Pengaruh bentuk gelas pada volume penuangan minuman

Journal Review
Journal of Consumer Research
Bottoms Up! The Influence of Elongation on Pouring and Consumption Value
Brian Wansink
Koert Van Ittersum

Pengaruh dari bentuk benda pada persepsi (perasaan) manusia sudah diteliti secara luas. Contoh yang dihasilkan misalnya benda berbentuk segitiga dipersepsikan lebih luas dibanding benda berbentuk segiempat, benda berbentuk segiempat dipersepsikan lebih luas dibandingkan benda berbentuk lingkaran, dan benda yang elongated (diperpanjang) lebih besar dibanding benda yang less elongated. Padahal benda tersebut bervolume sama.

Raghubir dan Krisna menunjukkan bahwa elongasi berpengaruh positif pada persepsi mengenai kapasitas pada gelas. Mereka juga menunjukkan bahwa terjadi pengaruh pada volume penuangan minuman pada gelas karena orang berpersepsi bahwa gelas yang terelongasi memiliki volume lebih besar. Rasionalisasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa elongasi membuat ekspektasi pada volume lebih besar, dimana hal ini tidak disadari/dipengaruhi oleh pengalaman mengkonsumsi minuman.

Ada tiga penelitian yang dilakukan untuk menguji hal ini. Penelitian ingin mengetahui pengaruh elongasi pada penuangan minuman yang dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa, dan bartender, serta bagaimana persepsi (perasaan) mereka tentang volume minuman yang dituangkan.

Study dilakukan dengan metode experimental design. Beberapa orang sesuai kriteria penelitian (anak-anak, dewasa, dan bartender) diminta untuk menuangkan minuman di gelas yang berbeda. Gelas pertama adalah gelas tinggi langsing (tall-slender), sedangkan gelas kedua adalah gelas pendek gemuk (shrot-wide), yang keduanya memiliki volume sama. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode ANOVA.

Hasil yang didapat ialah sebagai berikut:

Kesimpulan :

–          Studi membuktikan bahwa memang terjadi pengaruh baik pada anak-anak, orang dewasa, maupun bartender, walaupun bias-nya berbeda-beda.

–          Hal ini merupakan salah satu penerapan keilmuan psikologi dalam marketing. Dimana kita memanfaatkan persepsi konsumen tentang volume minuman dengan merekayasa bentuk gelas

–          Pengaruh yang dapat dimanfaatkan oleh produsen atau pedagang berdasarkan hasil studi ini ialah dapat membuat pelanggan lebih puas dengan merekayasa bentuk gelas menjadi tinggi-langsing.

Advertisements

The 1st step and the 90% complete

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau proyek, kita  biasa dibatasi oleh 3 hal. Yang pertama ialah performansi atau target dari pekerjaan kita, yang kedua adalah target waktu, dan yang ketiga adalah resources yang tersedia yang biasanya diukur menggunakan biaya. Notes ini akan membahas batasan yang kedua: waktu.

Poin pertama ialah tentang sebuah pepatah, the hardest part is the 1st step. “Langkah pertama adalah pekerjaan tersulit”. Tentu ini tidak berlaku bagi sebagian orang dan bagi sebagian jenis pekerjaan tertentu, tetapi pernyataan ini ada benarnya. Ada orang yang bilang ingin menikah, tapi sama sekali ga mempersiapkan apapun. Banyak orang yang bilang ingin berbisnis, tapi dia tidak memulai sama sekali. Banyak orang yang punya cita-cita besar, tapi ia tidak memulai langkah pertamanya. Akibat ditundanya (tidak dilakukannya) langkah pertama itu, maka pekerjaan pun akan terus tertunda dan tertunda, bahkan sama sekali tidak jadi terlaksana. Padahal, kalau langkah pertamanya sudah dilakukan, biasanya langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.

Banyak penyebab yang membuat orang kesulitan melakukan langkah pertama. Salah satu penyebabnya ialah karena kebiasaan suka menunda. Alasan-alasan seperti “ah, itu mah gampang, entar aja dikerjain”, “masih banyak waktu, besok-besok aja deh”, dan alasan sejenisnya membuat orang menjadi deadliners.

Sebuah pekerjaan atau proyek biasanya memiliki batasan waktu. Pada metode PERT, sebuah aktivitas akan memiliki batasan waktu berupa earliest start, earliest finish, latest start, dan latest finish. Walaupun kata pak JKlebih cepat lebih bae”, tapi banyak orang memilih the latest start dalam melakukan pekerjaannya, bukan earliest start. Mungkin ini yang menyebabkan JK kalah (halah ga nyambung). Pokoke, hati-hatilah dengan langkah pertamamu. Segerakan en jangan menunda-nunda, karena menunda itu…..  (tadi mo nulis apa y? lupa gw, hehe. udah deh jadi titik-titik aja 😛 )

Poin kedua ialah tentang 90% complete. Biasanya proyek besar dianalisa dengan menggunakan percent work complete seperti BCWP (Budgeted Cost Work Performed) pada metode EVM (earned value management). Suatu pekerjaan pada waktu tertentu bisa diukur berapa persen selesainya. Nah, masalah yang sering terjadi ialah ketika pekerjaan sudah hampir selesai (sekitar 90%), orang terbiasa menunda lagi. Seperti pada gambar di bawah, terlihat kurva terus naik secara linear sampai sekitar 80%-90% complete, lalu menjadi horizontal (yang berarti tidak ada progress dari aktivitasnya). Dan di akhir mendekati deadline, tiba-tiba saja pekerjaan itu sudah selesai.

Menurut James Lewis dalam bukunya Fundamentals of Project Management, ada dua kemungkinan alasan mengapa hal ini terjadi. Yang pertama ialah biasanya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, kita akan menemukan masalah di dekat deadline pekerjaan itu. Untuk menyelesaikannya membutuhkan usaha yang besar, tapi begitu masalah diselesaikan, maka dengan cepat pula pekerjaan itu akan selesai (atau dalam bahasa lain, masalah yang ditemukan itu adalah si 10%, maka begitu masalah selesai maka selesai pula pekerjaan itu).

Yang kedua ialah ketidaktahuan kita dimana posisi / progress kerja saat ini. Untuk membuat target waktu, biasanya kita hanya melakukan sebuah estimasi waktu saja. Misalnya ketika kita ingin melakukan suatu pekerjaan dengan target waktu 10 jam. Lalu setelah satu jam pertama kita katakan bahwa sudah 10% selesai, pada jam kedua sudah 20% selesai, dan seterusnya. Yang dilakukan bukanlah menilai progress kerja, namun melakukan reverse inference (pengambilan kesimpulan induktif). Hal ini menyebabkan pekerjaan yang seharusnya sudah selesai, namun kita tetap berkutat di sana karena merasa pekerjaan belum selesai pada waktunya. Padahal progress pekerjaannya yaa harusnya ga seperti itu.

Satu tambahan lagi untuk masalah 90% complete ini. Terkadang, ketika sudah sampai 90% dan waktu yang tersisa masih banyak, lagi-lagi kita menunda pekerjaan. Padahal kalau bisa selesai lebih cepat itu lebih bae.

wallahualam

_orang yang suka menunda & sering salah mengestimasi waktu_

Memilih Presiden RI 2009 dengan AHP & Expert Choice

Judul lengkap:
Pendekatan Kuantitatif dalam Pemilihan Keputusan

Studi Kasus Penggunaan metode Analytic Hierarchy Process dengan Software Expert Choice dalam membantu memilih Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden Indonesia 2009-2014 (cem judul TA aja 😛 )

Latar belakang

Pemilu Presiden RI 2009 akan dilakukan Hari Rabu tanggal 8 Juli 2009. Udah pade punya pilihan belon? ada yang masih bingung? Ada yang masih mikir tiga-tiganya atau dua diantara tiga itu sama jeleknya, yang satu jelek di A, yang satunya jelek di C, yang nulis ini ganteng dll. Yang satunya bagus di alfa, beta, gamma, delta,, yang satunya bagus di zeta aja, tapi zeta jauh lebih penting dibanding alfa, beta, dan gamma. Email-email & diskusi di milis-milis cuma membandingkan beberapa kriteria saja: si A lebih baik dari B dan C di bagian anu, si B bagus di bagian itu, dst, tapi ga ada email yang memberikan penilaian keseluruhan kriteria dan pasangan secara terintegrasi. Kalo masih bingung nentuin pilihan, pake AHP aja!

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan salah satu tools sistem pendukung keputusan (SPK) yang dikembangkan pada tahun 1970an oleh pak ….  siapa ya? Bukan saya yang jelas 😀 . AHP dirancang mengikuti pola pikir rasional manusia dengan pendekatan kualitatif juga kuantitatif. Pada pengambilan keputusan yang rumit, dilakukan serangkaian perbandingan berpasangan sehingga menjadi lebih mudah. Lalu secara terstruktur nilai dari perbandingan berpasangan tadi disintesa sehingga dapat diambil kesimpulan tertentu.

Secara ringkas, AHP terdiri dari 3 fase: dekomposisi, comparative judgement, & sintesa. AHP melakukan perbandingan secara perlahan antar setiap karakter juga antara setiap alternatif, lalu dikalkulasi sedemikian rupa sehingga kita akan mendapatkan prioritas pilihan kita.

Berikut akan dijelaskan contoh memakai AHP. Oia, kalau software Expert Choice itu ialah salah satu software buat membantu memakai AHP ini. Jadi kita ga perlu repot-repot ngitung manual. Sebenernya pake Ms Excel juga bisa, tapi karena udah ada yang lebih praktis yaa kita pake aja. Kali ini pakai Expert Choice v11

Continue reading

Random Things [v1]

1. Serial Random Things berisi pemikiran-pemikiran acak bung dhimas nu kasep karena ga sempet kalo kudu dijadiin postingan penuh (terlalu sedikit bahan tapi terlalu banyak ide). Sebenernya ini versi kedua setelah postingan ini, tapi karena baru mau dirapiin dan dibuat terstruktur, jadilah ini yang pertama. Anggap aja yg dulu versi 0-nya

2. Lagi mau bikin bisnis plan buat tugas kuliah Perencanaan Strategis (gw ketua kelas nih coy. Hoho,, sejak kapan gw bisa jadi KK?). Tentang sepatu charger : Energi Alternatif Pembangkit Listrik Tenaga Berat Badan. Konsepnya mengkonversi energi saat kita jalan menjadi energi listrik. Jadi waktu kita jalan kaki, bisa sekalian nge-charge batere. Doain yaa biar dapet nilai bagus,,hoho. Kalo ada yg tertarik bwt investasi juga boleh 🙂

3. Gimana kabar pak Antashari Azhar? Konspirasi penjeblosan AA ke penjara sepertinya udah gagal nih. Malah pada nyari-nyari alesan stick golf mahal lah. hahaha

4. Ada buku baru “ILUSI NEGARA ISLAM : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia” . download di http://www.bhinnekatunggalika.org/ . Isinya kontroversif, dipublikasikan sekarang karena katanya takut ga boleh terbit. Buatannya antek-antek Gusdur & Wahid institute, tau lah yaa yg ngebela Ahmadiyah itu. Jangan dibaca bagi yang ga tahan konspirasi. Ga baik juga dibaca buat orang awam.

5. Lupa lupa lupa lupa. Mw nulis apa lagi yah? C A-minor D-minor ke G ke C lagi A-minor D-minor ke G ke C lagi A-minor D-minor ke G ke C lagi

6. pengen buru-buru liburan

7. Selamat menikmati UAS terakhir buat para mahasiswa ITB 2005 yang normal (saya termasuk yang ga normal T_T )! Inget pesan saya : orang berBudi tidak menyontek 😀

8.Lagi baca bukunya si kambingjantan Raditya Dika. Ternyata dia anak salvo se-almamater ma gw. Hoho,, baru tau ada manusia seperti itu. Wkkk

9. Besok ikut seminar KIT. Waw dapet tiket gratis, alhamdulillah. Thx to ratno & iqbal.
Sekalian promosi dikit : Kajian Islam Terpusat, acara tahunan sejak 2007 by Gamais ITB, Dialog interaktif ekonomi syariah, alternatif solusi krisis ekonomi global. Dengan pembicara: Ichsanuddin Noorsy (pengamat ekonomi dan politik nasional), Dr. Ir. Wahyu Saidi, M.Sc (pengusaha bakmi, alumni ITB), H. Mustafa Edwin Nasution, Ph. D (ketua umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia), Ramzi A. Zuhdi (Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia), moderator: Rendy Syaputra (pengusaha muda, owner NATC). + Live Performance KPA (Keluarga Paduan Angklung) ITB.
Bagi yg mau ikut acara di GSG ITB tanggal 23 Mei mulai jam 7.30~12

10. Turut berduka cita atas korban kecelakaan pesawat hercules pekan ini. Sepertinya perawatan (control measurement) pesawat-pesawat harus diperketat lagi.

Menghitung Probabilitas Milad di Facebook

untuk datanya ada di bagian bawah postingan ini

Pertanyaan

Jika anda memiliki sejumlah 723 friends di Facebook, maka:

  1. Berapakah probabilitas tidak ada yang berulang tahun hari ini?
  2. Berapa kemungkinan ada lebih dari satu orang yang milad besok?
  3. Berapa harikah dalam satu bulan kemungkinan ada yang berulang tahun?
  4. Berapa teman yang dibutuhkan agar kemungkinan hanya terdapat satu hari dari satu tahun anda tidak memiliki teman yang berulang tahun?

Asumsi:
jumlah hari dalam satu bulan = 30
jumlah hari dalam satu tahun = 365
semua friends menampilkan tanggal miladnya

-hayooo,, inget-inget pelajaran SMA dan kuliah dulu 😀 ->