Plan Ø

Dalam proses pengambilan keputusan, selalu ada salah satu diantara dua hal berikut: pertama, keputusan untuk tidak melakukan apa-apa (the decision to doing nothing); kedua, keputusan untuk tidak mengambil keputusan (the decision to not making decision).

Dua hal yang mirip*, yang maksudnya adalah sama. Keduanya adalah bagian dari alternatif solusi yang dapat dipilih oleh pengambil keputusan (decision maker), walaupun pada umumnya alternatif solusi ini tidak disebutkan dalam bagian alternatif-alternatif solusi yang ada karena (biasanya) bukan merupakan solusi yang baik. Sebut saja jika ada plan A, plan B, plan C, dan seterusnya, maka alternatif untuk tidak mengambil keputsan adalah Plan Ø (plan zero).

Misalnya seseorang ingin pergi dari Bandung ke Jakarta. Ada berbagai alternatif solusi; mau pakai travel, pakai bis, menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan kereta, atau jalan kaki. Jika ia memilih salah satu solusi tersebut, maka akan ada cost & reward yang berbeda dari setiap solusi. Kalau pakai kendaraan pribadi mungkin lebih cepat, tapi biayanya mahal; kalau jalan kaki biayanya murah tapi waktu sampainya akan lebih lama; kalau naik kereta relatif kurang aman; dan seterusnya. Nah, ketika ia misalnya kebingungan, lalu memilih plan Ø, maka mungkin ia tidak akan pernah sampai ke Jakarta. Hanya terdiam di tempat tanpa mengambil keputusan apa-apa. Itulah makanya alternatif solusi plan Ø hampir tidak pernah disebut sebagai alternatif solusi.

Contoh lain dalam sebuah rapat suatu perusahaan yang hampir gulung tikar. Dalam rapat ini akan diputuskan rencana strategis perusahaan agar kerugian dapat diminimalisir. Alternatifnya adalah menjual saham dengan harga murah; berhutang ke bank yang bunganya sangat besar dimana persentase kebangkitan perusahaan setelah mendapat dana pun masih relatif rendah; atau mem-PHK karyawan yang resikonya akan didemo & makin mencemarkan nama perusahaan. Sang pemimpin rapat pun bingung untuk memilih. Berkali-kali rapat ditunda karena tak ada satu pun alternatif yang menguntungkan persuahaan. Nah, pada dasarnya, secara tak langsung sang pemimpin ini telah memilih keputusan untuk tidak mengambil keputusan. Mungkin ia membutuhkan waktu untuk berpikir, akan tetapi semakin lama perusahaan dalam kondisi doing nothing, maka kondisi perusahaan pun semakin memburuk.

Contoh lain yang lebih menarik. Misalnya ketika ada seseorang ingin berinvestasi, lalu ada dua alternatif. Investasi di bisnis makanan, dimana jikalau untung maka mendapatkan Rp5juta, kalau rugi minus Rp3juta, kemungkinan bisa untung 40%, kemungkinan mengalami kerugian 60%. Alternatif kedua investasi di bisnis warnet, jika untung mendapat Rp15juta, jika rugi minus Rp25juta, probabilitas untung 70%, kemungkinan rugi 30%.

Sang pengambil keputusan dihadapkan dengan dua buah keputusan, yang masing-masingnya memiliki kemungkinan rugi & untung. Lalu karena tak ingin mengalami rugi, ia malah mengambil plan Ø, alias tidak melakukan investasi di manapun. Keputusan ini (plan Ø) tak selamanya buruk, karena dalam kasus ini ia ingin bermain aman dan menunggu siapa tahu ada alternatif lain dimana keuntungan lebih besar & kemungkinan mendapat untung juga lebih besar.

.

.

.

Tapi,,, buat ane sie mengambil keputusan itu lebih baik daripada memutuskan untuk tidak mengambil keputusan 🙂

________________

*) penggunaan kata mirip di sini sama seperti penggunaan kata mirip pada kasus video ariel & kasus kemiripan foto penonton pertandingan tenis dengan gayus. yang berarti “sama”

*) gambar to-do-list patrick star maksudnya adalah seorang pengambil plan Ø biasanya berakhir dengan tidak melakukan apa-apa. Seperti sebuah dialog, “Patrick, apa yang kau lakukan saat aku pergi bekerja di Krusty Krab?”, “Euh,, menunggumu kembali”

Advertisements

Kegelisahan di Penghujung Ramadan

moon view 5sept (26 Ramadhan) from http://www.fourmilab.ch/cgi-bin/Earth

Tak terasa cahaya sabit menunjukkan saat-saat terakhir di Bulan Ramadan. Semoga di 4 hari terakhir ini bisa maksimal lagi dalam beribadah.

Ada beberapa hal yang selalu bikin perasaan jadi kurang enak ketika berada di penghujung Ramadan. Pertama saya sering mengevaluasi ibadah yang dijalankan dengan yang ditargetkan di awal Ramadan. Entah mengapa biasanya cuma terlaksana 60%-70% (secara kuantitas). Selalu saja ada “gangguan” yang padahal sudah diprediksi sebelumnya, namun entah mengapa tak bisa dilawan. Apakah memang dasar sifat ane yang pemalas, kurang kuat keinginan, atau alasan personal lain. Ah, padahal katanya setan sudah dibelenggu, kok ane masih kayak gini ya? Masih didominasi oleh hawa nafsu yang tidak baik. Allahumma inni ‘audzubika minal ajzi wal kasal. Ya Allah, aku berlindung padaMu dari kelemahan dan kemalasan…..

Lalu hal kedua yang membuat saya sering gelisah di akhir Ramadhan ialah apakah ibadah yang sudah dilakukan akan diterima oleh Allah SWT. Saya sering teringat dengan salah satu hadis yang sering disebutkan di awal Ramadhan mengenai orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga. Kalau yang pertama tadi tentang masalah kuantitas ibadah, mungkin kali ini tentang kualitas ibadahnya. Seringkali ketika melakukan ibadah maghdoh untuk mengejar target harian tertentu, saya malah menjadi seperti robot, jadi kurang menjiwai ibadah yang sedang dilakukan.

Biasanya sie, untuk mengatasi kegelisahan yang pertama dan kedua, bisa dilakukan dengan itikaf. Suasana ketika itikaf itu menjadi berbeda, apalagi ketika itikaf di Mesjid tertentu yang memang punya kegiatan itikaf yang “spesial”. Dibandingkan dengan ibadah sendiri (menyendiri), mengerjakan ibadah sambil berlomba-lomba dengan yang lain memiliki kelebihan khusus. Misalnya dapat memotivasi kita untuk terus bertilawah jika melihat orang lain tilawah, memotivasi untuk jadi lebih serius ketika melihat orang lain yang terlihat sangat khusyuk ibadahnya. Juga dapat “menyadarkan” diri bahwa ternyata masih banyak orang lain yang berusaha jauh lebih keras dari kita dalam beribadah. Ane juga kadang bingung, kok orang-orang bisa kuat ya qiyamul lail sampai ber-jam-jam. Apalagi yang satu rakaatnya bisa sampe 30 menit sendiri, beuh,,. Ane aja setelah 5 menit udah pengen lompat-lompat karena ga tahan (astaghfirullah). Kadang kepikiran juga untuk melakukan penelitian tentang “analisis kelelahan kerja secara ergonomi pada saat qiyamul lail” (boleh ditambahin:studi kasus Masjid Habiburrahman PT DI yang QL-nya sampe 3 jam). Ya Allah,, kok jadi keinget ya sama Rasul yang melakukan ibadah malam sampai kakinya bengkak, padahal ia sudah dijamin surga. Lha ane yang masih banyak dosa gini malah masih sering ngeluh,, ya Allah,, kuatkanlah hambaMu ini. Semoga bisa optimal dalam 4 hari terakhir ini…..

Kemudian hal ketiga yang kadang membuat gelisah, yaitu perihal silaturahim & mudik. Yah,, sebenernya ga terlalu gelisah sie masalah mudik ini, karena saat ini masih belum terpisah jauh. Ga tau deh nanti setelah pergi dari Bandung ini (kalo jadi tinggal di luar Bandung). Tapi yang kadang bikin gelisah itu ialah masalah silaturahimnya, yang ane sendiri sering merasa kurang optimal memanfaatkan waktu-waktu bersama keluarga & tetangga yang ada di kampung halaman.

Kemudian yang keempat, biasanya kepikiran ketika hari pertama Idul Fitri, yaitu kangen Ramadhan. Ah,,, andai saja usaha ini mungkin terkabul, pengen deh ane ngebuat grup pesbuk “gerakan 500 juta facebookers dukung sepanjang tahun jadi bulan Ramadhan”. Euh,, suasana Ramadhan adalah suasana terbaik yang pernah ane rasakan. Bulan dimana pahala diobral, dosa-dosa diampuni, dijauhkan dari api neraka. Bulan dimana masjid menjadi ramai, maksiat berkurang, sebagian besar tempat dugem ditutup, artis-artis jadi berjilbab, sinetron jadi lebih islami, yang ngerokok ikutan puasa rokoknya (cihuy). Bulan dimana ane jadi lebih produktif baik itu dalam ibadah maupun kegiatan duniawi (sedikit berbeda dari kebanyakan orang). Tentunya karena ga mungkin setiap bulan menjadi bulan Ramadhan, akan kepikiran juga apakah ane masih bisa berjumpa dengan ramadahan tahun depan. Hiks,, sedih rasanya kalo udah di akhir Ramadhan gini….

Lalu yang kelima, ini yang paling spesial, yaitu Lailatul Qadr. Malam dimana diturunkannya Al-Quran. Tahukah kamu apakah malam lailatul qadr itu? lailatul qadr itu lebih baik dari 1000 bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbitnya fajar.

Lailatul Qadr, sebuah malam yang nilainya sama dengan 1000 bulan (sekitar 83 tahun). Suatu gift yang menurut saya paling spesial yang cuma ada di Bulan Ramadhan, biasanya di 10 hari terakhir. Semoga saja ketika malam itu tiba, ane sedang melakukan ibadah terbaik agar bisa bernilai 30.000 kali lipat (amin ya Rabb).

Jikalau Saja Macet dan Pemindahan Ibukota itu….

Jikalau mau memindahkan ibukota hanya karena mau “bebas macet” yang sementara, sedangkan perilaku dan kebiasan pembuat macetnya ga ilang, yaa mending ga usah pindah deh. Cuma bakalan ngerusak alam & makin bikin panas warga saja.

  • Jikalau angkot masih seenaknya memberhentikan kendaraannya,mads
  • jikalau penumpang masih seenaknya memberhentikan angkotnya,hammers
  • jikalau masih banyak yang parkir di pinggir jalan,mahos
  • jikalau angkot masih ngetem sembarangan,mads
  • jikalau pasar masih menguasai jalan,capedes
  • jikalau menteri & pemilik kendaraan pribadi masih nerobos jalur busway,capedes
  • jikalau presiden masih dikawal yang berlebihanhammers
  • dan jikalau-jikalau lainnya baik itu faktor primer atau faktor sekunder penyebab kemacetan tetap ada di ibukota baru, yaa tunggu aja ga sampai 5 tahun juga bakalan sama kayak Jakarta sekarang
Kecuali memang rencananya adalah “ibukota bebas macet selama masa jabatan saya“, yaa itu sie silahkan saja. Tapi saya ga ikutan lho. Cukup ente dan para politisi-tukang-mikirin-diri-sendiri-dan-golongannya-tanpa-memikirkan-masa-depan-generasi-berikutnya aja yang ikut.mahos
.
Atau rencananya adalah membuat kemacetan di seluruh kota besar Indonesia. Yaa tinggal digilir aja yang mana jadi ibukotanya; Bandung, Surabaya, Medan, Palangkaraya, dll. Sampai nantinya Indonesia masuk rekor sebagai negara dengan jumlah kota macet parah terbanyak sedunia. capedes
.
Jujur, ane termasuk orang yang muak dengan Jakarta. Alhamdulillah (astaghfirullah) sempat bersekolah SMA di kota itu selama dua tahun (untung cuma dua tahun). Tapi dua tahun itu sudah cukup membuat awak berazzam tak akan mau menjadikan kota itu sebagai tempat tinggal di masa depan. “Hidup di Jakarta itu tua di jalan“, begitulah kata orang-orang. Mau menggunakan angkutan umum dengan tujuan mengurangi macet, eh pelayanannya ga bisa diandalkan (ugal-ugalan, pelecehan seksual, premanisme, ngetem). Akhirnya semua pengen beralih pake kendaraan pribadi, yang disadari-tapi-tak-diakui jelas berkontribusi menabah kemacetan. Huh,, capek deh.capedes
Kalo ane boleh punya teori nih ye, ada tiga cara mengatasi kemacetan. Pertama yaitu cara yang susah, kedua yaitu cara yang lebih susah, dan ketiga yaitu cara yang lebih susah lagi (lho kok susah semua? Yaa emang, kalo ga mau susah tinggal di hutan aje, dijamin kagak ada macet di sana.) Tentang cara yang susah yaa ini, dengan memindahkan ibukota RI. Nanti tinggal membangun jalan & gedung lagi. Terus tinggal nunggu macet lagi, lalu dipindahkan lagi ibukotanya. Bisa jadi pemerataan pembangunan sekaligus pemerluasan area kemacetan.
.
Kalau cara yang kedua, yaitu yang lebih susah, ialah dengan memperbaiki infrastruktur. Soal beginian ane ngikut tulisannya pak Jk dulu aja dah. Berhubung ane juga bukan pakar transportasi. Yb
.
Kalau cara yang ketiga neh, yaitu dengan mengubah kebiasaan masyarakatnya. Yaa dari berbagai poin yang ada di awal tulisan ini, ditambah mengubah kebiasaan menggunakan kendaraan ramah lingkungan (kalau perlu jalan kaki), mengutamakan penggunaan sarana transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Kalau ditanya lagi gimana caranya bisa begitu? yaa ane juga kagak tau bingungs
.
Sebenernya sie ada teori tambahan, anggap aja teori versi beta (karena masih ngayal). Yaitu membuat alat teleportasi kayak di megaman & startrek gitu deh Yb, atau kayak apparate-nya Heri Poter, atau pintu-kemana-saja-nya doraemon, hehe. Khan enak tuh bisa kemana-mana dalam sekejap. Ga pake macet, ga pake lama, ga pake SIM :D.
.
Udah dulu ye karena ni tulisan makin ngayal aja. Aye sie sebenernya setuju aja pemindahan ibukota, tapi yaa harus memperhatikan perencanaan 100-200 tahun ke depan juga, jangan cuma pengen menghindari macet sementara. wallahualam
,
.
I love Indonesia

Istikharah & DSS?

Istikharah berarti memohon petunjuk dari Allah ketika dihadapi dengan pengambilan keputusan yang sangat sulit. Biasanya dilakukan dengan sholat dua rakaat (sholat istikhoroh) yang dilanjutkan dengan do’a. Nantinya, akan datang ‘petunjuk’ mengenai pilihan mana yang sebaiknya diambil oleh ybs.

Biasanya petunjuk ini sesuai dengan hati kita. Nah, yang jadi masalah adalah, kita ga tahu apakah ‘petunjuk’ yang nantinya datang kepada kita itu apakah dari Allah SWT, atau malah dari setan. Nah lo,,, khan berbeda banget tuh. Apalagi orang kaya’ gw yang (astaghfirullahaladlim) masih banyak maksiat, ibadah kurang, masih deket dengan setan, amal soleh masih dikit, yang kaya’nya hati selalu kebalik. Lebih besar kemungkinan ‘petunjuk’nya dateng dari setan khan? masyaAllah….

Tapi, alhamdulillah nya nie gan, selain diberikan Hati, kita sebagai manusia juga diberikan Akal. Kalau Hati mempengaruhi Perasaan, maka Akal bermain di Logika.

Dalam pengambilan keputusan, ada yang namanya DSS (Decision Support System). Kurang lebih DSS ini ialah metodologi yang membantu kita dalam mengambil keputusan berdasarkan logika. AHP misalnya, adalah salah satu DSS yang cukup mudah digunakan, sangat logis, dan cukup akurat dalam membantu mengambil keputusan. Dengan menggunakan AHP, maka pengambilan keputusan menjadi lebih mudah. Bukan berarti sholat Istikhoroh jadi ditinggalkan lho, tapi tetap dilakukan setidaknya sebagai penenang hati kita.

Kelebihan lain ketika menggunakan AHP ialah kita dapat menjelaskan dan lebih dapat meyakinkan kepada orang lain mengapa kita mengambil keputusan tertentu. Khan kurang enak juga kalo misalnya, kita menjadi direktur suatu perusahaan, lalu mengambil sebuah keputusan ketika rapat, lalu kita bilang “keputusan ini datang melalui mimpi saya”. Khan agak agak gimanaa gitu yak 😀 . Akan lebih meyakinkan jika kita dapat menjelaskan mengenai keputusan kita dengan menggunakan bobot kriteria, struktur kriteria, bobot tiap alternatif, belum lagi angka-angka yang membuat AHP ‘kelihatan’ keren,, wuidii..


(kalo yang ini mah ga perlu Solat istikhoroh atw make AHP )

Wisata OFF-road ON the road Kota Bandung

Inilah dia sebuah program kerja paling spektakuler dari bang Dada Rosada. Sebuah kebanggaan bagi Kota Bandung di usianya yang ke-200, yaitu Wisata Off-Road on the Road

Wow,, wisata ini benar-benar fantastis. Saya merasakan suasana nature di Kota Bandung dengan adanya program ini.”, demikian komentar salah seorang pngguna jalan Kota Bandung.

Sebenarnya program apakah “Wisata off-road on the road” ini?

Menurut para warga Kota Bandung, wisata ini termasuk wisata jenis baru. Dengan ini kita bisa menikmati suasana jalur off-road di jalan-jalan raya Kota Bandung, Gratis!. Di hampir setiap 200 meter, kita dapat menemukan lubang-lubang di jalan raya mulai dari kelas menengah sampai kelas yang (ehm) cukup berat. Benar-benar suasana seperti di offroad, hanya saja suasana ini ditemukan di jalan-jalan protokol biasa (On Road).

Manfaat dan Kelebihan

Banyak kelebihan dari wisata ini, beberapa diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Pengguna jalan merasakan suasana yang lebih nature (alami) ketika menggunakan jalan di Bandung

  • Program ini dapat mencegah kebut-kebutan di jalan. Juga diharapkan dapat mengurangi jumlah anggota geng motor di Kota Bandung

  • Menurut pakar seni, lubang-lubang di jalanan adalah suatu karya seni bernilai tinggi. Nuansa artistik yang dihasilkan dari lekukan lubang ibarat indahnya lekukan dalam deretan garis lurus jalan raya.

  • Dengan membiarkan jalanan tetap berlubang, pemerintah dapat menghemat APBD. Karena perbaikan jalan hanya akan memakan biaya yang seharusnya dapat digunakan oleh para pegawai dan walikota untuk jalan-jalan ke luar kota, dinas, rapat, studi banding, dan sejenisnya. Menurut mereka dengan analisis ekonomi seadanya, lebih baik membangun Mall daripada memperbaiki jalanan.

  • Wisata offroad ini secara tidak langsung melatih kewaspadaan juga sebagai hiburan seperti sedang bermain game. Jangan sampai motor atau mobil anda melewati lubang, karena poin akan berkurang bahkan jika terlalu sering akan game over

  • Program ini juga secara tidak langsung akan membuka lapangan pekerjaan bagi para teknisi otomotif. Atau setidaknya menambah pemasukan bagi bengkel-bengkel kecil yang sering kita lihat di pinggir jalan.

  • Kasus ini dapat juga dijadikan sebagai bagian dari rekayasa politik kota Bandung. Pemerintah berencana memperbaiki jalan-jalan di tahun 2012, sehingga ketika pilkada 2013, mereka akan bilang, “Lihatlah prestasi kami memperbaiki jalanan kota Bandung. Kami memberi bukti, bukan janji.” Soalnya kalo diperbaiki sekarang-sekarang, maka rakyat keburu lupa.

  • Lubang-lubang di jalan bisa digunakan sebagai sarana penampungan air hujan sebagai pengganti berkurangnya daerah resapan di Bandung. Mungkin suatu saat juga bisa diikutkan dalam film mancing mania

  • Juga ada komentar “positif” dari tetangga tentang jalanan Hotmix Kota Bandung ini

Demikianlah beberapa kelebihan dari wisata off-road on the road Kota Bandung. Masih banyak manfaat lainnya yang belum disebutkan di sini seperti mengurangi kepadatan penduduk, sarana memicu adrenalin, dan sebagainya. Jangan lupa dukung program ini dengan menjadi fans di fans-page Facebook.

http://www.facebook.com/pages/Bandung-Indonesia/Wisata-Offroad-di-Jalan-jalan-rusak-kota-Bandung/75435947749?v=wall&ref=ts

Terima kasih pemerintah Kota Bandung 🙂

TA ≠ Ctrl C + Ctrl V

Warga ITB mana yang tidak kesal dengan ulah M. Zuliansyah? Dia dengan seenaknya melakukan plagiat sementara alumni & mahasiswa lainnya membuat tugas akhirnya dengan tetap menjaga kehalalan dan berjuang mati-matian, termasuk awak ini (*sukurin lo, Mas kagak lulus-lulus,, huahahaha 😈 *)

Yah,, ITB tentunya ga bisa berlepas tangan. Mau dibilang dia S1-nya bukan di ITB kek, teuteup aja toh dia dan tiga dosen pembimbingnya dari ITB. Seleksi S1 ITB memang jauh-jauh lebih ketat dibanding pascasarjana nya. Tapi harusnya hal itu tidak bisa dijadikan alasan bahwa semua yang S1 dijamin bebas dari kasus plagiarisme. Kalo mau ditelusuri juga kita akan menemukan bahwa ada beberapa kasus plagiarisme yang dilakukan mahasiswa S1, ambil saja contoh kasus di jurusan Teknik Industri dua tahun yang lalu. Untungnya saat itu ybs belum diluluskan ketika Tugas Akhirnya dinyatakan plagiat, sehingga masih bisa ditoleransi. Lha gimana dengan kasus yang sekarang ini?

Kasus ini tentunya akan berdampak besar kepada ITB. Yang pertama ialah dampak buruknya kepada ITB yang ingin menjadi world class university. ITB akan tercemar di mata dunia karena melakukan plagiarisme. dan bla bla bla lainnya

Tapi bukan itu yang saya cemaskan. Yang lebih dikhawatirkan adalah citra ITB di masyarakat Indonesia sendiri. Udah prestasinya turun, biaya kuliah mahal, parkir ga rapi [OOT], eh ujung-ujungnya cuma jadi insinyur copy-paste. Bentar lagi isunya dihubung-hubungin ama kasus ITB yang dulu-dulu, termasuk kasus Joki satu tahun lalu serta kasus mahasiswa yang meninggal saat OSPEK. Terus juga mulai dihubung-hubungi dengan orang-orang ITB yang korupsi lah “blablabla, korupsi bibitnya dari kampus lah,, di kampusnya aja udah curang apalagi jadi pejabat negara lah,, blablabla”.

*berikutnya skenario khayalan

Kemudian rektorat dan fakultas serta satgas khusus lainnya membentuk berbagai aturan baru. Mereka membuat teknologi yang bisa mendeteksi persentase probabilitas plagiarisme suatu tugas akhir. Kemudin melakukan scanning kepada seluruh TA, tesis, dan disertasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir untuk memastikan tidak ada plagiarisme. Selain itu mereka juga membentuk aturan-aturan baru yang superketat dalam ber-Te-A agar tidak terjadi plagiat oleh calon alumni. Yang kemudian kebijakan ini menyulitkan semua mahasiswa yang masih belum lulus, termasuk saya. Sehingga saya dan teman-teman senasib membentuk aliansi “Selamatkan ITB dari kebijakan rektorat yang lebay!” atau aliansi “Luluskan kami apa adanya! Nanti sukses bapak dibagi” (jadi kaya’ lagunya Pandal neh :p)

Lalu karena kebijakan itu tidak berhasil, maka ITB mulai mencari-cari pembenaran lagi. Biasalah seperti mottonya Chatur Ramalingam “The Silencer” di film 3 Idiots ,”Two ways to being Top: one is to get mark by yourself, or try reducing other’s marks“. Lalu ITB membeberkan plagiarisme yang dilakukan alumni kampus-kampus tetangga. Yang katanya cuma ngubah judul TA dari ITB. dan seterusnya dan seterusnya

“CUT! Selamat, draft novel anda kami terima! Kalau perlu kita jadikan sinetron untuk mendongkrak rating stasiun TV kita dan mengalahkan sinetron Cinta Fitri itu. Jangan lupa diikutsertakan dalam ajang seperti Panasdingin gombal awards, siapa tau menang. Kalo menang kita publish di TV, kalo yang lain yang menang maka kita taroh saat iklan… hahaha”

*ehm,,back to topic

Yah,, menurut saya sie masalah utamanya sie bukan pada sistem pendidikan atau seleksi mahasiswanya. Bukan pada kebiasaan mahasiswa yang karena tugasnya banyak, maka hampir setiap PR (Pekerjaan Rumah/HomeWork) juga TP (Tugas Pendahuluan, Tugas Praktikum) dilakukan copypaste agar dapat dikumpulkan tepat waktu dengan kondisi nilai bagus. Tapi menurut saya masalah plagiarisme sekaligus solusinya itu ada di satu titik, di segumpal daging. Jika segumpal daging ini dalam kondisi baik, maka baik pula lah seluruh sikap dan aktivitas seseorang. Jika ia dalam kondisi buruk, maka buruk pula lah apa yang dilakukan pemiliknya. Dan segumpal daging itu ialah hati.

Dengan hati kita menjaga integritas kita. Dengan Ihsan, melakukan pekerjaan seolah-olah kita melihatNya, dan jika kita tidak melihatnya, maka kita yakin bahwa Ia tetap melihat kita. Makanya ikutan mentoring biar ga kena plagiat 🙂

Aal izz well,, aal izz well….. 8)

Don’t Save the Earth!

Kata orang-orang tanggal 22 April nanti adalah hari bumi atau earth day. Biasanya sie bakalan banyak kampanye-kampanye dan slogan dari WWF. Bukan WWF smackdown loh ya, tapi WWF yang punya logo panda imut-imut itu 🙂 . Terus mulai dah mereka mengkampanyekan tentang pentingnya menjaga bumi sebagai tempat tinggal, menampilkan (yang katanya) data-data mengenai kerusakan bumi, juga tips-tips kecil tentang bagaimana menjaga bumi ini ala 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari sekarang).

Okey, sampai disini masih ga terlihat ada masalah. Yang jadi masalah itu slogan mereka yang bilang “Save the Earth“. Kalimat itu menjadi jargon yang tertera dimana-mana. Seolah bumi sedang membutuhkan pertolongan dari manusia. Bumi diibaratkan seperti seorang warga yang lagi dipalak ama penjahat di geng yang sempit, lalu dia berteriak minta tolong “please, somebody save me!“, lalu tiba-tiba muncul sang jagoan yang berayun dari langit-langit dan berhasil menghajar para penjahat tukang palak itu dengan jaring laba-labanya. “Thank you very much. You are my hero”. Lalu tanpa kenal pamrih sang pahlawan pergi begitu saja menginggalkan sang warga dengan penuh rasa kagum terhadap dirinya. hahaha

Ehm,, ehm,,,, back to topic. Sungguh umat manusia terlalu naif. Mereka merasa bahwa mereka adalah ras terbaik yang bisa menyelamatkan bumi sekaligus menghancurkannya jika mau.

Padahal kenyataan yang terjadi ialah sebaliknya, manusia tidak dapat hidup tanpa bumi. Bumi lah tempat manusia bergantung hidup. Tapi dengan egonya mereka malah menyalahkan bumi atas bencana yang menimpanya.

Orang-orang bilang, “Selamatkan bumi! Dia kepanasan”. Padahal manusia lah yang tidak suka merasa gerah dan kepanasan.

Orang-orang bilang, “Selamatkan bumi! Hutan ditebang. Banjir & longsor dimana-mana”. Padahal manusia lah yang takut terkena banjir dan longsor.

Orang-orang bilang, “Selamatkan bumi! Lapisan ozon berlubang. Bumi akan menangis”.

dan seterusnya dan seterusnya….

….

Padahal, di masa lalu temperatur bumi pernah jauh lebih panas dari saat ini, termasuk zaman hangat pertengahan (Medieval Warming Period)zaman Holocenezaman Jurassicdan zaman Eemian

Bumi telah mengalami banjir-banjir besar di zaman dahulu. Seperti banjir nabi Nuh. Juga berbagai bencana gunung meletus, gempa, pergeseran lempeng, dan sebagainya. Dan ia masih bertahan sampai sekarang.

Bumi juga telah bertahan dari serangan meteorit raksasa dan “kecelakaan” ruang angkasa lain. Kalau hanya sekedar radiasi kecil dari sebagian ozon yang berlubang apa masalahnya?

Lantas, apa alasan manusia mengatakan “Save the earth“, bahwa “bumi butuh diselamatkan”? STFU

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (33: 72)

Don’t Save the Earth [Part I/3]

Earth didn’t need to be saved, It’s Mankind!