TA ≠ Ctrl C + Ctrl V

Warga ITB mana yang tidak kesal dengan ulah M. Zuliansyah? Dia dengan seenaknya melakukan plagiat sementara alumni & mahasiswa lainnya membuat tugas akhirnya dengan tetap menjaga kehalalan dan berjuang mati-matian, termasuk awak ini (*sukurin lo, Mas kagak lulus-lulus,, huahahaha😈 *)

Yah,, ITB tentunya ga bisa berlepas tangan. Mau dibilang dia S1-nya bukan di ITB kek, teuteup aja toh dia dan tiga dosen pembimbingnya dari ITB. Seleksi S1 ITB memang jauh-jauh lebih ketat dibanding pascasarjana nya. Tapi harusnya hal itu tidak bisa dijadikan alasan bahwa semua yang S1 dijamin bebas dari kasus plagiarisme. Kalo mau ditelusuri juga kita akan menemukan bahwa ada beberapa kasus plagiarisme yang dilakukan mahasiswa S1, ambil saja contoh kasus di jurusan Teknik Industri dua tahun yang lalu. Untungnya saat itu ybs belum diluluskan ketika Tugas Akhirnya dinyatakan plagiat, sehingga masih bisa ditoleransi. Lha gimana dengan kasus yang sekarang ini?

Kasus ini tentunya akan berdampak besar kepada ITB. Yang pertama ialah dampak buruknya kepada ITB yang ingin menjadi world class university. ITB akan tercemar di mata dunia karena melakukan plagiarisme. dan bla bla bla lainnya

Tapi bukan itu yang saya cemaskan. Yang lebih dikhawatirkan adalah citra ITB di masyarakat Indonesia sendiri. Udah prestasinya turun, biaya kuliah mahal, parkir ga rapi [OOT], eh ujung-ujungnya cuma jadi insinyur copy-paste. Bentar lagi isunya dihubung-hubungin ama kasus ITB yang dulu-dulu, termasuk kasus Joki satu tahun lalu serta kasus mahasiswa yang meninggal saat OSPEK. Terus juga mulai dihubung-hubungi dengan orang-orang ITB yang korupsi lah “blablabla, korupsi bibitnya dari kampus lah,, di kampusnya aja udah curang apalagi jadi pejabat negara lah,, blablabla”.

*berikutnya skenario khayalan

Kemudian rektorat dan fakultas serta satgas khusus lainnya membentuk berbagai aturan baru. Mereka membuat teknologi yang bisa mendeteksi persentase probabilitas plagiarisme suatu tugas akhir. Kemudin melakukan scanning kepada seluruh TA, tesis, dan disertasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir untuk memastikan tidak ada plagiarisme. Selain itu mereka juga membentuk aturan-aturan baru yang superketat dalam ber-Te-A agar tidak terjadi plagiat oleh calon alumni. Yang kemudian kebijakan ini menyulitkan semua mahasiswa yang masih belum lulus, termasuk saya. Sehingga saya dan teman-teman senasib membentuk aliansi “Selamatkan ITB dari kebijakan rektorat yang lebay!” atau aliansi “Luluskan kami apa adanya! Nanti sukses bapak dibagi” (jadi kaya’ lagunya Pandal neh :p)

Lalu karena kebijakan itu tidak berhasil, maka ITB mulai mencari-cari pembenaran lagi. Biasalah seperti mottonya Chatur Ramalingam “The Silencer” di film 3 Idiots ,”Two ways to being Top: one is to get mark by yourself, or try reducing other’s marks“. Lalu ITB membeberkan plagiarisme yang dilakukan alumni kampus-kampus tetangga. Yang katanya cuma ngubah judul TA dari ITB. dan seterusnya dan seterusnya

“CUT! Selamat, draft novel anda kami terima! Kalau perlu kita jadikan sinetron untuk mendongkrak rating stasiun TV kita dan mengalahkan sinetron Cinta Fitri itu. Jangan lupa diikutsertakan dalam ajang seperti Panasdingin gombal awards, siapa tau menang. Kalo menang kita publish di TV, kalo yang lain yang menang maka kita taroh saat iklan… hahaha”

*ehm,,back to topic

Yah,, menurut saya sie masalah utamanya sie bukan pada sistem pendidikan atau seleksi mahasiswanya. Bukan pada kebiasaan mahasiswa yang karena tugasnya banyak, maka hampir setiap PR (Pekerjaan Rumah/HomeWork) juga TP (Tugas Pendahuluan, Tugas Praktikum) dilakukan copypaste agar dapat dikumpulkan tepat waktu dengan kondisi nilai bagus. Tapi menurut saya masalah plagiarisme sekaligus solusinya itu ada di satu titik, di segumpal daging. Jika segumpal daging ini dalam kondisi baik, maka baik pula lah seluruh sikap dan aktivitas seseorang. Jika ia dalam kondisi buruk, maka buruk pula lah apa yang dilakukan pemiliknya. Dan segumpal daging itu ialah hati.

Dengan hati kita menjaga integritas kita. Dengan Ihsan, melakukan pekerjaan seolah-olah kita melihatNya, dan jika kita tidak melihatnya, maka kita yakin bahwa Ia tetap melihat kita. Makanya ikutan mentoring biar ga kena plagiat🙂

Aal izz well,, aal izz well….. 8)

6 thoughts on “TA ≠ Ctrl C + Ctrl V

  1. hmm, begitu y
    TA g akan copy paste klu TP n T lainnya ga copy paste jg.

    sama halnya masalah birokrasi kampus, yg salah bukan sistemnya, birokrasinya sdh betul, cm SDM nya sj yg perlu direnovasi😀

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s