Facts Behind “Belanda”

  • Belanda itu sebutan dari orang Indonesia kepada negara Netherlands.
    Jadi jika anda bertanya kepada orang Belanda di Belanda, “Are you Belanda’s?”, kemungkinan mereka ga ngerti. Kata Belanda diambil dari bahasa Portugis Holanda -> olanda -> wolanda -> bolanda -> “Belanda“. Jauh banget ga seeh? Haha
  • Percayalah, sebagian besar orang Indonesia lebih mengenal Ajax Amsterdam daripada Ibukota Belanda.
  • Technische Hooge School te Bandoeng (THS) merupakan bahasa Belanda yang berarti : Institut Teknologi Bandung (ITB) 😀 . Dan ada sekitar 20ribu orang sedang menuntut ilmu di sini (termasuk saya 🙂 )
  • Jika pakai name generators, kurang lebih nama Belanda saya akan menjadi Dhimas Van Der Zuardinur (Dhimas Lazuardi Noer). Atau lebih mudahnya ingatlah coklat bermerk Van Houten
  • Jika anda mencari kata “Belanda” di en.wikipedia, maka akan ditemukan artikel ini :
    Belanda Bor is an ethnic group of Southern Sudan. They speak the Belanda Bor language, however most are bilingual in Belanda Viri. They number around 33,000 and follow mostly traditional religions.
    Jadi,,,, Belanda itu seharusnya berada di Sudan. 🙂
  • Tulip itu berasal dari asia, namun mengapa bisa terkenal di Belanda? Ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?
  • Percaya ga percaya, orang Belanda menempuh puluhan ribu kilometer perjalanan laut hanya untuk lada, bawang merah, dan konco-konconya. Padahal jika kita lihat di globe, maka Belanda itu berada sekitar 1800 dari Indonesia alias mereka pergi ke negeri terjauhnya untuk bahan dasar bumbu dapur itu. luarrr biasaa!!!
  • Jika mendengar kata “Dutch”, saya langsung ingat kepada “the flying Dutchman”, salah satu tokoh di SpongeBobSquarePants.

Yah,, itulah beberapa point tentang Belanda yang saya ketahui. Cukup banyak keunikan untuk sebuah negeri kecil di daerah eropa itu. Masih banyak misteri di luar Indonesia sana yang ingin kita jamah dan menarik untuk diketahui bersama.

Netherlands, yang secara harfiah berarti “tanah rendah”, dimaksudkan untuk sebuah negeri yang letaknya berada di bawah permukaan laut. Namun mengapa mereka bisa bertahan sedangkan di Indonesia malah terjadi musibah hanya karena tanggul sebuah bendungan yang jebol?.

Kita (Indonesia) haruslah banyak belajar dari negeri lain. Pergi ke luar negeri janganlah hanya dijadikan hiburan pariwisata ataupun membangun diplomasi politik saja, tapi juga perlu dijadikan kesempatan untuk belajar dan menerapkan ilmu yang didapat. Tentunya agar bangsa Indonesia ini tak hanya jalan di tempat karena tertutup dari komunitas global, melainkan haruslah menjadi inovator-inovator baru peradaban untuk Indonesia dan dunia yang lebih baik.

Tak banyak orang yang saya kenal pernah belajar di Belanda. Di ITB ada dua orang dosen yang pernah menuntut ilmu di negeri tulip itu. Yang pertama ialah Bu Rajesh, dengan nama lengkap Rajeshri Govindaraju. Seorang keturunan India yang ahli di bidang sistem informasi. Beberapa kali beliau berbagi pengalaman tentang studinya di Belanda dan memang cukup menarik, karena beliau dan saya memiliki interest yang mirip yaitu teknik industri dan informatika.

Orang kedua yang saya kenal ialah Pak Elfahmi, dengan nama lengkap Elfahmi, dan nama panggilan Elfahmi (boleh diteruskan dengan; nama depan, nama belakang, nama tengah, dst yang memberikan kombinasi huruf yang sama,, 😀 ). Beliau adalah seorang dosen farmasi yang saya juga cukup dekat dengannya. Kalau Bu Rajesh lebih mengenai studi di Belanda, pak Elfahmi lebih sering bercerita tentang keadaan lingkungan di Belanda. Bagaimana pergaulannya, sistem pemerintahan, kondisi masyarakat yang liberal, dan berbagai pengalaman unik lainnya.

Saya berharap dengan banyaknya studi di luar negeri, khususnya Belanda, dapat menjadikan sebuah tiket menuju komunitas global. Komunitas global bagi saya bukanlah sebuah komunitas yang tersekat-sekat lagi antar warga negara, ras, suku, wilayah, dan sebagainya. Sudah saatnya kita menjalin sebuah hubungan internasional antar seluruh manusia di Bumi ini.

.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://image.com.com/gamespot
http://en.wikipedia.org
http://itb.ac.id

Advertisements

Kini ku berdamai dengan “kompeni”

350 tahun lamanya – sejumlah itulah yang disampaikan semua guru sejarah saya di sekolah dulu – Belanda mendjadjah negeri ini. Pelajaran ini pun selalu diulang berulang kali yang semakin diulang maka semakin “percaya diri”lah para murid yang dapat menghafalnya (padahal ia adalah bagian dari bangsa yang terjajah itu). Lalu saya mulai menyadari bahwa ada sedikit kesalahan pemahaman sejarah ketika melihat film-film tentang perjuangan pahlawan kita di masa lalu, bahwa mereka (tokoh di film itu) lebih sering menyebut Belanda dengan sebutan “kompeni”.

Banyak anak kecil yang diajari pelajaran sejarah di sekolah dasar, termasuk saya, menganggap bahwa pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia. Padahal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) – yang saya hanya tahu arti kata terakhirnya yang berarti perusahaan (company; dibaca: kompeni) – mereka lah yang berperan besar dalam “menguasai” SDM & SDA negeri ini di masa lalu. Walaupun dalam bayangan saya sebagai seorang teknik industri – jika saya sebagai orang Belanda – maka saya akan menganggap apa yang saya lakukan di negeri Indonesia adalah “memberikan lowongan pekerjaan kepada penduduk setempat”, sebuah pekerjaan yang sangat mulia tentunya 🙂 .

Tetapi bukanlah sejarah masa lalu yang coba saya bahas di sini. Tiga setengah abad lamanya kompeni menguasai perekonomian di Indonesia haruslah menjadi pelajaran – tak hanya sejarah – bagi bangsa ini. Kita dapat lihat bahwa banyak kemajuan yang diberikan para pengelana eropa ketika mereka mencapai daratan Indonesia. Pertama ialah bangunan, yang masih sangat banyak karya yang dibuat oleh Belanda masih bertahan hingga saat ini, menjadi museum dan gedung pemerintahan. Gedung Sate, Istana Bogor, dan lain sebagainya menjadi contoh bangunan megah yang pembuatannya “diajarkan” para kompeni kepada Indonesia dengan sistem learning by building. Mereka juga telah mengilhami perubahan rumah kayu yang biasa terlihat di jaman kerajaan Syailendra & Majapahit, menjadi rumah berbahan beton & semen. Sebuah karya sipil yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia.

Selain bangunan, kita juga melihat suatu karya sipil lain yang masih dipakai sampai sekarang. Jika kembali mengingat sejarah Daendles beserta jalannya, maka sekarang kita mengenal jalur pantura sebagai alternatif jalur terbaik yang dipilih jutaan warga Indonesia pada saat menjelang lebaran. Bayangkan jika Daendless dahulu tidak membangun jalan pantura ini, mungkin kemacetan saat mudik akan jauh lebih parah dari sekarang. Lihat saja kondisi manajemen perhubungan dan transportasi yang sangat banyak buruknya (ups, maaf. Bukan bermaksud menyalahkan menhub, tapi inilah yang saya lihat).

Juga kita tahu bahwa sistem pendidikan (sekolah) yang kita kenal saat ini berasal dari Belanda. Institut Teknologi Bandung, tempat saya berada sekarang ini, juga salah satu “kampus belanda” yang dahulu dikenal dengan nama Technische Hooge School te Bandoeng (THS) . Maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan? Sudah saatnya bangsa Indonesia membuka diri dan “berdamai dengan kompeni Belanda” di era globalisasi ini. Aku ingin studi di Belanda dan akan kembali menjadi Soekarno-Soekarno baru di negeri ini.

artikel studi di belanda [seri 1, seri 2]

sumber gambar:
http://al-amien.ac.id/2008/12/30/menjadi-indonesia-merumuskan-identitas-kebangsaan-dengan-diskursus-pascakolonia
http://delapanlima.wordpress.com/2008/04/09/sejarah/