Mengecek kebiasaan ngenet dengan Google Web History

Baru tahu ada situs ini. Di Google Web History (https://www.google.com/history/), kita bisa melihat rangkuman aktivitas berinternet kita. Termasuk apa yang kita search, apa yang di-klik, waktu di saat kita browsing, dan seterusnya.

ScreenCapture Google Web history (/trends) dhimasln

Kalau contoh gambar di atas adalah hasil dari trends setahun terakhir. Di sini dapat terlihat query yang paling sering dipakai, situs yang paling sering dikunjungi, juga link yang paling sering di-klik. Sedangkan grafik menunjukkan kalau saya sering ngenet di Bulan Desember dan paling jarang di bulan Juni dan November. Kalau dianalisis sekilas sie, bulan Juni itu waktunya liburan semester, sedangkan November itu biasanya ada liburan Ramadhan.

Dari data ini juga kita bisa mengetahui kebiasaan kita. Misalnya saya yang ganteng ini ternyata paling sering men-search di internet di hari senin, sedangkan hari lainnya hampir sama. Paling ‘sibuk’ ngenet di pagi hari jam 8, serta di sekitar jam 11 malam. Waktu yang jarang dipakai untuk berinternet adalah jam 12 siang sampai jam 13. dst dst

A_239

Dengan data seperti ini, seseorang dapat terbantu jika ingin mengontrol kebiasaan berinternetnya. Apalagi kalau orangnya seperti saya yang sering lupa makan waktu. Walaupun sepertinya ada kelemahan karena situs ini tidak bisa melihat seberapa lama kita mengakses tiap situs. Misalnya orang lebih lama mengakses situs seperti email, twitter, fb, & rss reader; padahal yang membuat paling betah yaa situs-situs itu.

Yah,, semoga saja bisa memanaje waktu untuk berinternet kita dengan lebih baik.

Advertisements

Stats

Cuma pengen bilang, jumlah pengunjung saat libur panjang kemarin berkurang sampai 50% lebih.

Tips Memilih versi expert (untuk simpatisan partai tertentu yg ga tahu siapa calon di dapilnya)

Jika anda merupakan simpatisan partai tertentu, berada di dapil tertentu, namun tidak tahu harus mencontreng siapa, maka yang disarankan adalah hal ini:

Pilih / tandai caleg yang berada di tengah ke bawah. (misal ada 10 caleg partai X di dapil anda, maka tandai di nomor 6 atau 5/7/4/8/9/10

Berikut analisisnya secara statistik:

– Kemungkinan suara yang didapat salah satu partai di dapil tertentu berdistribusi exponensial seperti di atas. Dimana A~I adalah caleg-calegnya sesuai dengan nomor urut. Di sini diasumsikan caleg dengan nomor urut teratas biasanya mendapat suara lebih banyak, makanya bentuk distribusinya akan seperti ini.

– Sebagian besar orang yang masih bingung siapa calegnya akan memilih tiga orang nomor urut teratas ataupun memilih partainya. Hal ini mengakibatkan caleg yang sudah pasti lolos dari partai ini hanyalah yang berada di nomor urut atas (sekitar 1/5 teratas), sedangkan caleg yang lain perlu “didongkrak” dari sisa suara yang memilih partainya (suara yg berwarna hitam kalau di grafik).

– Kemungkinan besar (karena saya bukan orang partai), kebijakan dari partai dalam meloloskan caleg yg belum lolos ialah memprioritaskan caleg yang memiliki suara tertinggi. Dari sini kemungkinan besar didapatkan sekitar 3 caleg (sekitar ¼) lagi yang lolos

– Yang paling disayangkan ialah suara yang “berlebih” yang diperoleh calon-calon yang sudah pasti lolos (kalau dalam grafik ialah yang ada di dalam kotak berwarna biru). Suara ini menjadi tidak terpakai, bukan begitu saudara?

INTINYA (duh awak lagi males nganalisis, jadi to the point aja dah. Haha. Yang mau meneruskan analisa statistiknya monggo 😀 ). Maksud utama yang ingin saya sampaikan ialah daripada anda memilih orang yang paling terkenal (yang biasanya berada di nomor urut atas), lebih baik anda mencontreng sesuai prioritas sebagai berikut (tanpa mempertimbangkan memilih langsung pada partainya);

  1. Caleg yang berada di tengah kanan
  2. Caleg yang berada di sebelah kanannya (dari prioritas 1)
  3. Caleg yang berada di sebelah kanannya lagi (prioritas 2)
  4. Caleg yang berada di sebelah kiri (dari prioritas 1)
  5. Dst

Kalau dalam contoh, prioritasnya ialah F–G–H–E–D–C–B–I–A

Sekian penjelasannya. Cara ini berlaku jika hanya sebagian orang saja yang mengerti statistik. Jika semuanya ngerti, malah jadi kacau (baca: bentuk grafik tidak akan berdistribusi eksponensial karena rakyat banyak milih yg tengah-tengah)

Wallahu alam

Dari orang sotoy yang mendalami ilmu statistik selama 3 semester