menjadi orang kaya”, “Saya harus bisa berbakti pada bangsa dan negara”, “Saya ingin syahid”, “Saya harus banyak beribadah agar masuk syurga”. Atau jawaban yang berbentuk profesi masa depan; “Saya akan menjadi dosen”, “Saya akan menjadi pengusaha sukses”, “Saya akan menjadi Presiden Republik Indonesia”, dsb.

Teringat dengan kisah Nabi Ibrahim yang memiliki question of life untuk mencari Tuhannya. Dia merenungi tentang bintang yang tenggelam, bulan yang terbenam, matahari yang terbit lalu terbenam pula. Hingga ia menemukan Tuhannya yang sesugguhnya, yang menciptakan langit dan bumi serta seisinya. Itulah cara Ibrahim menjawab the question of life nya. Atau seperti nabi Musa yang menerima perintahNya di bukit Sinai, nabi Muhammad yang menyepi di Gua Hira, Gajah Mada yang memutuskan melakukan sumpah palapa, Sasuke yang bertekad membalas dendam kepada Konoha, seorang mahasiswa yang memutuskan untuk menjadi pemimpin masa depan, dan berbagai contoh lainnya.

Sebagian besar perenungan umat manusia dalam menjawab “the Question of Life” tidak tercatat dalam sejarah. Karena memang perenungan itu dilakukan sendiri, melalui pemikiran-pemikiran di dalam akal manusia.

Kadang diperlukan perenungan yang lama, namun kadang juga ada sebagian orang yang terlalu lama merenungkannya. Padahal sebagian besar jawaban dari Questions of life tidak ditemukan melalui perenungan, melainkan melalui aksi nyata. Pernah diri ini berlama-lama membayangkan masa depan yang akan terjadi, tapi kenyataannya hal ini malah membuat hidup menjadi tidak produktif dan malah menzholimi yang lain. Karena sebagian besar jawaban sebenarnya sudah ditemukan oleh generasi terdahulu, panutan kita Rasullullah SAW.

So, jangan merenung terlalu lama. Quickly find your answer & start your new life….

Ace yang menemukan jawaban dari question of life nya. meskipun akhirnya ia harus mati, namun tidak menyesal
(Klik buat baca komiknya. recommended page 10-17 when Ace says that he doesn’t hesitate about what he was doing after he found his answer of his Question of Life
)

Menarik kesimpulan dari fakta, atau menarik fakta dari kesimpulan

Dua hal yang mirip, tapi implementasinya sangat berbeda. Banyak orang dan media menggunakan trik ini untuk meyakinkan orang lain. Bagi orang awam, pasti akan mudah terjebak ketika berdiskusi atau membaca tulisan yang menggunakan metode ini.

Kita seharusnya menarik kesimpulan dari fakta (MKDF); Ada fakta, lalu kita kaitkan, sehingga kita dapatkan kesimpulan yang sesuai dan objektif. Bukannya malah menarik fakta dari kesimpulan (MFDK); Kita sudah punya kesimpulan di awal, lalu tinggal dihubung-hubungkan dengan fakta yang “sesuai” dengan kesimpulan kita, sedangkan “fakta” yang tidak sesuai tidak ditampilkan.

Di media dan internet banyak sekali tulisan seperti ini – menarik fakta dari kesimpulan. Mungkin pernah baca juga humor mengenai “reaksi dunia atas tenggelamnya kapal Titanic” atau mengenai “Mengapa ayam menyebrang jalan”. Di sana diceritakan berbagai pandangan tokoh-tokoh dunia tentang penyebab suatu masalah terjadi. Namun pada joke ini, mereka – tokoh-tokoh di cerita itu – tidak mengambil kesimpulan dari fakta yang ada, melainkan mencari-cari fakta lain yang sesuai dengan kesimpulan mereka.

Hal demikian bisa jadi hal yang lucu dan menarik untuk dibahas (seriously, these are the kind of jokes that I like the most :lol:). Namun jika digunakan di tempat yang salah, bisa jadi kekacauan, apalagi di ranah politik dan hukum. Dan itu terjadi sekarang ini. Banyak orang dan tulisan di media melakukan MFDK. Mereka mengkaitkan fakta-fakta yang ada untuk menggiring masyarakat agar memiliki pandangan yang sesuai dengan kesimpulan mereka.

Ambil contoh; ada sebuah masalah, yaitu ada teroris meledakkan bom di hotel di Jakarta. Lalu ada “pihak” yang punya kesimpulan di awal bahwa “Islam adalah teroris” dan ingin menggiring opininya lewat media. Maka jadilah penarikan fakta-fakta dari masalah ini, sehingga fakta yang ditampilkan akan seperti berikut dan akan membuat masyarakat beropini sebagai berikut:

  • Teroris (X) diketahui beragama Islam >> opini masyarakat: orang Islam adalah teroris
  • X pernah berhuibungan dengan Al-Qaeda >> opini masyarakat: Al Qaeda adalah teroris
  • X sering sholat di Mesjid Al-Hikmah (maaf, kesamaan nama bukan hal yang disengaja) >> masjid Al-Hikmah adalah mesjidnya teroris
  • X pernah sekolah di pesantren A, madrasah B, dst >> pokoknya itu semua teroris

Sedangkan fakta-fakta yang tidak ditampilkan mungkin sebagai berikut:

  • X pernah berkunjung ke US untuk studi mengenai agama (bisa jadi akidahnya berubah di sini)
  • X pernah dilatih merakit bom oleh agen CIA secara rahasia (dan diberi tugas spesial melakukan pengeboman di salah satu kota di Indonesia)
  • X adalah anak buah Mr.XXX

Maka jelas akibatnya masyarakat akan tergiring ke opini sesuai fakta yang ditampilkan ke publik.

Akibat buruk lain dari MFDK ini juga banyak contoh realnya. Orang-orang banyak percaya bahwa invasi Israel ke Gaza adalah untuk membasmi teroris Hamas, padahal mereka (Israel) sedang menjajah tanah Palestina. Orang-orang percaya bahwa nuklir Iran adalah ancaman, padahal itu sekedar penelitian. Orang-orang percaya bahwa Antasari bisa dihukum mati, padahal 10 dakwaan kepadanya hanyalah fakta-fakta yang “dipaksakan” muncul karena JPU sudah punya kesimpulan di awal. Orang-orang percaya bahwa SBY sedang berusaha menaikkan popularitas dengan membuat album baru, padahal (mungkin saja. mungkin lho, awak juga ga terlalu percaya sie) dia sedang berusaha merangkul pemuda Indonesia untuk mempunyai keyakinan & cita-cita bersama dalam membangun negeri.

Wallahu alam

Tulisan ini dibuat agar kita bisa lebih “waspada” dan objektif dalam membaca berita, mendengan seminar & pidato, serta saat berdiskusi. Jangan sampai kita tidak melakukan objektifikasi masalah sehingga malah ikut terbawa arus opini lawan bicara kita/tulisan yang dibaca.

baik tu skul

  • Zero waste pollution
  • Environmental friendly: 0% fossil energy, 100% natural energy
  • 18 gear-speed-combination
  • Anti-Traffic Ability
    • Dapat dengan mudah dipindahkan dan digunakan di trotoar
    • Bisa digunakan di pembatas jalan
    • Mudah menyalip di antara mobil dan padatnya kendaraan ibukota
  • Lebih menyehatkan
    • Membakar kalori
    • Mengeluarkan keringat yang tidak diperlukan tubuh
  • Tidak perlu takut ditilang
  • Tidak perlu SIM maupun STNK
  • Tidak perlu bayar parkir
  • Relaxing: Feels the blow of natural fresh air when you ride it
  • Portable (can be lifted with your two hands)
  • Gampang disimpan (small-space-garage needed).
  • Flexibility parking place (bisa parkir di banyak tempat)
  • Anti mogok
  • Anti mabuk
  • Tak perlu membayar pajak
  • Kemudahan dalam perawatan dan perbaikan
  • Ultimate brake system (rem depan, rem belakang, rem kaki)
  • And many more,,,,,,
  • .

    .

    … … begitulah ketika orang marketing berbicara