Sejarah Ngeblog

Oke, jadi ceritanya 3 hari terakhir ini saya buntu mau posting apa di blog ini. Pikiran susah mikirin yang lain selain ‘itu’. Tapi karena harus ada yang ditulis sebagai bagian dari #postaday2011 , maka saya akan tetep ngeposting di blog. Selama ini saya nyoba cari sendiri tentang topik apa yang mau ditulis, tapi kali ini karena udah mentok saya pake aja salah satu ide dari blog dailypost.wordpress.com 🙂

Jadi Topiknya adalah “Why do you start?“; What made you decide to start a blog? If you’ve blogged about this before, go back and read it. Is that still the reason? What’s changed?

Hmm,, buat ngejawab pertanyaan ini,saya coba mulai merunut saat pertama kali ngebuat blog. Blog pertama yang saya bikin itu di multiply tahun 2006. Dulu itu ga tau awak apa itu blog dan ga tau multiply itu buat apa. Karena baru ada akses internet murah dari kampus, saya jadi lebih sering online, hampir setiap situs yang ada pilihan “sign up” itu saya cobain 😛 . Salah satunya yaa multiply itu. Tapi masalah berikutnya adalah, multiply adalah salah satu situs yang dihambat aksesnya oleh kampus karena kebanyakan dipakai buat ngedonlot mp3, jadi situs ini sekelompok ama friendster. Dulu itu juga saya ga tau kalo multiply bisa jadi tempat donlot mp3 dan ga tau kalo termasuk situs yang dihambat aksesnya. Walhasil, setiap kali nyoba ngedit-ngedit, yang ada cuma gregetan karena aksesnya yang llllaaamma, jadilah itu blog yang terbengkalai selama berbulan-bulan 😀

multiply
Jadi, jawaban pertama tentang pertanyaan mengapa saya mulai ngeblog adalah coba-coba, itu juga kalau yang didefinisikan dengan ngeblog adalah “mempunyai blog”. Nah, terus kapan dong mulai ngeblog dengan sebenar-benarnya ngeblog (istilahnya ga banget ye 😛 )?

Kali ini berlanjut di tahun 2007. Ini dimulai saat ada akses internet unlimited di asrama ppsdms (yeah,, udah ga ada lagi hambatan ngakses prenster 😛 ). Tapi, berhubung ni asrama punya visi misi masa depan untuk mencetak futur leader, eh future leader, maka adanya internet pun diupayakan untuk memberikan kebaikan sebesar-besarnya bagi Indonesia (haiahhh). Dan salah satu konsep yang digulirkan adalah dengan membuat blog.

Walhasil dibuatlah akun di wordpress ini dan satu lagi di blogspot (dhimasln.blogspot.com), karena dua itu adalah provider blog gratisan yang lebih keren dibanding multiply. Awalnya lebih cenderung make blogspot karena bisa diotak-atik dengan lebih leluasa, tapi mulai beralih ke WP karena jauh lebih user friendly dan fiturnya semakin banyak.

 

dulu sering ngebandingin antara wordpress dengan blogger (blogspot)

So, alasan memulai ngeblog di generasi kedua dunia blog adalah karena ngeblog adalah program asrama, dan karena ada akses internet gratis. Sebenarnya program itu ga wajib sie, tapi karena saya orang yang suka nyoba-nyoba, toh akhirnya dibuat juga & terus diapdet blognya sampai sekarang 🙂 . Oia, dulu itu judul blog pertama saya di blogspot dan wordpress ini adalah, “Perjalanan mencari ridho-Nya,,, dan yang diridhoi-Nya” sebelum diganti judulnya. Ternyata sampai sekarang status saya masih dalam mencari yang diridhoi-Nya 😛

Lalu cerita pun berlanjut. Ternyata ada situs lagi yang disebut dengan situs tempatnya ngeblog selain di multiply, blogspot, dan wordpress. Sebutlah ini generasi ketiga dan keempat ngeblog saya, yaitu situs mikroblogging twitter (@dhimasln) yang dibuat April 2009, dan kompasiana (kompasiana.com/dhimasln) dibuat oktober 2009. Kenapa saya ngebuat akun di dua situs ini adalah karena saya sudah ga gaptek lagi kayak dulu 😛 , jadi bukan cuma karena coba-coba atau karena dipaksa.

 

profil kompasiana/dhimasln

Untuk kali ini, twitter dan kompasiana tidak membuat saya meninggalkan kekasih lama saya di wordpress. Mereka hanya sebagai penambahan saja. Masih-masing situs punya kelebihan sendiri. WordPress yang lebih enak buat eksistensi, kompasiana buat diskusi, dan twitter yang lebih sederhana.

Sekian sejarah ngeblog bung dhimaskasep nu kasep pisan 🙂

Advertisements

Biografi Gamais ITB

Ga ada di sini, adanya di blog bung Ardhesa.
Berikut link-nya

BIOGRAFI GAMAIS ITB

Pendahuluan
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/pendahuluan-biografy-of-gamais-itb.html

Sebelum Bercerita
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/sebelum-bercerita-biografy-of-gamais.html

Sekilas Sebelum Gamais Terlahir
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/sebelum-gamais-terlahir-sekilas.html

Sesaat Sebelum Gamais Terlahir
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/sesaat-sebelum-gamais-terlahir-biografy.html

Detik-Detik Kelahiran Gamais ITB
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/detik-detik-kelahiran-gamais-itb.html

Awal dari Gamais
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/setelah-terlahir-ini-awal-dari-gamais.html

Ketika Gamais Harus Memilih
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/ketika-gamais-harus-memilih-biografy-of.html

Masa Reformasi Gamais Semakin Menjadi
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/masa-reformasi-gamais-semakin-menjadi.html

Sewindu Berlalu Semakin Melaju
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/sewindu-berlalu-semakin-melaju-biografy.html

Berbenah, Mencoba Menjadi Lebih Baik
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/berbenah-mencoba-menjadi-lebih-baik.html

Tak Hanya Melaju, Tetapi Juga Mengakar
http://ardhesa.blogspot.com/2009/05/tak-hanya-melaju-tapi-juga-mengakar.html

Kini ku berdamai dengan “kompeni”

350 tahun lamanya – sejumlah itulah yang disampaikan semua guru sejarah saya di sekolah dulu – Belanda mendjadjah negeri ini. Pelajaran ini pun selalu diulang berulang kali yang semakin diulang maka semakin “percaya diri”lah para murid yang dapat menghafalnya (padahal ia adalah bagian dari bangsa yang terjajah itu). Lalu saya mulai menyadari bahwa ada sedikit kesalahan pemahaman sejarah ketika melihat film-film tentang perjuangan pahlawan kita di masa lalu, bahwa mereka (tokoh di film itu) lebih sering menyebut Belanda dengan sebutan “kompeni”.

Banyak anak kecil yang diajari pelajaran sejarah di sekolah dasar, termasuk saya, menganggap bahwa pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia. Padahal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) – yang saya hanya tahu arti kata terakhirnya yang berarti perusahaan (company; dibaca: kompeni) – mereka lah yang berperan besar dalam “menguasai” SDM & SDA negeri ini di masa lalu. Walaupun dalam bayangan saya sebagai seorang teknik industri – jika saya sebagai orang Belanda – maka saya akan menganggap apa yang saya lakukan di negeri Indonesia adalah “memberikan lowongan pekerjaan kepada penduduk setempat”, sebuah pekerjaan yang sangat mulia tentunya 🙂 .

Tetapi bukanlah sejarah masa lalu yang coba saya bahas di sini. Tiga setengah abad lamanya kompeni menguasai perekonomian di Indonesia haruslah menjadi pelajaran – tak hanya sejarah – bagi bangsa ini. Kita dapat lihat bahwa banyak kemajuan yang diberikan para pengelana eropa ketika mereka mencapai daratan Indonesia. Pertama ialah bangunan, yang masih sangat banyak karya yang dibuat oleh Belanda masih bertahan hingga saat ini, menjadi museum dan gedung pemerintahan. Gedung Sate, Istana Bogor, dan lain sebagainya menjadi contoh bangunan megah yang pembuatannya “diajarkan” para kompeni kepada Indonesia dengan sistem learning by building. Mereka juga telah mengilhami perubahan rumah kayu yang biasa terlihat di jaman kerajaan Syailendra & Majapahit, menjadi rumah berbahan beton & semen. Sebuah karya sipil yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia.

Selain bangunan, kita juga melihat suatu karya sipil lain yang masih dipakai sampai sekarang. Jika kembali mengingat sejarah Daendles beserta jalannya, maka sekarang kita mengenal jalur pantura sebagai alternatif jalur terbaik yang dipilih jutaan warga Indonesia pada saat menjelang lebaran. Bayangkan jika Daendless dahulu tidak membangun jalan pantura ini, mungkin kemacetan saat mudik akan jauh lebih parah dari sekarang. Lihat saja kondisi manajemen perhubungan dan transportasi yang sangat banyak buruknya (ups, maaf. Bukan bermaksud menyalahkan menhub, tapi inilah yang saya lihat).

Juga kita tahu bahwa sistem pendidikan (sekolah) yang kita kenal saat ini berasal dari Belanda. Institut Teknologi Bandung, tempat saya berada sekarang ini, juga salah satu “kampus belanda” yang dahulu dikenal dengan nama Technische Hooge School te Bandoeng (THS) . Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan? Sudah saatnya bangsa Indonesia membuka diri dan “berdamai dengan kompeni Belanda” di era globalisasi ini. Aku ingin studi di Belanda dan akan kembali menjadi Soekarno-Soekarno baru di negeri ini.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://al-amien.ac.id/2008/12/30/menjadi-indonesia-merumuskan-identitas-kebangsaan-dengan-diskursus-pascakolonia
http://delapanlima.wordpress.com/2008/04/09/sejarah/