Area X, cinTA, century

Dah lama ga ngeblog, eh tiba-tiba nulis postingan yang panjang. wuih,,Liburan yang singkat, baru selesai kuliah terakhir tapi udah harus daftar ulang lagi. Dan ternyata salah satu hikmah yang didapat ialah kalo ane lepas dari kompi bisa membuat pemanfaatan waktu jadi lebih produktif. Hehe, pantesan TA ga mulai-mulai. Emang harus disita dulu kayanya nih leptop 😛

Okey, emang cuma 3 hari sie. Tapi ternyata liburan kemaren bisa nyelesein dua buku. Salah satunya novel berjudul Area X: Hymne Angkasa Raya. My gratitude to Dhila for giving me this book. Karena disuruh ngereview juga, maka muncullah tulisan ini 😛 .  Buku ini ditulis oleh Eliza V. Handayani. Buku ini adalah hasil revisi keempat dari buku awalnya, yang dibuat berdasar naskah yang telah memenangkan lomba penulisan naskah film tahun 1999. Diterbitkan oleh DAR! Mizan tahun 2003.  Kalau suatu saat dijadikan referensi tugas akhir, maka sesuai standar penulisan APA (American Psychological Association), pada daftar pustaka harus ditulis dengan format berikut :

Handayani, E. V. (2003). Area X: Hymne Angkasa Raya. Bandung: DAR! Mizan.

Kalau tidak ditulis, maka jangan kaget kalau penelitian dapat digugat dengan tuduhan plagiat. MasyaAllah. Kenapa jadi nyambung ke TA ye? Hehe. Kembali ke TKP deh

Dimulai dari kasus kriminalisasi para pimpinan KPK; Antashari Azhar, Chandra Hamzah, dan Bibit Slamet Riyanto. Menurut saya mereka sepertinya hanyalah korban dari rekayasa besar para koruptor negeri ini yang melakukan pergerakannya seperti mafia profesional. Semoga dapat kembali berkontribusi dalam pemberantasan korupsi negeri ini.

Continue reading

Pelangi & Mimpi?

Belum lama ini nyewa pisidi – bukan saya sie, tapi orang lain, saya mah ikutan nontonnya ajah 🙂 – lalu menonton film laskar pelangi (kemane aje Mas baru nonton? Haha). Yah,, emang ga terlalu suka baca novel maupun nonton pelm. Novelnya Fransis* – entah ini nama aslinya atau ini yang nama lainnya Andrea Hirata atau kedua nama ini sama-sama asli atau palsu – ini pun belum pernah aye baca.

Tapi waktu nonton filmnya, ada seorang tokoh yang membangkitkan kenangan masa lalu. Pertama nonton sie ni film biasa aja, bahkan hampir ga ngerti alur ceritanya. Tokoh-tokohnya pun kurang tergambarkan sifatnya – mungkin karena terlalu banyak “orang penting” yang ingin diceritakan – sehingga ga sempet nangkep setiap karakter masing-masing orang. Tapi ketika adegan yg termasuk di bagian akhir film ini, ada sesuatu yang menarik, mengingatkan masa kecil dulu, karena hampir sangat persis kejadiannya. Continue reading