Katanya “Penegak Hukum”?

Masih ingat dengan kasus Prita? Ia sempat ditahan oleh “penegak hukum” karena alasan melanggar UU ITE. Atau kasus Pujiono aka Syekh Puji yang katanya ditahan karena menikahi perempuan yang masih muda? Inti masalah bukanlah pada apa yang mereka langgar, melainkan cara penahanan yang dilakukan oleh “penegak hukum” di negeri ini.

Prita “diambil paksa” oleh “penegak hukum” dan ditahan tanpa sedikitpun mempertimbangkan anak-anak beliau. Alhasil selama sekitar satu bulan anak-anak bu Prita menjadi terlantar karena ulah “penegak hukum”. Begitu juga Syekh Puji, beliau “diambil paksa” oleh “penegak hukum” saat ingin melaksanakan sholat Subuh, tanpa mempertimbangkan kondisi istrinya yang menjadi shock. Dengan alasan pencegahan KDRT, para “penegak hukum” justru telah menghancurkan rumah tangga dan melukai hati Ulfa.

Kali ini ada juga seorang yang ditahan dengan cara sejenis itu. Dwi Arianto Nugroho (mantan Presiden KM ITB), yang sudah dijelaskan bahwa beliau tak bersalah dan tuntutannya pun sudah dicabut. Namun nasib malang menimpanya, ia tetap ditahan karena alasan yang tidak jelas. Dan yang paling menyedihkan ialah kelakuan para “penegak hukum” yang menahannya. Sudah ditahan dengan alasan yang diada-adakan, Dwi juga “diperas”. Yah,, terserah bahasanya apa, tapi larinya “uang paksa” itu ke kantong para “penegak hukum” jelas bukanlah suatu yang halal. Dia yang dipanggil untuk klarifikasi, eh dia juga yang disuruh bayar. Sudah gitu Dwi masih “dipaksa” mengaku bersalah, dengan dalih apapun: melawan polisi lah, tidak serius saat diinterogasi lah, dan berbagai alasan bodoh lainnya yang dibuat-buat oleh “penegak hukum”. (lengkapnya baca referensi di link pertama tentang kronologis). Sampai saat ini, Dwi masih berada di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta.

Menyedihkan. Itukah kelakuan para “penegak hukum di negeri ini? Begitu mudahnya hukum diperjualbelikan. “penegak hukum” bukannya mencari orang yang bersalah, malah memaksa orang menjadi bersalah. “penegak hukum” bukannya menegakkan keadilan, malah menegakkan kesejahteraan dirinya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….. pantaskah mereka disebut “penegak hukum”?

Lihat juga :

Nb : bagi “penegak hukum” yang merasa tersinggung dan merasa bahwa saya melanggar UU ITE dan ingin “berbincang-bincang” dengan saya, saya ada waktu malam hari di Jalan Bangbayang 38. Kalo siang biasanya saya mondar-mandir di Bandung. Oia Jangan lupa bawa surat penahanan yang resmi kalo ingin “bertemu” dengan saya. Mohon maaf bila tidak berkenan. Terima kasih.

Sesungguhnya hukum itu dibuat untuk mencari kebenaran, bukan untuk memaksakan kebenaran. Kalau kebenaran itu harus didapat dengan melanggar hukum, maka saya tak akan menyesal melakukannya. Indonesia dapat merdeka karena melanggar hukum yang dimiliki penguasa (Jepang). Muhammad pun menegakkan kebenaran dengan melanggar hukum Quraisy. Uncle Ben (Paman dari Peter Parker), menjadi korban karena ia menjadi satu-satunya orang yang melakukan kebenaran. Me? Why do i have to fear if i’m the one who do the right thing? I will live, a live with more freedom than anyone else.

Advertisements