Tangisan Lazuardi

Senja ini kulihat lazuardi menangis
Entah apa yang ia tangisi
Mungkin sedih melihat kondisi negeri ini
Korupsi yang masih merajalela
Pemberantas korupsi berusaha dikriminalisasi oleh ‘pemberantas’ korupsi lainnya
Atau karena pemadaman bergilir yang sering terjadi akhir-akhir ini

Entahlah, aku tidak tahu
Yang jelas air mata tangisannya jatuh ke banyak orang
Membuat banyak orang kebasahan
Membuat banyak orang berteduh
Membuat banyak orang melindungi kepalanya
Membuat banyak orang melindungi barang bawaannya
Membuat banyak orang memayungi orang lainnya untuk sekedar mencari nafkah hariannya

Itulah tangisan lazuardi
Seringkali kita hanya melihat buruknya
Padahal banyak sekali hal baiknya

Tangisan lazuardi ditunggu para petani untuk menyuburkan sawah ladangnya
Tangisan lazuardi ditunggu para tumbuhan agar dapat tumbuh besar
Tangisan lazuardi ditunggu para bunga agar dapat mekar dan memberikan keindahan
Tangisan lazuardi ditunggu oleh para binatang untuk menghapuskan dahaga mereka

Tangisan lazuardi ditunggu,
agar kita dapat melihat indahnya sang pelangi dan bersyukur atas kehidupan ini

Advertisements

Beberapa karya WS Rendra

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Puisi di atas merupakan puisi terakhir WS Rendra yang belum memiliki judul.

Berikut adalah pusi yang pernah saya dengan di kampus

sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

Juga salah satu bagian yang cukup saya suka dari sajak paman doblang dan ditampilkan sebagian di halaman about

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
dan Perjuangan adalah pelaksanaan kaTA-kaTA

Selamat jalan W S Rendra……

ʞɐloq balik

ʞıɐqɹǝʇ ƃuɐʎ ɐpɐdıɹɐp ʞıɐq ɥıqǝl ıpɐɾuǝɯ ʞnʇun
ʞıɐq ɥıqǝl snɹǝʇ ɐʎuɐɥ
ʞıɐqɹǝʇ ƃuɐʎ ɐpɐ ʞɐʇ ɐuǝɹɐʞ

ʞıɐqɹǝʇ ʇnpns ıɹɐɔuǝɯ snɹǝʇ ʞnʇ
ʇɐɾɐɹǝp 063 ısuǝɯıp ɐƃıʇ
ɐloq ɐdnɹǝq ɥɐlıdɐʇ

ʞnɹnq uɐp ʞıɐq ;ısıs ɐnp ɐʎuɐɥ
ɐlɐdǝʞ uɐp ɹoʞǝ ;ısıs ɐnp ɐʎuɐɥ
uıoʞ ıʇɹǝdǝs ʞılɐq-ʞɐloq uɐʞnq unɯɐu
ʞılɐq-ʞɐloqɹǝʇ uıƃuı dɐʇǝʇ nʞ ıdɐʇ

uɐʞɐdnlıp ɥɐlɐɯ uɐʞɥɐʇuıɹǝdıp ƃuɐʎ
uɐʞɐɾɹǝʞıp ɥısɐɯ ƃuɐɹɐlıp ƃuɐʎ
ʞıɐq dɐƃƃuɐıp ʞıɐq ʞɐʇ ƃuɐʎ
ʞıɐq ʞɐʇ dɐƃƃuɐıp ʞıɐq ƃuɐʎ
ʞılɐq-ʞɐloqɹǝʇ ıʇɹǝdǝs ɐıunp

ʞılɐq-ʞɐloq

Continue reading

hidup

wahai hidup,
mengapa kau begitu penuh misteri
pertanyaan-pertanyaan terus mengiang di benakku
sungguh tlah ku coba mencari jawabnya
tapi tak juga kutemukan hingga detik ini

dimanakah letak jawaban itu?
apakah jawabnya di ujung langit?
kita kesana dengan seorang anak
anak yang tangkas dan juga pemberani?

tapi tak kutemukan apa-apa di langit sana
hanyalah kulihat serakan awan kumulonimbus yang bergerak berarak
membawa butiran air tuk menyirami tanah tandus
atau berupa awan di kegelapan malam
yang menghalangi kelap-kelip cahaya bintang

oh dunia, apakah memang engkau yang aku cari?
ataukah kumpulan bintang yang bercahaya?
namun kulihat cahaya bintang itu dikalahkan oleh sinar rembulan
apakah bulan itu yang aku cari?
namun kulihat pula sinar bulan terganti oleh cahaya matahari
apakah matahari itu yang aku cari?
namun kembali kulihat matahari itu pun tenggelam di ufuk barat

lalu gerangan apakah zat abadi yang kucari?
dimana ku dapat menemukannya?
atau jangan-jangan, Ia memang tidak jauh
bahkan lebih dekat dari urat leherku

wahai, Tuhan Pencipta Langit dan Bumi
sungguh banyak dosa yang tlah ku perbuat
hanyalah tobat yang mungkin dapat ku lakukan
dan Engkaulah yang berhak ‘tuk memaafkan

dhimas
-bukan pujangga yang pandai merangkai kata-
-di suatu malam 3-3-09-