Selamat datang semester dua belas

Selamat datang di semester dua belas
Semester terakhir saya di kampus ini
Pilihannya : wisuda di sini, atau tidak sama sekali >:)

Selamat datang di semester dua belas
6 tahun di kampus ganesha
tempat bermain, belajar, dan berkarya
walaupun banyakan bermainnya daripada yang lainnya 馃榾

Selamat datang di semester dua belas
Saya adalah mahasiswa tua
Senior kesepian yang ditinggal teman-temannya
Saya adalah swasta
mahasiSWA yang Sibuk T.A. 馃檪

Selamat datang di semester dua belas
Kuliah sudah tak ada
Tinggal bimbingan T.A.
T.A. …. Tiada Akhirnya 馃槓

Selamat datang di semester dua belas
Status mahasiswa sudah dipenghujungnya
Tapi tetep sempet posting di kompasiana
Mohon doa dari sahabat semuanya yaa
Agar bisa lulus segera

Selamat datang semester dua belas….

nb: direpost dari kompasiana

Helicopter View, Eagle View

hel路i路cop路ter view聽(plural hel路i路cop路ter views)
noun
Definition:
overview: a general outline or brief summary of a situation or subject
a helicopter view of the state of the industry

sumber : Encarta Dictionary; Helicopter view

Helicopter view, sebuah istilah yang sering digunakan di dunia bisnis dan manajemen. Intinya adalah bagaimana kita melihat suatu hal dari sisi yang lebih general, seperti kita melihat dari atas helikopter.

Helicopter & View from Helicopter

Konsep ini dipakai agar kita melihat sebuah permasalahan secara sistemik. Karena suatu masalah di sebuah bagian, bisa jadi berhubungan dengan bagian lainnya, yang baru dapat diketahui jika kita melihat secara general. Dengan helicopter view pun kita dapat tahu dengan lebih baik mengenai langkah apa yang sebaiknya dilakukan dalam menyelesaikan suatu masalah atau ketika membuat perencanaan tertentu.

Sering kita lihat di film dokumenter tentang aksi pengejaran polisi dengan ghost rider (hantu jalanan, orang yang suka kebut-kebutan). Dengan bantuan helikopter, selain aksi pengejaran tersebut bisa direkam agar dapat ditonton oleh jutaan pemirsa di dunia (haiah), para polisi yang mengejar di bawah pun dapat terbantu. Yang di helikopter dapat memantau kemana kira-kira arah penjahat akan pergi, dimana daerah yang macet yang dapat dimanfaatkan untuk menjebak si penjahat, dimana jalan-jalan pintas yang dapat ditempuh mobil lain agar bisa mengepung si penjahat, etc. Intinya, banyak kemungkinan solusi yang dapat kita lihat dengan menggunakan helicopter view dibanding melihat dengan view normal.

Dalam perusahaan pun juga gitu. Sebuah produk yang tidak laku misalnya, belum tentu itu karena produk tersebut jelek. Bisa jadi masalahnya ada pada bagian marketingnya, atau ada regulasi pasar yang membuat produk ga laku, atau karena produk kompetitor jauh lebih bagus, etc.

Nah, ada lagi yang namanya eagle view*, pandangan elang. Mereka dapat terbang tinggi sambil mencari mangsa yang bergerak di permukaan. Ketinggian terbangnya membuat si elang dapat melihat dalam sekup yang luas, namun penglihatan matanya yang tajam juga dapat menemukan mangsa kecil yang bergerak-gerak di bawah.

Dengan eagle view, selain dapat melihat secara general, kita juga harus dapat melihat secara mendetail. Hal ini dapat memberikan pemikiran yang lebih tajam di setiap bidang sehingga kita dapat memperoleh solusi yang jauh lebih baik.

This slideshow requires JavaScript.

nb: * istilah ini ngarang sendiri. Jadi belum bisa dijadikan sebagai literatur. Kecuali berani nampilin dhimaskasep di bagian daftar pustaka 馃槢

Plan 脴

Dalam proses pengambilan keputusan, selalu ada salah satu diantara dua hal berikut: pertama, keputusan untuk tidak melakukan apa-apa (the decision to doing nothing); kedua, keputusan untuk tidak mengambil keputusan (the decision to not making decision).

Dua hal yang mirip*, yang maksudnya adalah sama. Keduanya adalah bagian dari alternatif solusi yang dapat dipilih oleh pengambil keputusan (decision maker), walaupun pada umumnya alternatif solusi ini tidak disebutkan dalam bagian alternatif-alternatif solusi yang ada karena (biasanya) bukan merupakan solusi yang baik. Sebut saja jika ada plan A, plan B, plan C, dan seterusnya, maka alternatif untuk tidak mengambil keputsan adalah聽Plan 脴 (plan zero).

Misalnya seseorang ingin pergi dari Bandung ke Jakarta. Ada berbagai alternatif solusi; mau pakai travel, pakai bis, menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan kereta, atau jalan kaki. Jika ia memilih salah satu solusi tersebut, maka akan ada cost & reward yang berbeda dari setiap solusi. Kalau pakai kendaraan pribadi mungkin lebih cepat, tapi biayanya mahal; kalau jalan kaki biayanya murah tapi waktu sampainya akan lebih lama; kalau naik kereta relatif kurang aman; dan seterusnya.聽Nah, ketika ia misalnya kebingungan, lalu memilih plan聽脴, maka mungkin ia tidak akan pernah sampai ke Jakarta. Hanya terdiam di tempat tanpa mengambil keputusan apa-apa. Itulah makanya alternatif solusi plan聽脴 hampir tidak pernah disebut sebagai alternatif solusi.

Contoh lain dalam sebuah rapat suatu perusahaan yang hampir gulung tikar. Dalam rapat ini akan diputuskan rencana strategis perusahaan agar kerugian dapat diminimalisir. Alternatifnya adalah menjual saham dengan harga murah; berhutang ke bank yang bunganya sangat besar dimana persentase kebangkitan perusahaan setelah mendapat dana pun masih relatif rendah; atau mem-PHK karyawan yang resikonya akan didemo & makin mencemarkan nama perusahaan. Sang pemimpin rapat pun bingung untuk memilih. Berkali-kali rapat ditunda karena tak ada satu pun alternatif yang menguntungkan persuahaan. Nah, pada dasarnya, secara tak langsung sang pemimpin ini telah memilih keputusan untuk tidak mengambil keputusan. Mungkin ia membutuhkan waktu untuk berpikir, akan tetapi semakin lama perusahaan dalam kondisi doing nothing, maka kondisi perusahaan pun semakin memburuk.

Contoh lain yang lebih menarik. Misalnya ketika ada seseorang ingin berinvestasi, lalu ada dua alternatif. Investasi di bisnis makanan, dimana jikalau untung maka mendapatkan Rp5juta, kalau rugi minus Rp3juta, kemungkinan bisa untung 40%, kemungkinan mengalami kerugian 60%. Alternatif kedua investasi di bisnis warnet, jika untung mendapat Rp15juta, jika rugi minus Rp25juta, probabilitas untung 70%, kemungkinan rugi 30%.

Sang pengambil keputusan dihadapkan dengan dua buah keputusan, yang masing-masingnya memiliki kemungkinan rugi & untung. Lalu karena tak ingin mengalami rugi, ia malah mengambil plan聽脴, alias tidak melakukan investasi di manapun. Keputusan ini (plan 脴)聽tak selamanya buruk, karena dalam kasus ini ia ingin bermain aman dan menunggu siapa tahu ada alternatif lain dimana keuntungan lebih besar & kemungkinan mendapat untung juga lebih besar.

.

.

.

Tapi,,, buat ane sie mengambil keputusan itu lebih baik daripada memutuskan untuk tidak mengambil keputusan 馃檪

________________

*) penggunaan kata mirip di sini sama seperti penggunaan kata mirip pada kasus video ariel & kasus kemiripan foto penonton pertandingan tenis dengan gayus. yang berarti “sama”

*) gambar to-do-list patrick star maksudnya adalah seorang pengambil plan聽脴 biasanya berakhir dengan tidak melakukan apa-apa. Seperti sebuah dialog, “Patrick, apa yang kau lakukan saat aku pergi bekerja di Krusty Krab?”, “Euh,, menunggumu kembali”

FreeCell

Maksudnya bukan lagi demo meminta pembebasan (free) dari sel (cell) penjara lho 馃榾 , ini lagi ngomongin game yang ada di mikroskop windos kesayangan anda itu, FreeCell. Mungkin ga banyak yang tahu kalo saya ini seorang gamer, karena emang saya jarang (terlihat) main game. Memang hal seperti ini harus dibatasi, karena hampir semua game bersifat addicted, bisa membuat ketagihan. Bermain game hanya dilakukan sebagai penghilang stres saja, jangan dijadikan sebagai hiburan utama 馃檪 .

Cukup sekian basa-basinya. Sebagai postingan mengenai game di edisi perdana, adalah FreeCell, game koleksi mikroskop windos yang paling sering saya mainkan. Game yang ada di lebih dari 90% komputer yang ada di dunia ini sedikit berbeda dibanding umumnya Card Game. Kalau Card Game聽 biasanya kita berhadapan dengan banyak kartu tertutup, namun tidak dengan FreeCell. Pada game ini, kita bisa melihat keseluruhan kartu聽 dalam posisi terbuka. Hal ini menjadi menarik, karena kita tidak lagi bermain di ranah probabilitas, melainkan murni strategi & planning. Kita harus melakukan serangkaian langkah agar seluruh kartu dapat masuk ke dalam FreeCell-nya.

Bermain FreeCell ibarat menjalankan sebuah bisnis di bagian transportasi dan penyimpanan. Di sini kita harus melihat secara menyeluruh kesemua barang (kartu) dan posisinya. Karena kartu-kartu ini tidak disusun secara LIFO maupun FIFO, maka kita perlu menstrukturkan penyimpanan kartu-kartu agar mudah dipindahkan. Kita melakukan skala prioritas mengenai kartu mana yang harus dipindahkan dan dibebaskan terlebih dahulu. Karena setiap pergerakan untuk memindahkan kartu akan memakan cost berupa biaya “penyimpanan” di gudang (kotak yang ada di sebelah kiri maupun “gudang” space yang ada di bagian bawah). Jika terlalu banyak memakan space, maka kita bisa kalah karena tak ada lagi kartu yang bisa dipindahkan.

Game FreeCell dapat dibilang gampang-gampang-susah. Selain menguji skala prioritas, game ini juga dapat mengukur seberapa jauh visi kita ke depan. Bagi orang yang hanya dapat berpikir 5-7 langkah ke depan seperti saya, persentase kemenangan hanya sekitar 85%. Mungkin jika orang seperti Shikamaru yang main maka persentase kemenangan bisa 100% 馃檪 .

baik tu skul

  • Zero waste pollution
  • Environmental friendly: 0% fossil energy, 100% natural energy
  • 18 gear-speed-combination
  • Anti-Traffic Ability
    • Dapat dengan mudah dipindahkan dan digunakan di trotoar
    • Bisa digunakan di pembatas jalan
    • Mudah menyalip di antara mobil dan padatnya kendaraan ibukota
  • Lebih menyehatkan
    • Membakar kalori
    • Mengeluarkan keringat yang tidak diperlukan tubuh
  • Tidak perlu takut ditilang
  • Tidak perlu SIM maupun STNK
  • Tidak perlu bayar parkir
  • Relaxing: Feels the blow of natural fresh air when you ride it
  • Portable (can be lifted with your two hands)
  • Gampang disimpan (small-space-garage needed).
  • Flexibility parking place (bisa parkir di banyak tempat)
  • Anti mogok
  • Anti mabuk
  • Tak perlu membayar pajak
  • Kemudahan dalam perawatan dan perbaikan
  • Ultimate brake system (rem depan, rem belakang, rem kaki)
  • And many more,,,,,,
  • .

    .

    鈥 鈥 begitulah ketika orang marketing berbicara

three point zero

Emang sie ga sebagus kebanyakan orang lain. tapi perjuangannya itu yang menyenangkan 馃檪 . Akhirnya IP nyampe 3 juga. Setidaknya aman tetep tiga koma nol walaupun TA dapet C sekalipun. alhamdulillah

Dan ternyata penyelamatnya adalah mata kuliah teraneh yang pernah saya ambil. haha,, sejak kapan engineer belajar sosiologi & antropologi? but eniwei i’m really grateful to Mr Chairil. Dosen antrop & sosin terbaik sepanjang sejarah (kalo ga ngasih gua nilai A pasti ga bakal bilang gini 馃榾 ). Terima kasih kepada teman-teman kelompok 1 Sosiologi Industri yang sempet ngebahas obat & kosmetik ilegal. Juga kepada kelompok 6 antropologi yang ngebahas anak jalanan, maaf kalo ga bisa menjadi ketua yang baik 馃槢

MKDU yang satunya yang ngasih nilai A, Pendidikan Anti Korupsi. Bersama dosen-dosen ‘sakti’ di ITB & bimbingan dari KPK,serta kelompok 2 yang sempet menginvestigasi indikasi korupsi pembuatan KTP. Yah,, setidaknya kalo dapet nilai A di kuliah ini bisa dibilang kalo gue adalah mahasiswa yang sangat idealis anti-korupsi, layak dijadikan pejabat tinggi, kapolri, pimpinan proyek, atau setidaknya ketua RT lah. haha (contoh sombong yang sangat berlebihan. astaghfirullahaladlim). Padahal nilai itu harusnya jadi amanah bagi awak biar ga jadi koruptor,, amin.

Okey,, sekarang bisa fokus menghadapi the final stage: Tugas Akhir. Bismillah

Menjalin Hubungan dalam Berbisnis untuk Mendapatkan dan Mempertahankan Status Suplier Kunci

0001104659-06-040435_G132981BA05I003

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, para akademisi dan praktisi mengakui bahwa hubungan baik antara pembeli dengan penjual adalah sebuah keunggulan kompetitif. Literatur pemasaran di tahun 1980an juga mengatakan akan perlunya memanaje hubungan (relationship) sebagai aset strategis. Sejak saat itu, banyak dilakukan penelitian mengenai keuntungan dari adanya hubungan penjual-pembeli dan potensinya dalam mencapai hasil yang super.

Para pelanggan mengkonsolidasi basis suplai dan merancang suplai program. Konsekuensinya, para suplier akan semakin menghadapi alternatif status mereka; entah itu sebagai key supplier status (suplier utama) atau terpaksa menjadi backup supplier (suplier cadangan). Hubungan pembeli-penjual menyebabkan kualitas dan harga barang tidak lagi menjadi indikator penting. Para vendor pun mencari cara untuk membedakan dirinya dengan yang lain dalam hubungan pembeli-penjual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan nilai dalam hubungan pembeli-penjual dalam berbisnis. Penulis (Ulaga) mendapatkan bahwa dukungan layanan dan interaksi personal sebagai inti pembeda, diikuti oleh pengetahuan suplier dan kemampuannya untuk meningkatkan customers time to market. Kualitas produk dan kinerja pengiriman, serta biaya akuisisi dan biaya operasional, menampilkan potensi yang sedang untuk membantu perusahaan mendapatkan status suplier utama. Sedangkan harga menjadi pembeda yang terlemah. Continue reading

Pengaruh bentuk gelas pada volume penuangan minuman

Journal Review
Journal of Consumer Research
Bottoms Up! The Influence of Elongation on Pouring and Consumption Value
Brian Wansink
Koert Van Ittersum

Pengaruh dari bentuk benda pada persepsi (perasaan) manusia sudah diteliti secara luas. Contoh yang dihasilkan misalnya benda berbentuk segitiga dipersepsikan lebih luas dibanding benda berbentuk segiempat, benda berbentuk segiempat dipersepsikan lebih luas dibandingkan benda berbentuk lingkaran, dan benda yang elongated (diperpanjang) lebih besar dibanding benda yang less elongated. Padahal benda tersebut bervolume sama.

Raghubir dan Krisna menunjukkan bahwa elongasi berpengaruh positif pada persepsi mengenai kapasitas pada gelas. Mereka juga menunjukkan bahwa terjadi pengaruh pada volume penuangan minuman pada gelas karena orang berpersepsi bahwa gelas yang terelongasi memiliki volume lebih besar. Rasionalisasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa elongasi membuat ekspektasi pada volume lebih besar, dimana hal ini tidak disadari/dipengaruhi oleh pengalaman mengkonsumsi minuman.

Ada tiga penelitian yang dilakukan untuk menguji hal ini. Penelitian ingin mengetahui pengaruh elongasi pada penuangan minuman yang dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa, dan bartender, serta bagaimana persepsi (perasaan) mereka tentang volume minuman yang dituangkan.

Study dilakukan dengan metode experimental design. Beberapa orang sesuai kriteria penelitian (anak-anak, dewasa, dan bartender) diminta untuk menuangkan minuman di gelas yang berbeda. Gelas pertama adalah gelas tinggi langsing (tall-slender), sedangkan gelas kedua adalah gelas pendek gemuk (shrot-wide), yang keduanya memiliki volume sama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode ANOVA.

Hasil yang didapat ialah sebagai berikut:

Kesimpulan :

–聽聽聽聽聽聽聽聽聽 Studi membuktikan bahwa memang terjadi pengaruh baik pada anak-anak, orang dewasa, maupun bartender, walaupun bias-nya berbeda-beda.

–聽聽聽聽聽聽聽聽聽 Hal ini merupakan salah satu penerapan keilmuan psikologi dalam marketing. Dimana kita memanfaatkan persepsi konsumen tentang volume minuman dengan merekayasa bentuk gelas

–聽聽聽聽聽聽聽聽聽 Pengaruh yang dapat dimanfaatkan oleh produsen atau pedagang berdasarkan hasil studi ini ialah dapat membuat pelanggan lebih puas dengan merekayasa bentuk gelas menjadi tinggi-langsing.

The 1st step and the 90% complete

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau proyek, kita聽 biasa dibatasi oleh 3 hal. Yang pertama ialah performansi atau target dari pekerjaan kita, yang kedua adalah target waktu, dan yang ketiga adalah resources yang tersedia yang biasanya diukur menggunakan biaya. Notes ini akan membahas batasan yang kedua: waktu.

Poin pertama ialah tentang sebuah pepatah, the hardest part is the 1st step. “Langkah pertama adalah pekerjaan tersulit”. Tentu ini tidak berlaku bagi sebagian orang dan bagi sebagian jenis pekerjaan tertentu, tetapi pernyataan ini ada benarnya. Ada orang yang bilang ingin menikah, tapi sama sekali ga mempersiapkan apapun. Banyak orang yang bilang ingin berbisnis, tapi dia tidak memulai sama sekali. Banyak orang yang punya cita-cita besar, tapi ia tidak memulai langkah pertamanya. Akibat ditundanya (tidak dilakukannya) langkah pertama itu, maka pekerjaan pun akan terus tertunda dan tertunda, bahkan sama sekali tidak jadi terlaksana. Padahal, kalau langkah pertamanya sudah dilakukan, biasanya langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.

Banyak penyebab yang membuat orang kesulitan melakukan langkah pertama. Salah satu penyebabnya ialah karena kebiasaan suka menunda. Alasan-alasan seperti 鈥渁h, itu mah gampang, entar aja dikerjain鈥, 鈥渕asih banyak waktu, besok-besok aja deh鈥, dan alasan sejenisnya membuat orang menjadi deadliners.

Sebuah pekerjaan atau proyek biasanya memiliki batasan waktu. Pada metode PERT, sebuah aktivitas akan memiliki batasan waktu berupa earliest start, earliest finish, latest start, dan latest finish. Walaupun kata pak JKlebih cepat lebih bae鈥, tapi banyak orang memilih the latest start dalam melakukan pekerjaannya, bukan earliest start. Mungkin ini yang menyebabkan JK kalah (halah ga nyambung). Pokoke, hati-hatilah dengan langkah pertamamu. Segerakan en jangan menunda-nunda, karena menunda itu鈥..聽 (tadi mo nulis apa y? lupa gw, hehe. udah deh jadi titik-titik aja 馃槢 )

Poin kedua ialah tentang 90% complete. Biasanya proyek besar dianalisa dengan menggunakan percent work complete seperti BCWP (Budgeted Cost Work Performed) pada metode EVM (earned value management). Suatu pekerjaan pada waktu tertentu bisa diukur berapa persen selesainya. Nah, masalah yang sering terjadi ialah ketika pekerjaan sudah hampir selesai (sekitar 90%), orang terbiasa menunda lagi. Seperti pada gambar di bawah, terlihat kurva terus naik secara linear sampai sekitar 80%-90% complete, lalu menjadi horizontal (yang berarti tidak ada progress dari aktivitasnya). Dan di akhir mendekati deadline, tiba-tiba saja pekerjaan itu sudah selesai.

Menurut James Lewis dalam bukunya Fundamentals of Project Management, ada dua kemungkinan alasan mengapa hal ini terjadi. Yang pertama ialah biasanya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, kita akan menemukan masalah di dekat deadline pekerjaan itu. Untuk menyelesaikannya membutuhkan usaha yang besar, tapi begitu masalah diselesaikan, maka dengan cepat pula pekerjaan itu akan selesai (atau dalam bahasa lain, masalah yang ditemukan itu adalah si 10%, maka begitu masalah selesai maka selesai pula pekerjaan itu).

Yang kedua ialah ketidaktahuan kita dimana posisi / progress kerja saat ini. Untuk membuat target waktu, biasanya kita hanya melakukan sebuah estimasi waktu saja. Misalnya ketika kita ingin melakukan suatu pekerjaan dengan target waktu 10 jam. Lalu setelah satu jam pertama kita katakan bahwa sudah 10% selesai, pada jam kedua sudah 20% selesai, dan seterusnya. Yang dilakukan bukanlah menilai progress kerja, namun melakukan reverse inference (pengambilan kesimpulan induktif). Hal ini menyebabkan pekerjaan yang seharusnya sudah selesai, namun kita tetap berkutat di sana karena merasa pekerjaan belum selesai pada waktunya. Padahal progress pekerjaannya yaa harusnya ga seperti itu.

Satu tambahan lagi untuk masalah 90% complete ini. Terkadang, ketika sudah sampai 90% dan waktu yang tersisa masih banyak, lagi-lagi kita menunda pekerjaan. Padahal kalau bisa selesai lebih cepat itu lebih bae.

wallahualam

_orang yang suka menunda & sering salah mengestimasi waktu_