Lir-Ilir

Lir-ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotira

Dodotiro, dodotiro
kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jumlotono
Kanggo seba mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane

Yo surak-o,,, surak hiyo,,

Malam-malam menyimak #kultwit nya ust Salim A. Fillah tentang Lagu ilir-ilir. Ini adalah lagu yang sering saya dengar karena suka dinyanyikan oleh ibu saya sewaktu kecil. Waktu itu saya sama sekali ga tau makna lagu ini. Hanya bisa mendengar senandungnya yang merdu dan liriknya yang mudah dihafal.

Yang saya baru tahu, ternyata lagu ini berhubungan dengan sunan Kalijaga. Lagu ini menceritakan dakwah salah satu walisongo ini pada saat berseminya dakwah Islam di abad XV. Ternyata makna lagunya pun sangat indah, jadi pengen nangis 😥 .

Advertisements

Tek kenal, maka tetep sayang

kalo ada yang bilang “Tak kenal maka tak sayang“, sesungguhnya ini merupakan filosofi yang salah. Kalau di Islam, kenal ataupun tidak kenal seharusnya bisa tetap sayang.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al Hujurat : 13)

makanya yg baik itu “Ta’ kenal maka ta’aruf” (ta’aruf dalam artian yang luas yaa,, bukan ta’aruf yg “itu” 😀 ). Continue reading