Furqãn

Alangkah senangnya jika kita mempunyai Furqãn.

Furqãn, berarti pembeda. Maknanya ialah kemampuan yang dapat membedakan mana yang benar dengan yang salah, mana yang haq dengan yang batil, mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau menurut saya Furqãn ini bentuknya seperti tacit knowledge, atau mungkin seperti insting. Jadi ketika kita melakukan sesuatu, kita dapat langsung membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk.

/

Dalam hidup ini, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai pilihan jalan. Ada yang baik dan ada yang buruk.

Ingin jadi orang kaya, bisa dengan cara yang baik seperti pengusaha yang jujur. Bisa juga dengan cara yang tidak baik, misalnya seperti yang dilakukan oleh Gayus. Ingin punya nilai bagus, bisa dengan cara baik dan buruk. Yang buruk dengan mencontek misalnya, kalau yang baik yaa dengan menggunakan kemampuan sendiri.

Kalau sekadar membedakan yang sudah jelas termasuk baik atau termasuk buruk sie biasa. Yang sulit itu ialah membedakan hal-hal yang sifatnya syubhat, ada di wilayah abu-abu. Di sinilah Furqãn itu berperan.

Kadang kita terlalu lalai dan bermain di wilayah syubhat. Karena merasa tidak ada dalil yang menyatakan kalau itu salah, maka kita dengan tenang melakukan hal-hal yang sifatnya syubhat. Padahal mungkin hal itu adalah salah. Merokok, terlalu lama menonton televisi, membuang bungkus permen sembarangan, mengejek orang lain dengan maksud bercanda (padahal mungkin orang itu tersakiti hatinya), dan sebagainya.

Atau kadang kita terlalu ingin menjaga dan hanya melakukan hal-hal yang sudah jelas dibolehkan. Sehingga kita melewatkan kesempatan untuk berbuat baik. Padahal bisa jadi lewat jalan itu kebaikan yang lain akan muncul. Misalnya ikut berpartisipasi dalam politik.

/

Jika kita memiliki Furqãn, maka hal-hal syubhat tadi jadi terlihat lebih jelas. Kita dapat menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik agar tidak menjadi dosa, kita juga dapat melakukan kebaikan-kebaikan lain yang mungkin menjadi amalan tersendiri. Kemampuan untuk membedakan ini sangat penting ketika membuat fatwa dan saat berijtihad. Sehingga fatwa-fatwa yang muncul dari ulama juga tidak sembarangan, berbagai aspek harus dipertimbangkan. Juga agar kita tidak sembarangan mengutip ke ‘ustad asal-asalan‘ yang kadang seenaknya membuat fatwanya sendiri.

/

Lalu bagaimana caranya agar Allah memberikan kita Furqãn?
Jawabannya ada di Al Anfal ayat 29, yaitu dengan bertaqwa kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk hambaNya yang suatu saat diberikan kemampuan untuk selalu dapat membedakan yang haq dengan yang batil.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Anfaal : 29)

 

 

One thought on “Furqãn

Ketik komen di mari gan.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s