3 Perkara yang dapat menyelamatkan manusia

Ada tiga perkara yang akan menyelamatkan manusia jika dilakukannya

1. Takut kepada Allah baik pada saat terang-terangan maupun pada saat sembunyi

Takut kepada Allah pada saat bersama orang lain mungkin biasa. Tapi takut kepada Allah pada saat kita sendiri, itu baru luar biasa. Semoga pada saat sembunyi maupun terang-terangan, kita tetap takut kepada Allah dengan selalu menunaikan kewajiban dariNya dan tidak melakukan segala apa yang dilarangNya.

Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu). [35:18]

2. Berlaku adil baik pada saat rela maupun pada saat marah

Adil pada saat rela, itu biasa. Bersikap adil pada saat marah, itu baru luar biasa. Alkisah ada seorang tuan (Ali Zainal Abidin) yang hendak memarahi budaknya karena telah menumpahkan air. Sang tuan sangat marah, sehingga si budak pun takut kemudian membaca ayat al-Quran. Namun yang setelah itu terjadi sungguh luar biasa, sang budak pun dimerdekakan oleh tuannya.

Kisah lainnya pada saat berperang, Ali bin Abi Thalib sedang melawan seorang musuhnya. Ketika sang musuh sudah tak berkutik, Ali ingin sekali membunuhnya. Pada saat di ujung kematian itu si musuh pun meludahi Ali. Namun apa yang terjadi, Ali tak jadi membunuhnya. Sang musuh pun bingung dan bertanya. Lalu imam Ali menjawab, “Ketika aku hendak membunuhmu tadi, aku akan membunuhmu karena Allah. Namun setelah kau meludahiku, aku khawatir bahwa aku akan membunuhmu bukan karena Allah lagi”.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.  [16:90]

3. Berlaku hemat baik pada saat fakir maupun pada saat kaya

Hemat pada saat fakir sie udah biasa, harus malahan. Apalagi anak kos di akhir bulan yang sarapan dan makan malamnya adalah mie instan (huachim…). Tapi kalau dapat hidup hemat dan sederhana pada saat berkecukupan, itu baru luar biasa. Sudah kaya raya, hartanya banyak, namun hidupnya sederhana, dermawan pula.

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. [17:26-27]

Furqãn

Alangkah senangnya jika kita mempunyai Furqãn.

Furqãn, berarti pembeda. Maknanya ialah kemampuan yang dapat membedakan mana yang benar dengan yang salah, mana yang haq dengan yang batil, mana yang baik dan mana yang buruk. Kalau menurut saya Furqãn ini bentuknya seperti tacit knowledge, atau mungkin seperti insting. Jadi ketika kita melakukan sesuatu, kita dapat langsung membedakan yang mana yang baik dan mana yang buruk.

/

Dalam hidup ini, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai pilihan jalan. Ada yang baik dan ada yang buruk.

Ingin jadi orang kaya, bisa dengan cara yang baik seperti pengusaha yang jujur. Bisa juga dengan cara yang tidak baik, misalnya seperti yang dilakukan oleh Gayus. Ingin punya nilai bagus, bisa dengan cara baik dan buruk. Yang buruk dengan mencontek misalnya, kalau yang baik yaa dengan menggunakan kemampuan sendiri.

Kalau sekadar membedakan yang sudah jelas termasuk baik atau termasuk buruk sie biasa. Yang sulit itu ialah membedakan hal-hal yang sifatnya syubhat, ada di wilayah abu-abu. Di sinilah Furqãn itu berperan.

Kadang kita terlalu lalai dan bermain di wilayah syubhat. Karena merasa tidak ada dalil yang menyatakan kalau itu salah, maka kita dengan tenang melakukan hal-hal yang sifatnya syubhat. Padahal mungkin hal itu adalah salah. Merokok, terlalu lama menonton televisi, membuang bungkus permen sembarangan, mengejek orang lain dengan maksud bercanda (padahal mungkin orang itu tersakiti hatinya), dan sebagainya.

Atau kadang kita terlalu ingin menjaga dan hanya melakukan hal-hal yang sudah jelas dibolehkan. Sehingga kita melewatkan kesempatan untuk berbuat baik. Padahal bisa jadi lewat jalan itu kebaikan yang lain akan muncul. Misalnya ikut berpartisipasi dalam politik.

/

Jika kita memiliki Furqãn, maka hal-hal syubhat tadi jadi terlihat lebih jelas. Kita dapat menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik agar tidak menjadi dosa, kita juga dapat melakukan kebaikan-kebaikan lain yang mungkin menjadi amalan tersendiri. Kemampuan untuk membedakan ini sangat penting ketika membuat fatwa dan saat berijtihad. Sehingga fatwa-fatwa yang muncul dari ulama juga tidak sembarangan, berbagai aspek harus dipertimbangkan. Juga agar kita tidak sembarangan mengutip ke ‘ustad asal-asalan‘ yang kadang seenaknya membuat fatwanya sendiri.

/

Lalu bagaimana caranya agar Allah memberikan kita Furqãn?
Jawabannya ada di Al Anfal ayat 29, yaitu dengan bertaqwa kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk hambaNya yang suatu saat diberikan kemampuan untuk selalu dapat membedakan yang haq dengan yang batil.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Anfaal : 29)

 

 

Lir-Ilir

Lir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotira

Dodotiro, dodotiro
kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jumlotono
Kanggo seba mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane

Yo surak-o,,, surak hiyo,,

Malam-malam menyimak #kultwit nya ust Salim A. Fillah tentang Lagu ilir-ilir. Ini adalah lagu yang sering saya dengar karena suka dinyanyikan oleh ibu saya sewaktu kecil. Waktu itu saya sama sekali ga tau makna lagu ini. Hanya bisa mendengar senandungnya yang merdu dan liriknya yang mudah dihafal.

Yang saya baru tahu, ternyata lagu ini berhubungan dengan sunan Kalijaga. Lagu ini menceritakan dakwah salah satu walisongo ini pada saat berseminya dakwah Islam di abad XV. Ternyata makna lagunya pun sangat indah, jadi pengen nangis 😥 .

Hadits Arba’in #2: Islam, Iman, Ihsan

Ini adalah hadis arba’in yang sangat panjang dan juga sangat menarik. Dari Umar bin Khatab yang mengisahkan tentang Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada kita tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Kalau di pelajaran agama waktu SD, pasti kita inget khan tentang 6 rukun iman dan 5 rukun Islam? Hah? Udah lupa? yang bener? Ooh,, cuma bercanda. Kirain beneran dah lupa. (lagi dialog sendiri kayak orang ga jelas :mrgreen: )

Nah, selain rukun iman dan rukun islam, di sini juga dijelaskan tentang rukun Ihsan. Plus tentang tanda-tanda kiamat.


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]

Terjemahnya:
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata :
.
Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”,
maka bersabdalah Rasulullah: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada  ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “,
kemudian dia berkata: “ anda benar “.
Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan.
.
Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “.
Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan  hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “,
kemudian dia berkata: “ anda benar“.
.
Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “.
Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” .
.
Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”.
Beliau bersabda:  “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “.
Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “,
beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “,
kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
.
Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”.
aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “.
Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril  yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
.
(Riwayat Muslim)

Selengkapnya tentang hadits arba’in bisa dilihat di [blog ini]

Bismillah,,, semoga bisa dihafal(kruyuk kruyukk………). Ini salah satu dari 3 target hadis yang ingin dihafal tahun ini. Emang sie awak nyadar lemah banget kalo disuruh ngapalin, tapi kalo ga dicoba ga bakalan tahu khan.

Error

Akhir-akhir ini sering mengalami error page di internet. Kalau kemarin sore hingga malam blog ini error. Ga bisa ngeposting. Di halaman add new post cuma muncul blank screen warna putih. Setelah konfirmasi ke wordpress, akhirnya bisa dipakai lagi. Dengan sedikit error lagi di awal, khususon di bagian RSS Reader yang tiba-tiba menampilkan posting lama sebagai unread.

Selain itu browser (google chrome) juga sering error. Entah kenapa tiba-tiba banyak halaman yang ga bisa ditampilkan. Padahal tadinya bisa, tapi tiba-tiba setengah dari semua halaman yang ingin dibuka malah ga bisa, bahkan termasuk google search itu sendiri. Muncul keterangan seperti ini di browser “Error 105 (net::ERR_NAME_NOT_RESOLVED): The server could not be found.” . Di-clear cache & cookies, tapi masih tetep error. Udah dibenerin yang lain-lainnya sesuai petunjuk dari google support, tapi masih juga sering error. Sekitar seminggu begitu terus. Tapi sekarang alhamdulillah udah engga error lagi, entah kenapa ❓ .

Tapi jenis error yang disebut di atas bukanlah apa-apa. Yang paling bikin repot adalah kalau yang error itu adalah manusia. Manusia, apalagi jaman sekarang, masih sering error. Error karena masalah fisik, error karena masalah pekerjaan, error karena masalah keuangan, atau error karena masalah cinta. Tapi yang paling repot itu kalau errornya di hati kita.

Yang salah sering dianggap benar, yang benar sering dianggap salah. Ustad-ustad dipenjara, koruptor “dibebaskan” dari penjara. Lagu-lagu pop bisa dihafal, tapi Al-Quran dibaca pun jarang. Ulama-ulama dicaci, artis-artis dijadikan idola. Datang ke mall bisa berjam-jam, datang sholat jamaah di masjid 10 menit saja tidak tahan.

Kalau yang error itu manusia, ngebenerinnya bakalan lebih susah. Sebagian sie bisa dibenerin kalau datang ke dokter, itu kalau errornya berhubungan dengan kesehatan. Sebagian bisa dibenerin kalau datang ke ustad, itu kalau errornya berhubungan dengan maslaah rohani. Tapi sebagian besarnya lagi ga bisa dibenerin dengan bantuan manusia, tinggal nunggu “hidayah dari Al Wahhab” aja.

Ah,, ngapain juga ngomong kayak gini. Yang lagi nulis ini juga masih banyak error. Apalah awak nie, sekarang juga masih gini-gini aja….

Urgensi Membina

Dalam sebuah proses belajar mengajar dan menuntut ilmu, ada setidaknya tiga hal yang harus dipenuhi. Pertama adalah si pemberi ilmu yang akan mengajarkan ilmu yang dia ketahui. Kedua adalah si penerima ilmu, sebagai receiver ilmu dari si pemberi ilmu. Yang ketiga adalah ilmu yang akan diajarkan, entah itu ilmu alam, ilmu sosial, ilmu sihir, ilmu bela diri, dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Ketiga hal ini dipadukan dalam sebuah proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara; dengan belajar di sekolah, browsing di internet, berlatih keras dan makan makanan bergizi, ataupun dengan mengikuti proses pembinaan atau halaqah.

Setiap cara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Belajar melalui internet misalnya, merupakan cara belajar yang cepat, sumbernya mudah, dan informasinya pun banyak. Namun banyaknya informasi di internet juga menjadi kelemahan karena tak semua ilmu yang ada sudah tersaring dengan baik. Seperti saat kita menggunakan situs search engine misalnya; situs ini membuat user mendapatkan informasi dengan mudah, banyak, dan cepat; namun belum terverifikasi sehingga kadang bercampur mana yang benar dan yang salah.

Belajar melalui pembinaan pun memiliki kekurangan dan juga kelebihan. Selain effort energi cukup besar, konsistensi dalam belajar pun diuji. Namun cara belajar melalui pembinaan ini memiliki kelebihan tersendiri, apalagi ketika menuntut ilmu agama yang mengajarkan mengenai akhlak yang mempengaruhi aktivitas keseharian seseorang.

Proses belajar dan pembinaan keislaman menjadi penting karena beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:

  • Menuntut ilmu itu hukumnya wajib

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat”. Kata-kata ini sudah sering kita dengar sejak kecil. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, apalagi jika itu menuntut ilmu agama.

  • Melakukan sunnah rasulullah

“Sampaikanlah walau satu ayat”[al hadits]. Pembinaan adalah salah satu wahana untuk menyampaikan ayat-ayat Allah. Dari sekian banyak ayat dalam Al-Qur’an, tentunya kita (setidaknya) sudah pernah membaca dan mempelajarinya. Ilmu yang sudah didapat ini tidak bisa hanya untuk diri kita sendiri, tapi lebih baik lagi jika kita mengajarkannya kepada orang lain.

  • Pahala berlipat ganda

Salah satu yang dijanjikan ketika seorang menyampaikan sebuah kebaikan/nasihat kepada orang lain, yang membuat orang lain itu melakukan kebaikan yang disampaikan kepadanya, ialah si penyampai kebaikan akan mendapatkan ganjaran/pahala yang sama dengan si pelaku kebaikan tanpa mengurangi pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut. Hal ini ibarat sebuah Multi-Level-Pahala yang membuat seorang akan terus mendapatkan pahala secara pasif (istilah kerennya passive income pahala). Hal ini terus berlanjut bahkan mungkin setelah ia wafat. Karena salah satu dari tiga hal yang akan ditinggalkan setelah kematian ialah ilmu yang bermanfaat (selain amal jariyah dan anak yang sholeh)

  • Membangun generasi masa depan yang lebih baik

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadapnya. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. [An Nisaa: 9]

Dengan melakukan pembinaan, maka seorang telah berusaha dalam menjamin keberlangsungan estafet dakwah islamiyah. Kadang efek dari sebuah pembinaan keislaman belum terasa saat seorang masih hidup, akan tetapi suatu saat di masa depan pasti dengan izin Allah akan terjadi sebuah perubahan ke arah kebaikan.

  • Yang membina yang terbina

Seorang yang memberikan ilmu dengan membina – setidaknya – ia telah membina dirinya sendiri. Tentulah ia harus belajar terlebih dahulu sebelum mengajarkan sebuah ilmu kepada orang lain. Proses pembinaan ini menjadi semacam quality control tak hanya bagi peserta, melainkan juga utamanya bagi si pembina itu sendiri. Selain itu tak hanya sekedar ilmu materi yang didapatkan sang pembina, melainkan juga iilmu lain seperti komunikasi, cara mempengaruhi, mengemukakan pendapat, bergaul, mendengar pendapat orang lain, dan sebagainya

Itulah beberapa urgensi dari sebuah pembinaan. Sebenarnya masih banyak hal lain yang menjadi poin positif dari sebuah proses pembinaan keislaman seperti sarana untuk mencetak pribadi unggul, meningkatkan iman & taqwa, sarana melatih berbagai keterampilan, sarana menjaga ukhuwah, sebagai penyemangat dalam thalabul ilmi, dan sebagai bagian dari muhasabah diri.

Continue reading

Menyikapi Bencana di Indonesia….

Pertama-tama, izinkan admin mengucapkan belasungkawa terhadap korban, keluarga yang ditinggalkan, serta seluruh bangsa Indonesia, disebabkan berbagai musibah yang menimpa negeri ini. Air bah di wasior; gempa dan tsunami di Mentawai; banjir, jalan ambles, macet, & DPR di Jakarta; juga bencana di gunung merapi; dan masih banyak lagi bencana-bencana lainnya yang melanda berbagai daerah di Indonesia.

:berduka:berduka:berduka:berduka:berduka

Ada dua hal yang dapat dijadikan tuntunan bagi kita, dimana hal ini memberikan jawaban yang berujung pada diri kita sendiri. Pertama adalah sebuah hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai perkara seorang mukmin:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)

Seorang mukmin, ketika diberi nikmat maka ia bersyukur, ketika ditimpa musibah maka ia bersabar. Adalah suatu yang unik yang hanya dimiliki oleh orang beriman, ketika mereka dapat menyikapi berbagai hal yang terjadi padanya menjadi sebuah kebaikan. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita dapat bersabar atas musibah yang melanda, termasuk bersabar terhadap berbagai  bencana yang terjadi akhir-akhir ini.

.

.

Kedua, mengenai musibah yang menimpa seseorang atau suatu kaum. Kita dapat membedakan musibah menjadi 3 sudut pandang: ujian (cobaan), peringatan, atau azab.

Al-Ankabut: 2

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

QS. Al-Baqoroh ayat 155-157

155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Musibah sebagai ujian diberikan bagi orang-orang yang beriman untuk menguji kualitas keimanan mereka. Ujian diberikan juga untuk meningkatkan level keimanan. Ibarat sekolah, setiap murid akan diuji agar dapat naik kelas, naik tingkat, atau pindah ke jenjang lanjutan sekolah berikutnya.

Jika memang bencana yang melanda di Indonesia ini adalah merupakan ujian, maka alangkah baiknya jika kita menyikapinya dengan sabar. Ingatlah selalu kepada Allah Yang Maha Besar, dan berdoa agar bangsa ini diberikan kekuatan dan ketabahan, serta ditingkatkan level imannya.

.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid: 22-23)

Musibah sebagai peringatan diberikan kepada orang atau kaum yang imannya masih lemah. Orang yang ibadahnya masih jarang-jarang, kaum yang ibadah iya maksiat iya juga (ada juga istilah STMJ: Sholat terus, Maksiat jalan). Musibah ini dijadikan peringatan agar kita jangan bermain-main di dunia ini, jangan terlalu bergembira terhadap nikmatNya, dan agar tidak menjadi orang yang sombong. Musibah juga diberikan agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Jikalah memang musibah yang terjadi adalah sebuah peringatan, maka bersegeralah kita mengevaluasi diri dan memohon ampunan kepada Allah atas kelalaian kita. Jangan mengulangi perbuatan yang buruk, juga tingkatkanlah perbuatan baik dan amal soleh.

.

“Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)

Sudut pandang yang ketiga mengenai musibah, yang semoga bukan hal ini yang terjadi kepada Indonesia, adalah melihat musibah sebagai azab. Kalau memang ini yang terjadi, maka,,,, :nohope: semoga kita dapat segera kembali ke jalan yang benar. Musibah sebagai azab tak hanya menimpa orang yang ingkar, tapi juga orang yang berada di sekitarnya

.

.

.

refference & related information:

Merugilah manusia…

Kecuali :

  • Orang yang beriman, dan
  • Orang yang beramal soleh, dan
  • Orang yang saling menasihati dalam kebenaran, dan
  • Orang yang saling menasihati dalam kesabaran

.

Kalo hanya menjadi salah satunya saja, maka masih merugi.

Kalo hanya salah dua atau salah tiganya saja, masih tetap merugi.

Harus memenuhi keempat poin agar tidak rugi.

.

Kalau hanya soleh pribadi (beriman & beramal soleh saja), masih termasuk merugi. Harus juga soleh sosial (saling menasihati dalam kebenaran dan salaing menasihati dalam kesabaran). Maka beruntunglah orang-orang yang masih ngaji

Kalau hanya ‘soleh’ sosial saja, tapi ga beriman, juga masih termasuk merugi.

.

Ya Allah,, jadikanlah waktu-waktuku menjadi waktu-waktu yang produktif dan bermanfaat.
Jauhkanlah diriku dari rasa malas dan kebodohan.
Jadikanlah aku sebagai orang yang beriman, yang beramal soleh, yang saling menasihati dalam kebenaran, dan yang saling menasihati dalam kesabaran. amin,,,,

_setelah kembali lagi bersama lingkaran cahaya_