Menarik kesimpulan dari fakta, atau menarik fakta dari kesimpulan

Dua hal yang mirip, tapi implementasinya sangat berbeda. Banyak orang dan media menggunakan trik ini untuk meyakinkan orang lain. Bagi orang awam, pasti akan mudah terjebak ketika berdiskusi atau membaca tulisan yang menggunakan metode ini.

Kita seharusnya menarik kesimpulan dari fakta (MKDF); Ada fakta, lalu kita kaitkan, sehingga kita dapatkan kesimpulan yang sesuai dan objektif. Bukannya malah menarik fakta dari kesimpulan (MFDK); Kita sudah punya kesimpulan di awal, lalu tinggal dihubung-hubungkan dengan fakta yang “sesuai” dengan kesimpulan kita, sedangkan “fakta” yang tidak sesuai tidak ditampilkan.

Di media dan internet banyak sekali tulisan seperti ini – menarik fakta dari kesimpulan. Mungkin pernah baca juga humor mengenai “reaksi dunia atas tenggelamnya kapal Titanic” atau mengenai “Mengapa ayam menyebrang jalan”. Di sana diceritakan berbagai pandangan tokoh-tokoh dunia tentang penyebab suatu masalah terjadi. Namun pada joke ini, mereka – tokoh-tokoh di cerita itu – tidak mengambil kesimpulan dari fakta yang ada, melainkan mencari-cari fakta lain yang sesuai dengan kesimpulan mereka.

Hal demikian bisa jadi hal yang lucu dan menarik untuk dibahas (seriously, these are the kind of jokes that I like the most :lol:). Namun jika digunakan di tempat yang salah, bisa jadi kekacauan, apalagi di ranah politik dan hukum. Dan itu terjadi sekarang ini. Banyak orang dan tulisan di media melakukan MFDK. Mereka mengkaitkan fakta-fakta yang ada untuk menggiring masyarakat agar memiliki pandangan yang sesuai dengan kesimpulan mereka.

Ambil contoh; ada sebuah masalah, yaitu ada teroris meledakkan bom di hotel di Jakarta. Lalu ada “pihak” yang punya kesimpulan di awal bahwa “Islam adalah teroris” dan ingin menggiring opininya lewat media. Maka jadilah penarikan fakta-fakta dari masalah ini, sehingga fakta yang ditampilkan akan seperti berikut dan akan membuat masyarakat beropini sebagai berikut:

  • Teroris (X) diketahui beragama Islam >> opini masyarakat: orang Islam adalah teroris
  • X pernah berhuibungan dengan Al-Qaeda >> opini masyarakat: Al Qaeda adalah teroris
  • X sering sholat di Mesjid Al-Hikmah (maaf, kesamaan nama bukan hal yang disengaja) >> masjid Al-Hikmah adalah mesjidnya teroris
  • X pernah sekolah di pesantren A, madrasah B, dst >> pokoknya itu semua teroris

Sedangkan fakta-fakta yang tidak ditampilkan mungkin sebagai berikut:

  • X pernah berkunjung ke US untuk studi mengenai agama (bisa jadi akidahnya berubah di sini)
  • X pernah dilatih merakit bom oleh agen CIA secara rahasia (dan diberi tugas spesial melakukan pengeboman di salah satu kota di Indonesia)
  • X adalah anak buah Mr.XXX

Maka jelas akibatnya masyarakat akan tergiring ke opini sesuai fakta yang ditampilkan ke publik.

Akibat buruk lain dari MFDK ini juga banyak contoh realnya. Orang-orang banyak percaya bahwa invasi Israel ke Gaza adalah untuk membasmi teroris Hamas, padahal mereka (Israel) sedang menjajah tanah Palestina. Orang-orang percaya bahwa nuklir Iran adalah ancaman, padahal itu sekedar penelitian. Orang-orang percaya bahwa Antasari bisa dihukum mati, padahal 10 dakwaan kepadanya hanyalah fakta-fakta yang “dipaksakan” muncul karena JPU sudah punya kesimpulan di awal. Orang-orang percaya bahwa SBY sedang berusaha menaikkan popularitas dengan membuat album baru, padahal (mungkin saja. mungkin lho, awak juga ga terlalu percaya sie) dia sedang berusaha merangkul pemuda Indonesia untuk mempunyai keyakinan & cita-cita bersama dalam membangun negeri.

Wallahu alam

Tulisan ini dibuat agar kita bisa lebih “waspada” dan objektif dalam membaca berita, mendengan seminar & pidato, serta saat berdiskusi. Jangan sampai kita tidak melakukan objektifikasi masalah sehingga malah ikut terbawa arus opini lawan bicara kita/tulisan yang dibaca.

Advertisements