Menyikapi Bencana di Indonesia….

Pertama-tama, izinkan admin mengucapkan belasungkawa terhadap korban, keluarga yang ditinggalkan, serta seluruh bangsa Indonesia, disebabkan berbagai musibah yang menimpa negeri ini. Air bah di wasior; gempa dan tsunami di Mentawai; banjir, jalan ambles, macet, & DPR di Jakarta; juga bencana di gunung merapi; dan masih banyak lagi bencana-bencana lainnya yang melanda berbagai daerah di Indonesia.

:berduka:berduka:berduka:berduka:berduka

Ada dua hal yang dapat dijadikan tuntunan bagi kita, dimana hal ini memberikan jawaban yang berujung pada diri kita sendiri. Pertama adalah sebuah hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai perkara seorang mukmin:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)

Seorang mukmin, ketika diberi nikmat maka ia bersyukur, ketika ditimpa musibah maka ia bersabar. Adalah suatu yang unik yang hanya dimiliki oleh orang beriman, ketika mereka dapat menyikapi berbagai hal yang terjadi padanya menjadi sebuah kebaikan. Maka dari itu alangkah baiknya jika kita dapat bersabar atas musibah yang melanda, termasuk bersabar terhadap berbagai  bencana yang terjadi akhir-akhir ini.

.

.

Kedua, mengenai musibah yang menimpa seseorang atau suatu kaum. Kita dapat membedakan musibah menjadi 3 sudut pandang: ujian (cobaan), peringatan, atau azab.

Al-Ankabut: 2

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

QS. Al-Baqoroh ayat 155-157

155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Musibah sebagai ujian diberikan bagi orang-orang yang beriman untuk menguji kualitas keimanan mereka. Ujian diberikan juga untuk meningkatkan level keimanan. Ibarat sekolah, setiap murid akan diuji agar dapat naik kelas, naik tingkat, atau pindah ke jenjang lanjutan sekolah berikutnya.

Jika memang bencana yang melanda di Indonesia ini adalah merupakan ujian, maka alangkah baiknya jika kita menyikapinya dengan sabar. Ingatlah selalu kepada Allah Yang Maha Besar, dan berdoa agar bangsa ini diberikan kekuatan dan ketabahan, serta ditingkatkan level imannya.

.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid: 22-23)

Musibah sebagai peringatan diberikan kepada orang atau kaum yang imannya masih lemah. Orang yang ibadahnya masih jarang-jarang, kaum yang ibadah iya maksiat iya juga (ada juga istilah STMJ: Sholat terus, Maksiat jalan). Musibah ini dijadikan peringatan agar kita jangan bermain-main di dunia ini, jangan terlalu bergembira terhadap nikmatNya, dan agar tidak menjadi orang yang sombong. Musibah juga diberikan agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Jikalah memang musibah yang terjadi adalah sebuah peringatan, maka bersegeralah kita mengevaluasi diri dan memohon ampunan kepada Allah atas kelalaian kita. Jangan mengulangi perbuatan yang buruk, juga tingkatkanlah perbuatan baik dan amal soleh.

.

“Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)

Sudut pandang yang ketiga mengenai musibah, yang semoga bukan hal ini yang terjadi kepada Indonesia, adalah melihat musibah sebagai azab. Kalau memang ini yang terjadi, maka,,,, :nohope: semoga kita dapat segera kembali ke jalan yang benar. Musibah sebagai azab tak hanya menimpa orang yang ingkar, tapi juga orang yang berada di sekitarnya

.

.

.

refference & related information:

Advertisements

Merugilah manusia…

Kecuali :

  • Orang yang beriman, dan
  • Orang yang beramal soleh, dan
  • Orang yang saling menasihati dalam kebenaran, dan
  • Orang yang saling menasihati dalam kesabaran

.

Kalo hanya menjadi salah satunya saja, maka masih merugi.

Kalo hanya salah dua atau salah tiganya saja, masih tetap merugi.

Harus memenuhi keempat poin agar tidak rugi.

.

Kalau hanya soleh pribadi (beriman & beramal soleh saja), masih termasuk merugi. Harus juga soleh sosial (saling menasihati dalam kebenaran dan salaing menasihati dalam kesabaran). Maka beruntunglah orang-orang yang masih ngaji

Kalau hanya ‘soleh’ sosial saja, tapi ga beriman, juga masih termasuk merugi.

.

Ya Allah,, jadikanlah waktu-waktuku menjadi waktu-waktu yang produktif dan bermanfaat.
Jauhkanlah diriku dari rasa malas dan kebodohan.
Jadikanlah aku sebagai orang yang beriman, yang beramal soleh, yang saling menasihati dalam kebenaran, dan yang saling menasihati dalam kesabaran. amin,,,,

_setelah kembali lagi bersama lingkaran cahaya_

Qur’an is the best friend of mankind

Salah satu amalan favorit, simpel, praktis, mudah, namun mendapat jutaan kebaikan di Bulan Ramadhan adalah membaca kitab Al-Quran.

Imam At Tirmidzi dalam hadits Hasan Shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”

satu juz Al qur’an kira-kira berjumlah 7000 huruf x satu huruf dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 (empat juta sembilan ratus ribu) kebaikan. Jika kita mampu mengkhatamkan Al Qur’an satu kali saja di bulan Ramadhan, maka kita biidznillah meraih 147 juta kebaikan. subhanallah,,, luar biasa!

“Qur’an is the best friend of mankind, also mine” -Tuzki-

Continue reading

Ibadah

Bulan Ramadhan ini,,,,,,,

pagi-pagi,
bada subuh,
masih ngantuk,
paling enak : ibadah

siang-siang,
di kelas,
sambil dengerin dosen,
paling enak : ibadah

sore-sore,
bada ashar,
perut lapar,
paling enak: ibadah

malam-malam,
bada taraweh,
badan pegel,
paling enak : ibadah


“tidurnya orang berpuasa adalah ibadah”

hehe,, ini ga bener jangan diikutin yaa. hadisnya dhaif (lemah). mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan suci ini. semoga tidur ibadah kita diterima Allah SWT. amin,,,

Saat kita tidak lagi menjadi generasi “termuda” yang diharapkan

Bismillahirrahmanirrahiim
puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan yang tiada terhitung. Salah satunya nikmat umur yang membuat saya masih bisa menulis di blog ini dan mambuat anda juga dapat membaca tulisan aneh saya.

Setelah baca tulisannya si fikri di sini, entah tiba-tiba jadi nyadar en bikin cengar-cengir sendiri. Lucu juga merasakan bahwa diri ini sekarang sudah tidak menjadi “yang dulu”. Ada perasaan berbeda dilihat dari tanggapan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Misalnya saja saat jalan-jalan ke jawa (ini bahasa lainnya “pulang kampung” / mudik) beberapa waktu lalu. Kalo dulu, ketika pulang kampung & ketemu sodara-sodara, diri ini lah yang menjadi pusat perhatian. Masih ingat rasanya ketika menjadi orang yang selalu diperhatikan oleh kakek, nenek, pa’de, bu’de, om, bu’le, sepupu yg lebih tua. Apa-apa yang kita lakukan menjadi perhatian mereka: makan diperhatiin, lari diperhatiin, main mobil-mobilan, mancing, main game, mandi, nonton tipi, dan seterusnya yang membuat seolah dunia ini bener-bener berharap pada si anak kecil yang mondar-mandir dengan ingusnya itu.

Entah ya,,, sekarang semua terasa berbeda. “Generasi-generasi pengganti” mulai “terlahir ke dunia” yang disebabkan oleh sepupu-sepupu saya, dan mereka pun mulai menggeser posisi saya dahulu sebagai “orang yang diharapkan”. Yah,,, memang lucu juga sih ternyata saya pun ikut mengambil bagian sebagai orang yang berharap pada mereka agar mereka bisa lebih baik daripada diri ini.

Lantas sekarang posisi kita bagaimana? Apakah harapan orang-orang dahulu kepada diri ini sudah teralihkan kepada generasi yang lebih kecil & sirna begitu saja dari kita? Wah, kalo gini mah bisa-bisa Cuma jadi perputaran harapan yang tak kunjung datang dong. Orang yang lebih tua berharap pada anak kecil yang baru lahir, ketika anak itu udah mulai tumbuh ia malah berharap kepada anak kecil lainnya, dan seterusnya. Masa’ harapannya cuma selesai di umur 20 ini lalu memindahkan “beban harapan” itu ke anak kecil? Semoga tidak…

The Next Generation
We are the Next Generation

Yah,,, pada akhirnya hanya bisa mengutip kata-kata yang sering diucap saat ulang tahun “tua itu kepastian, dewasa itu pilihan”. Semoga harapan orang-orang yang berada di sekitar saya ±15 tahun lalu itu tak berhenti di sini.  Mungkin harapan yang dulu ada itu tidak tervisualisasi dalam perhatian mereka ke kita sekarang, mungkin harapan itu hanya dipendam di hati, namun saya yakin harapan itu memang masih ada di setiap orang agar diri ini bisa “berbuat sesuatu” di masa depan nanti. Bahkan saya yakin harapan “generasi yang lebih tua” kepada mereka pun juga masih ada dalam dirinya masing-masing, dan setiap kita sedang menunggu untuk mewujudkan harapan-harapan itu. Sekarang inilah saatnya harapan generasi terdahulu yang dibebankan kepada kita mulai kita wujudkan….

Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat,
serta kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta

Level Taubat seseorang dilihat dari nasyidnya

Taubat Level 1:

Jenis nasyid : lagu dengan conten & lirik islami, namun dibawakanA_132 dengan gaya nge-Rock & nge-Pop. Nasyiders (maksudnya penyanyi nasyid nya) merupakan band-band terkenal buat anak muda.

Contoh : lagu-lagunya ungu & gigi

keterangan : nasyid jenis ini disukai para muda-mudi yang soleh dadakan. Ingin mendapat pencerahan islami, namun tidak meninggalkan tren/kebiasaan musik yang didengarkan. Biasanya semakin ramai saat awal Ramadhan.

taubat Level II:

jenis nasyid : nasyid dengan conten islami, dibawakan dengan gaya yang lebih halus dari level I. nasyider nya biasanya artis-artis yang dianggap cukup soleh (biasa terlihat main sinetron islami). Nasyid ntuzki_jago-19ya biasanya juga menjadi OST di sinetron Ramadhan di stasiun TeleVisi kesayangan anda.

Continue reading

Tek kenal, maka tetep sayang

kalo ada yang bilang “Tak kenal maka tak sayang“, sesungguhnya ini merupakan filosofi yang salah. Kalau di Islam, kenal ataupun tidak kenal seharusnya bisa tetap sayang.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al Hujurat : 13)

makanya yg baik itu “Ta’ kenal maka ta’aruf” (ta’aruf dalam artian yang luas yaa,, bukan ta’aruf yg “itu” 😀 ). Continue reading